Oleh: Poetry Ann

cover-gastrod

 

========================
Sebelum membaca ini persiapkan napas dulu karena tulisan ini begiiiitu panjang. Saya jelaskan secara singkat. Ini potongan tiga bab dari novel saya, Gastrod. Novel bergenre scince fiction. Ini baru draf awal. Hanya potongannya, artinya nggak lengkap, jadi mungkin ketika kamu membaca ini kamu akan merasa ada bagian yang hilang dan nggak nyambung. Saya mulai menulis ini awal tahun 2015 lalu, tapi terlantar. Sampai sekarang saya belum meneruskannya. Naskahnya sudah sampai 59 hlm. Dan saya mulai mempertimbangkan untuk melanjutkannya kembali. Tapi, tentu saja karena saya sudah lama meninggalkannya, fokus saya sudah hilang, mood saya sudah hillang, keterikatan saya terhadap naskah ini juga hilang. Jadi, untuk itulah saya perlu membaca ulang novel ini dari mulai membaca outline-nya, catatan tentang karakter seluruh tokohnya, juga naskahnya dari awal. Alasan saya membagikan potongan dari tiga bab ini? Nggak ada alasan, pemborosan. Ini hanya soal kesenangan. Anggap saja ini hadiah dari saya buat kamu. Happy weekend! ^^
Baca pelan-pelan.
========================
POTONGAN DARI BAB 1
 

 
“Naikkan volumenya!” Lelaki tambun dengan kepala berkilat tertimpa pantulan cahaya biolamp berukuran besar yang melayang lima belas meter di atasnya bergerak cepat menuju tuts pengontrol yang berada tepat di tengah ruangan. Jemarinya bergerak melebihi kecepatan biasanya. Berusaha mengendalikan gelombang suara yang tertangkap sonar, yang tengah dimodifikasinya tadi.
 
Sonar yang tengah dimodifikasinya itu mestinya hanya berfungsi menangkap gelombang suara dalam air. Tapi, ia menangkap ada ketidakberesan dari grafik gelombang suara yang tampak di salah satu sisi dinding kaca SPD yang digunakan untuk melapisi seluruh permukaan ruangan yang menjadi bagian dari sebuah laboratorium bawah tanah, yang sejak lima tahun lalu dijadikan markas organisasi underground yang didirikannya bersama istri dan seorang kawannya semasa kuliah di Cambridge University. Di mana tepat di atasnya, sampai sekitar satu abad lalu, berdiri gereja abad kesebelas, Santo Benediktus, yang kemudian diratakan setelah Bumi dikuasai oleh sekte tanpa agama. Kemudian di atas reruntuhan gereja tersebut ia membangun sebuah galeri lukisan miliknya yang dijadikannya sebagai kedok untuk menyembunyikan laboratorium bawah tanahnya itu. Gelombang suara yang ditangkapnya bukan berasal dari bawah air.
 
Wanita berkerudung tosca di sampingnya lekas mengerjakan apa yang ia minta.
 
Keduanya terpana begitu suara yang tertangkap sonar di hadapannya mulai terdengar jelas. Grafik gelombang suara yang tampak di dinding kaca SPD kembali menunjukkan pergerakan yang signifikan. Mereka sama-sama menajamkan telinga.
 
“Sial! Mestinya kita tak perlu mengalami keadaan nyaris mampus jika saja pesawat larva yang membawa kita ke planet ini tak mengalami kerusakan dan terdampar di sini.” Yang tertangkap pertama kali adalah suara seorang wanita.
 
“Setidaknya kita masih beruntung karena masih bisa bertahan hidup dengan helium dalam balon merah itu. Omong-omong, tubuh si lelaki beruban ini lumayan juga. Masih terasa tangguh meski kelihatannya sudah cukup renta.” Suara kedua mengakhiri ucapannya dengan ledakan tawa.
 
Wanita berkerudung tosca mengalihkan pandangan pada lelaki tambun di sisinya. Melempar tanya lewat isyarat sepasang alisnya yang mengait. Si lelaki tambun menimpalinya dengan gedigan bahu. Tanda kalau ia sendiri belum mengerti maksud dari percakapan barusan.
 
“Oke, berhentilah tertawa. Mengingat keadaan kita yang nyaris mampus tadi, akan lebih baik kalau kita lekas merencanakan langkah selanjutnya. Kita harus segera menemukan ladang gas alam itu. Kita tak tahu sampai kapan helium dalam balon gas merah tersebut bisa kita gunakan untuk bertahan hidup. Hmm…, di mana tempatnya? Aku lupa.”
 
“Kansas, bodoh!”
 
“Oh, ya, aku ingat itu. Aku hanya ingin mengetesemu, Tuan Loconto.”
 
“Aku rasa tempat itu tidak jauh dari sini, Dzoo. Berhentilah bersikap terlalu khawatir. Kita nikmati saja perjalanan ini layaknya pelesiran.”
 
“Pelesiran?” Suara si perempuan terdengar kebingungan.
 
“O-em, aku menemukan kata itu dalam memori lelaki beruban yang tangguh ini. Tampaknya sesuatu yang menyenangkan.”
 
“Dan tampaknya itu pilihan kata yang kurang tepat digunakan untuk situasi kita saat ini.”
 
Si lelaki tambun terkekeh mendengar percakapan tadi, lalu mendengus. “Aku rasa mereka sedang latihan drama. Entah untuk acara apa. Apa pun, aku rasa barusan itu dialog yang buruk.” Ia kelihatan agak kecewa karena hal yang semula dipikirnya akan membuatnya menemukan sesuatu yang penting itu tampaknya hanya lelucon belaka. Sementara si wanita berkerudung tosca di sisinya masih tampak serius menyimak apa yang didengarnya.
 
“Aku rasa mereka tidak sedang latihan drama.” Intonasi suara si wanita berkerudung tosca yang terdengar begitu serius kembali merebut perhatian si lelaki tambun yang baru saja berniat kembali mendekati sonar yang tengah dimodifikasinya. “Dengar apa yang baru saja mereka katakan?”
 
“…. Hm, jadi kita tidak terlalu sial kan terdampar di tempat ini? DR. Keith Orkel, orang paling penting di planet ini tinggal di negeri ini. Nusantara. Kita akan lebih mudah menguasai dan mengendalikannya. Jika dia sudah berada dalam kendali kita, planet ini sudah berada dalam genggaman. Kita bisa lebih mudah menemukan ladang gas alam itu.”
 
“Maaf Tuan Loconto, mungkin maksudmu Indonesia.” Suara si wanita meralat.
 
Orang yang disebut Tuan Loconto tergelak. “Dzoo, manusia yang aku kendalikan ini lebih matang dari manusia yang kau kendalikan. Pengetahuan dan pengalamannya jauh melampauimu. O, maksudku, melebihi manusia yang kau kendalikan itu. Dari memorinya aku tahu, negeri ini, beratus-ratus tahun lalu pernah dilanda ketegangan yang terjadi antara kelompok yang ingin mengubah Indonesia menjadi Nusantara dan kelompok yang menolak keras perubahan nama tersebut. Dan pada akhirnya, negeri ini pernah menyandang nama Nusantara sebelum akhirnya diubah kembali menjadi Indonesia ketika kakek DR. Keith Orkel berhasil menjadi pemimpin tunggal planet ini.”
 
“Baiklah, harus aku akui aku masih berada satu tingkat di bawahmu, Tuan.” Suara si wanita terdengar terpaksa merendah.
 
“Berpuluh-puluh tingkat, Dzoo. Kau mesti belajar berpuluh-puluh tahun lagi jika ingin melampauiku.” Tuan Loconto jumawa. “Omong-omong, perseteruan antara dua sekte di planet ini sepertinya akan menjadi kendaraan yang sangat mengasyikkan untuk mencapai tujuan kita mengambil alih Bumi dan menemukan ladang gas alam yang menyimpan banyak helium itu.”
 
Si lelaki tambun dan wanita berkerudung tosca saling melempar tatapan. Mereka masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Keduanya bahkan sama-sama tak menyadari ketika di salah satu sisi dari dinding kaca SPD yang digunakan ruang tersebut terbuka. Seorang lelaki dengan handband biru transparan—dengan inti menyerupai batu rubi berwarna kuning madu—di pergelangan tangan kanannya yang kerepotan mengapit tumpukan peralatan dalam sebuah kotak cokelat muncul.
 
“Ugh, ya, ampun! Aku tahu kalian sepasang suami istri, tapi please, jangan pamer kemesraan di tempat ini!” desisnya sembari melangkah menuju meja dwifungsinya—yang lebih sering terlihat berantakan—begitu mendapati si lelaki tambun dan wanita berkerudung tosca di hadapannya tengah saling berpandangan.
 
“Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Titan!” Si wanita berkerudung tosca melempar tatapan galak begitu lelaki yang dipanggilnya Titan itu melewati dirinya dan si lelaki tambun di hadapannya.
 
“Titan, kau masih menyimpan visual biodevice yang kita ciptakan tempo hari?” Si lelaki tambun lebih dulu melempar tanya sebelum Titan menimpali ucapan si wanita berkerudung. Sementara jemarinya kembali sibuk berselancar pada tuts pengontrol dalam layar transparan datar di hadapannya.
 
“Visual biodevice?” Titan berusaha mengingat-ingat benda yang dimaksud lelaki tambun yang dibelakanginya. Tiga bulan lalu, benda itu berhasil diciptakan dirinya dan lelaki tambun itu sebelum akhirnya diputuskan masuk dalam daftar penghuni gudang setelah dengan sukses menciptakan kekacauan yang nyaris menghancurkan ruangan yang mereka tempati ini.
 
“Hm, aku rasa masih.” Titan menoleh, “Di gudang.” Dia nyengir, lalu meletakkan kotak cokelat dengan peralatan berjejalan di dalamnya, yang diapitnya tadi, di atas meja dwifungsinya dengan hati-hati.
 
“Ambil kembali! Aku membutuhkan benda itu.”
 
“Maaf?” Titan membalikkan tubuhnya. Memastikan kalau apa yang didengarnya tidak salah.
 
“Kita mesti memperbaiki benda itu kembali, Titan. Sesegera mungkin! Aku ingin tahu mahluk seperti apa yang tengah bernafsu mengendalikan manusia di planet kita ini.”
 
Titan semakin tak mengerti. “Leys, apa yang kau masak untuk suamimu siang ini?” Titan memamerkan senyumnya yang sengaja dipaksa. Bibir tipisnya memanjang seperti garis horizontal yang membentang di bawah grafik gelombang suara yang terpampang kaku di salah satu sisi dinding kaca SPD. Pandangannya beralih ke wanita berkerudung tosca di sisi si lelaki tambun.
 
“Dia tidak sedang mengigau, Titan. Kau harus mendengar ini!” Jemari Leys kembali menyentuh beberapa simbol di atas layar datar transparan yang terpampang sejajar dengan wajahnya. Ia memutar ulang percakapan aneh yang secara otomatis telah terekam di bank data biocomputer yang dioperasikannya itu. Grafik gelombang suara yang terpampang kaku di salah satu sisi dinding kaca SPD tadi kembali bergerak naik-turun tak beraturan, lalu kembali menampilkan pergerakan signifikan. Percakapan antara Loconto dan Dzoo kembali memenuhi ruangan.
 
===================================
POTONGAN DARI BAB 2
 
 
Nik hanya perlu waktu lima belas menit untuk membuat kesan meremehkan yang ditunjukkan Ezra luntur. Ezra dibuat takjub. Kecerdasan pemuda di hadapannya saat itu ternyata melampaui perkiraannya. Sains di tangannya tak lebih hanya sebuah permainan anak-anak semata. Bahkan Sanegio, ilmuan muda sekaligus orang kepercayaan ayahnya yang dikenal paling genius di Laboratorium Kerkorf pun sepertinya bukan tandingannya. Ezra mendengar pengetahuan sains yang belum pernah diketahuinya dari mulut Nik. Selain itu ia juga dibuat terkesiap beberapa saat ketika Nik benar-benar memusatkan tatapannya pada dirinya. Tatapan mata dan garis wajah yang dihiasi tulang rahang tegas itu entah mengapa tampak tidak asing baginya. Untuk sesaat ia merasa tengah berhadapan dengan orang yang telah lama dikenalnya.
 
“Aku mempelajari segalanya dari Al-Quran.” Nik seperti tahu pertanyaan yang meringkus benak Ezra.
 
Ucapan Nik barusan cukup membuat Ezra menemukan alasan untuk mundur beberapa langkah dari hadapan Nik.
 
Al-Quran. Nama itu selalu didengungkan ayahnya sebagai benda paling mengerikan dan begitu mengancam kehidupan manusia di telinganya sejak ia masih kecil.
 
Perang yang mengatasnamakan agama. Insiden bom bunuh diri yang terjadi di Indonesia dan beberapa negara barat di tahun dua ribuan. Runtuhnya gedung World Trade Center di Amerika Serikat pada 11 September 2001 yang memakan ratusan korban jiwa. Jaringan teroris terbesar di seluruh dunia. Juga pembantaian manusia yang mengakibatkan hampir sepertiga dari jumlah keseluruhan manusia Bumi musnah di akhir dua ribuan. Jumlah yang jauh lebih besar dibanding jumlah korban wabah black death dan wabah pandemi lain yang pernah menewaskan hampir sepertiga populasi manusia di Eropa pada abad ke-14.
 
Ayahnya selalu mengaitkan semua tragedi kemanusiaan itu dengan Al-Quran. Jadi, tak terbayang apa yang ada di benak Ezra saat itu. Ezra gentar. Dari pengakuan Nik tadi, Ezra menebak, bukan tidak mungkin kalau Nik termasuk anggota sekte agama.
 
Ezra memang belum pernah melihat langsung penampakan kitab suci dari agama yang pernah menjadi agama terbesar di dunia itu. Tapi, pandangan terhadap Al-Quran dan kitab suci-kitab suci dari agama-agama lain yang ditanamakan ayahnya sejak ia kecil, cukup memberi alasan mengapa dirinya menyetujui aksi ayahnya yang memburu dan menghukum mati orang-orang dari sekte beragama yang kini bergerilya secara sembunyi-sembunyi. Mereka memang sungguh membahayakan. Ancaman paling mengerikan di atas apa pun, pikirnya.
“Kau salah seorang anggota sekte beragama?” Ezra menancapkan tatapannya pada Nik. Entah mengapa ia berharap kalau tebakannya tadi salah.
 
Sayangnya, Nik menjawab pertanyaan Ezra dengan anggukan tegas yang menyatakan kalau tebakan Ezra benar. “Aku seorang muslim,” katanya. Masih dengan ekspresi yang begitu tenang meski dirinya sudah menangkap gelagat ketakutan yang ditunjukkan gadis yang menjadi lawan bicaranya itu.
 
“Tapi, Nona. Kau tak perlu khawatir. Sekte kami tak semengerikan pandangan yang ditanamkan ayahmu kepada para pengikut sektemu. Termasuk tentunya padamu. Kau tentu sudah terlalu banyak mendengar cerita-cerita mengerikan tentang sekte kami, bukan? Terutama tentang Islam.” Nik sengaja menghentikan kalimatnya untuk sejenak. Ia penasaran dengan reaksi lanjutan gadis di dekatnya itu.
 
Ezra tercekat dan menegang. Dia tahu siapa aku?
 
Sejak awal ia sudah menduga reaksi seperti itulah yang akan diterimanya dari gadis di hadapannya itu ketika tahu dirinya adalah salah seorang anggota sekte bergama. Nik membalas responnya dengan senyum persahabatan, lalu melanjutkan. “Asal kau tahu, apa yang ditanamkan ayahmu selama ini keliru. Agamaku adalah agama yang mengajarkan perdamaian. Umatnya diperintahkan untuk selalu bersikap jujur, bersikap saling menghargai dan menghormati, dan menyambung silaturahmi. Agamaku bahkan sangat memuliakan wanita. Karena itu percayalah, aku tak akan menyakitimu. Kita bisa berteman kalau kau mau.”
 
Bunyi bip-bip dua kali yang melintas di telinga Ezra mengembalikan kesadarannya. Bunyi itu berasal dari bioparticle hand. Benda serupa jam tangan yang melingkari pergelangan tangan Nik. Nyala kemerehan yang menjadi inti dari benda tersebut mengirimkan sinyal tanda bahaya.
 
Nik waspada. Lekas diaktifkannya sepatu pengendali gravitasi yang dikenakannya. Detik berikutnya, jetlaser yang ditembakan dari arah tenggara menyerbunya. Beruntung, sinyal yang diterima dari bioparticle hand di pergelangan tangannya tadi membuat Nik mampu mengantisipasi serangan tersebut. Lekas ia melayang ke udara. Melesat naik. Membawa serta Ezra di sampingnya.
 
“Apa yang terjadi?” Ketegangan dirasakan Ezra. Ketegangan yang cepat sekali menular ke semua orang yang berada jauh di bawahnya. Dalam sekejap, suara kegembiraan anak-anak berubah menjadi jeritan ketakutan. Para orang tua yang sejak tadi mengawasi anak-anaknya bermain dari bangku-bangku taman berhamburan, berseliweran di udara. Berusaha menjangkau anaknya masing-masing untuk kemudian mencari tempat persembunyian yang aman. Sementara Ezra tolah-toleh ke segala arah tanpa tahu apa yang dikhawatirkannya.
 
Nik mengabaikan pertanyaan Ezra. Ia segera tahu siapa yang menyerangnya begitu matanya menangkap puluhan orang berseragam serba putih dengan garis strip hitam di bagian lengan, juga simbol berbentuk trapesium dengan dua huruf yang saling mengait di tengahnya dari kejauhan.
 
Pasukan Nyamuk Besi? Ezra mengenali mereka. Pasukan itu adalah pasukan khusus ayahnya yang bertugas memberangus segala bentuk pemberontakan dengan bersih.
 
Tubuh Nik menegak. Dalam hitungan detik ia sudah melesat kembali. Menjauhi pasukan yang mengejarnya itu. Masih dengan Ezra di sampingnya. Kemudian membalas tembakan jetlaser musuhnya dengan tembakan jetlaser dari bioparticle hand-nya.
 
Tapi rupanya, pasukan Nyamuk Besi tak bisa diremehkan. Dengan kecepatan yang sama, mereka melesat mengejar Nik tanpa mengehentikan tembakan jetlasernya yang mengarah ke Nik dan Ezra. Beberapa berhasil mengenai Nik dan Ezra.
 
Nik dan Ezra terguling-guling di udara sebelum akhirnya meluncur ke bawah. Jatuh berdebum ke tanah.
 
Ezra terluka. Ia mengerang kesakitan.
 
“Kau tak apa-apa?” Nik yang lebih cepat bangkit dari jatuhnya berusaha membantu Ezra, tapi Ezra justru mendorongnya.
 
“Lari Niiik! Jangan pedulikan aku. Mereka pasukan ayahku. Mereka tak akan berani melukaiku.”
 
Nik tak peduli. Ia tetap berusaha membantu Ezra bangkit.
 
“Kalau kau sampai tertangkap, aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku. Pergilah!”
 
Sebuah tembakan jetlaser nyaris menembus jantung Nik jika saja seseorang yang tiba-tiba saja muncul tak menggeretnya dari tempat itu, lalu melesat menjauh dengan kecepatan penuh.
 
Orang itu adalah Cleo.
 
Pasukan yang mengejar mereka tak kalah cepat. Mereka menyebar.
 
Nik dengan terpaksa meninggalkan Ezra yang dilihatnya didekati seseorang yang membawanya. Ia dan Cleo kemudian melesat ke arah selatan, menjauhi keramaian jantung ibu kota menuju pusat perumahan elit dan gedung-gedung apartemen terpancang karena keduanya tak mungkin langsung menuju tempat rahasia yang dijadikan pintu untuk memasuki kawasan sektenya. Jika lawan mereka sampai mengetahui di mana letak pintu menuju kawasan sektenya yang selama ini tersembunyi itu, bisa dipastikan mereka akan menyerang tempat tersebut. Itu sangat berisiko untuk para anggota sektenya. Maka keduanya memilih meliuk-liuk di antara rumah-rumah dan gedung-gedung apartemen tadi untuk mengecoh lawan. Hingga akhirnya mendarat dan bersembunyi di belakang rumah yang tampaknya tak berpenghuni. Sementara pasukan lawan kebingungan mencari mereka.
 
“Jumlah mereka ada 30.” Nik berusaha mengendurkan tekanan dalam dadanya.
 
“Kau sempat menghitungnya?”
 
“Aku sudah menghitungnya sejak pertama kali aku melihat mereka.”
 
“Kalau begitu kita berpisah. Kau hadapi 15, aku 15.”
 
“Kau yakin?”
 
Cleo mengangguk mantap. “Aku pikir ini akan mengasyikan. Sekalian mengetes hasil latihan kita selama ini.” Ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Nik, kemudian, “Aku siap menghajar mereka!” Cleo sudah secepat kilat melesat ke udara kembali. Sengaja memancing lawannya.
 
Begitu seluruh pasukan hendak mengejar Cleo, dari arah berlawanan, Nik muncul. Menembakkan jetlaser dari bioparticle hand-nya. Tak ayal, sebagian pasukan mengejar dan menembakinya kembali dengan jetlaser mereka. Sementara sebagainnya lagi mengejar Cleo.
 
Keduanya benar-benar pintar mengecoh lawan. Mereka sengaja timbul tenggelam di antara gedung-gedung apartemen. Mengitari dan melakukan gerakan membelok tajam di gedung-gedung tinggi yang bertebaran bak balok-balok baja yang menjulang ke langit itu. Melakukan menuver-manuver yang cukup berhasil membuat para musuhnya kerepotan. Kemudian bersembunyi. Menunggu sampai ada salah satu lawan mendekat, kemudian segera memanfaatkan kesempatan; menghajar lawan dengan pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan yang mematikan hingga terjatuh, berdebum ke tanah dan tak bergerak lagi. Nik juga terus menembakan jetlaser dari bioparticle hand-nya ketika ada kesempatan.
 
Satu per satu lawan mereka terjatuh dari ketinggian dan menggeliat kesakitan sebelum akhirnya pingsan.
 
Nik berpikir dirinya dan Cleo telah berhasil melumpuhkan semua lawan yang mengejarnya. Sayangnya, perkiraannya meleset.
 
Nik sedang mencoba mengatur napasnya kembali ketika tembakan jetlaser yang ditembakkan dari arah belakangnya mengenai rusuk kanannya. Darah muncrat. Nik teriak kesakitan. Terhuyung.
 
Cleo yang baru saja berhasil memukul jatuh lawan terakhirnya lekas melesat ke arah orang yang menembaki Nik tadi. Secepat kilat menerjangnya. Merebut senjata ditangannya, kemudian menembakkannya ke arah lawan sebelum lawannya tadi sempat merogoh senjata cadangan di balik pipa celana bagian dalamnya. Kemudian melesat ke bawah, berusaha menangkap tubuh Nik yang sempoyongan dan sukses meluncur ke bawah karena ia tak cukup memiliki konsentrasi dan energi lagi untuk mengatur kendali sepatu pengendali gravitasinya.
 
“Lukamu harus segera diobati, Nik.” Cleo membantu Nik untuk tetap bisa melesat ke timur, ke sebuah bangunan tua bekas rumah sakit yang terletak 500 meter dari mulut pintu tol yang menjadi jalan masuk utama menuju ibu kota. Salah satu di antara bangsal-bangsal rumah sakit itulah letak pintu masuk-keluar kawasan sekte beragama disembunyikan.
===========================
POTONGAN DARI BAB 3
 
 
“Kau bohong.” Pemuda berambut cepak dengan tulang pipi menonjol yang sejak tadi dilibatkan dalam interogasi tak resmi ini mengeluarkan chip yang ditempatkan dalam sebuah kapsul berbahan dasar molase berukuran micro dari kantung bagian dalam jubah putih yang ujung bawahnya menjuntai hingga nyaris menyentuh mata kaki. Menyusul kapsul lain berukuran lebih besar yang bekerja layaknya sebuah proyektor. Memunculkan layar datar transparan di hadapannya. Chip tadi didekatkan ke layar datar transparan tersebut. Lalu seperti ditarik oleh medan magnet dari dalam layar datar transparan tadi, chipnya tersedot masuk dan lenyap.
 
“Tulisanmu mengatakan yang sebaliknya.” Jemari Sanegio menyentuh beberapa simbol dalam layar datar transparan tadi. Berikutnya, tulisan Ezra tentang Nik terpampang jelas di sana. “Kau mengetahui segalanya tentang Nik.”
Mengetahui kenyataan tersebut, jelas Ezra berang. “Lancang! Kau mencuri data-data dalam biocomputer-ku?!”
“Aku melakukannya demi keselamatanmu.” Pemuda berambut cepak dengan tulang pipi menonjol tadi memberi alasan dengan intonasi suara dan raut wajah yang tetap datar dan dingin.
“Sanegio, tahan Ezra di kamarnya! Sita semua alat yang memungkinkan dirinya menjalin komunikasi dengan pemuda brengsek itu!” Perintah DR. Keith Orkel menahan Ezra menyemburkan kemarahannya pada pemuda yang tetap saja tampak tenang di belakangnya. Kelihatan sama sekali tak terpengaruh oleh tatapan jengkel yang dialamatkan Ezra padanya. Ia hanya mengangguk sekilas ke arah DR. Keith Orkel, jaminan kalau dirinya akan melakukan apa yang diperintahkan padanya dengan baik.
“Ayah, kau lebih percaya pada Sanegio dibanding aku, putrimu?” Ezra masih berusaha memengaruhi DR. Keith Orkel untuk memihaknya.
“Dia orang kepercayaanku. Tak ada yang lebih aku percaya dibanding dia di sini saat ini. Lagipula, semua bukti menunjukkan kalau semua kesaksiannya itu benar.”
“Maafkan aku, Nona.” Tangan Sanegio sudah memaksanya melangkah menuju kamar sebelum Ezra menyatakan keberatannya.
 
“Ayah, kumohon dengarkan aku! Ayah harus tahu alasanku menyembunyikan identitas Nik!”
 
Teriakan Ezra menyita perhatian DR. Keith Orkel. Kibasan dagunya memerintahkan Sanegio melepaskan Ezra sejenak. “Katakan!”
 
Satu kata itu cukup untuk membuat Ezra mengerti apa yang mesti dilakukannya. Ezra menceritakan sejarah muasal pertikaian sektenya dan sekte Nik, juga tentang kejanggalan yang ditemukannya mengenai alasan sektenya memburu dan membunuhi para anggota sekte beragama.
 
“Aku hanya merasa ada potongan yang sengaja Ayah hilangkan tentang semua ini. Potongan yang menyimpan kenyataan sebenarnya. Yang kelihatanya disembunyikan rapat-rapat oleh ayah.”
 
“OMONG KOSONG! Kau sudah diracuni pemuda brengsek itu!” Kemurkaan DR. Keith Orkel menyembur. Tarikan wajahnya memperlihatkan ketakutan yang coba disembunyikannya. Rahangnya bergerak-gerak seperti mengunyah sesuatu dan bergemeretakan.
 
“Tapi semua kejanggalan yang diceritakan Nik itu masuk akal, Ayah. Mengapa—”
 
“Tahan dia di kamarnya sampai aku membolehkannya keluar!” teriaknya pada Sanegio. DR. Keith Orkel tak bisa lagi menahan kegeramannya. Puteri tunggalnya yang selama ini disiapkannya untuk menerima kepemimpinan atas dunia ini kelak, kini berani menentangnya. Dirinya merasa apa yang selama ini ditakutkannya telah begitu dekat.
 
Meski tak tega, kepatuhannya pada DR. Keith Orkel membuat Sanegio terpaksa melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Ia lekas membawa Ezra keluar dari ruang interogasi tak resmi, yang lebih pantas disebut aula kecil dengan tujuh tangga yang menyatukan lantainya dengan sebuah panggung kecil berstalaktit batu pualam pada langit-langitnya itu. Ruangan yang nyaris kosong. Hanya ada sebuah meja bundar berukuran besar berlapis metal dengan tinggi selutut orang dewasa di atas panggung kecilnya. DR. Keith Orkel berdiri tepat di sisi meja bundar berukuran besar itu. Menatap kosong pada apa yang terlihat di depannya. Pikirannya bergelut dengan kemungkinan-kemungkinan yang selama ini ditakutkannya.
 
Di luar ruangan interogasi tak resmi tadi, Sanegio berusaha keras untuk menahan segala bentuk kekerasan yang bisa saja tanpa sengaja dilakukannya terhadap Ezra yang terus memberontak di tangannya. Dimitri, yang mencoba menghentikan Sanegio begitu mengetahui putri kesayangannya itu dibawa paksa menuju kamarnya oleh Sanegio pun tak bisa mengehentikannya.
 
Sanegio mengunci Ezra di kamarnya. Password yang berfungsi membuka pintu kamar Ezra diganti Sanegio dengan kombinasi angka yang hanya diketahui dirinya setelah semua peralatan yang memungkinkan Ezra menjalin komunikasi dengan orang luar ia blokir.
 
“Sanegio!”
 
Sanegio menghentikan langkahnya. Ada nyeri mengulum hatinya. Suara yang berasal dari balik pintu baja besar berukir di belakangnya itu terdengar seperti tengah mati-matian berusaha menahan tangis.
 
“Kau sudah membaca tulisanku?” Ezra tahu Sanegio mendengarkannya.
 
“Sedikit.”
“Kalau begitu bacalah semuanya hingga selesai.”
 
Suara itu lebih terdengar seperti sebuah permohonan.
 
Sanegio berbalik. Posisinya kini berhadap-hadapan dengan pintu baja besar berukir tadi. “Apa untungnya untukku?” Sanegio sengaja mengajukan penawaran. Sebenarnya, tanpa keuntungan sekalipun Sanegio tetap akan melakukan permintaan Ezra itu.
 
Ezra menelan ludah. “Tidak ada. Hanya saja ….” Ezra menghentikan kalimatnya. Ia memeras otak. Berusaha mempertimbangkan cara apa pun untuk mengurangi kemungkinan risiko yang akan ditanggung Nik dan sektenya setelah insiden penyerangan sejam lalu. Ezra begitu menyalahkan dirinya atas peristiwa tersebut. Ia ingin menebus kesalahannya. Di sisi lain, ia sendiri kebingungan. Tak paham mengapa kini ia lebih mengkhawatirkan keselamatan Nik dibanding dengan keselamatan dirinya dan sektenya. Padahal, bisa saja sikap bersahabat yang ditunjukkan Nik selama sebulan ini adalah sandiwara demi misinya menggulingkan kekuasaan ayahnya dan sektenya. Jika begitu, bukankah artinya apa yang dilakukan Sanegio dan ayahnya ini benar? Tapi hati kecilnya menampiknya. Ia sungguh-sungguh menemukan ketulusan dari perlakuan Nik selama ini. Terlebih setelah melihat langsung reaksi ayahnya yang tampak menyembunyikan ketakutannya ketika dirinya mengungkapkan kejanggalan yang diceritakan Nik padanya.
 
Ezra kini semakin yakin bahwa apa yang dikatakan Nik padanya benar. Ayahnya, DR. Keith Orkel, menyembunyikan alasan sebenarnya mengapa ia selama ini memerintahkan pasukannya memburu dan membunuhi setiap anggota sekte beragama.
 
“Sanegio, kita sudah dekat sejak kecil.” Ezra kembali bersuara. Ia sudah mempertimbangkan matang-matang keputusan yang akan diambilnya ini. Keputusan yang setidaknya, memiliki peluang lebih besar untuk dapat mengurangi risiko terancamnya keselamatan Nik. Ia mempertaruhkannya di tangan Sanegio, meski tak yakin sepenuhnya kalau Sanegio akan memihaknya setelah apa yang diketahuinya nanti.
 
Sanegio menunggu.
 
“Aku sangat tahu dari dulu kalau kecerdasanmu selalu jauh melampaui kecerdasanku. Karena itu aku ingin kau membaca semua tulisanku itu hingga tuntas. Aku ….” Jeda sejenak. Ezra ingin memastikan bahwa Sanegio masih mendengarkannya di balik pintu baja besar berukir yang kini dijadikannya tempat bersandar.
 
“Katakanlah!” Sanegio akhirnya bersuara. Tetap dengan intonasi datar dan dingin seperti biasanya.
 
“Aku ingin mendengar pendapatmu setelah kau membaca semuanya.”
 
Ada tekanan khusus yang mengesankan adanya maksud tersembunyi pada kalimat terakhir Ezra barusan. Ezra berharap Sanegio bisa menangkap kesan itu.
 
Ezra tahu betul, meski Sanegio selalu begitu patuh terhadap ayahnya, ia tak pernah membiarkan dirinya berada dalam kesulitan. Sejak kecil Sanegio selalu ada untuknya tiap kali dirinya membutuhkannya. Bahkan dalam keadaan tersulit sekalipun. Karena itu ia tahu, meski Sanegio menahan dirinya di kamarnya, Sanegio akan memenuhi permintaannya tadi. Ezra sangat berharap Sanegio memiliki pandangan yang sama dengannya setelah ia membaca tulisannya dengan lengkap.
 
Kenyataannya, Sanegio memang menangkap adanya penekanan khusus pada kalimat terakhir Ezra itu. Sanegio tahu, Ezra ingin ia menemukan sesuatu, entah apa, yang disembunyikan Ezra dalam tulisannya. Yang mungkin akan memengaruhi pandangannya.
 
Pandangan terhadap apa? Sanegio berusaha menebak-nebak. Sanegio menyadari sesuatu yang lain; Ezra memercayainya untuk menemukan yang disembunyikannya itu.
 
Apa yang disembunyikannya? Mengapa ia memercayaiku? Orang yang jelas-jelas telah mencuri semua data biocomputernya. Membongkar identitas Nik pada DR. Keith Orkel hingga ia diburu. Dan membuat Ezra—orang yang kini justru mempercayakan sesuatu padanya—tertahan di kamarnya. Ada ranya nyeri yang kembali mengulum hatinya.
==========================
Note: Potongan-potongan lain dari novel Gastrod dan segala proses kreatifnya bisa kamu intip langsung di fanpage-nya. Klik dan like di sini untuk mengikuti.