Oleh: Poetry Ann

lorong, jalan, cara

===================================
Saya nggak tahu kapan tepatnya saya mencatat ini, yang saya tahu, subuh tadi, saat saya tergerak untuk membaca-baca kembali catatan-catatan saya, saya menemukan catatan ini, terus jadi ingat dia. Jadi kangen sama panggilan ini: anak keciiil!😀
===================================

Percayakah kamu, kalau mimpi yang diucapkan berulang-ulang bisa memotivasi diri kita untuk benar-benar berusaha supaya bisa mewujudkan mimpi itu dengan hati yang sungguh?

Saya percaya karena setidaknya saya sudah membuktikannya meski belum sepenuhnya.

Beberapa tahun lalu, saya sering kali berkata pada salah seorang kawan saya, bahwa suatu saat nanti dia akan menemukan karya saya di media dan dibaca orang lain selain dirinya. Waktu itu dia hanya diam dan kebingungan. Lalu bertanya, bagaimana caranya? Saya bilang, saya akan menemukan caranya.

Tiap kali saya menemukan atau membaca majalah, saya menunjukkan majalah itu tepat di rubrik yang memuat cerpen padanya. Saya katakan, “Suatu saat nanti, cerpen gue bakal dimuat di situ!” Dia hanya tersenyum sambil kembali bertanya, bagaimana caranya? Lalu saya jawab lagi, bahwa saya akan menemukan caranya.

Kemudian ketika saya dan dia secara kebetulan duduk menunggu di sebuah loper koran, saya ambil beberapa koran, tidak untuk dibeli, hanya melihat-lihat dan membacanya sekilas. Lagi, saya katakan padanya bahwa suatu saat nanti tulisan saya akan muncul di sana dan dibaca orang lain selain dirinya. Pertanyaan yang sama masih terlontar dari mulutnya. Saya katakan lagi bahwa saya akan menemukan caranya.

Begitu juga ketika dia menemukan saya tengah berada di toko buku setelah setengah jam lamanya dia mencari karena saya memang pergi diam-diam darinya ketika ia tengah sibuk memilih-milih baju di sebuah mall, tanpa mempedulikan ekspresinya yang terlihat kesal, saya katakan padanya, “Suatu saat nanti buku gue bakal ngisi salah satu rak di sini, dibeli dan dibaca banyak orang.”

Dengan reaksi sedikit jengkel karena merasa saya tinggalkan begitu saja, dia bilang, “Anak keciiil, kerjaannya ngekhayal mulu! Emang lo tahu gimana caranya?”

Sekali lagi saya katakan bahwa saya akan menemukan caranya.

Kemudian di hari berikutnya, berikutnya dan berikutnya lagi saya selalu mengatakan hal yang kurang lebih sama padanya tiap kali membaca majalah, koran, buku, bahkan setelah saya baru saja menyelesaikan tulisan saya: bahwa suatu saat nanti tulisan saya akan dimuat media dan dibaca oleh orang lain selain dirinya.

Sampai pada suatu malam di bawah terang bulan. Ini bukan fiksi, karena saat itu, saya dan dia memang benar-benar tengah mengobrol di bawah terang bulan. Entah apakah saat itu dia benar-benar tulus melontarkan kalimatnya atau tidak, saya tidak tahu. Yang saya tahu, telinga saya mendengar dia berkata, bahwa dari sekian banyak kawannya, hanya sayalah yang ia anggap berbeda karena memang hanya sayalah satu-satunya kawan yang memiliki mimpi dan begitu yakin kalau mimpinya itu akan dicapainya.

Saya cuma cengengesan waktu itu. “Beda? Mbe jeung kuda?” seloroh saya dengan canda.

“Gue serius. Dan nggak tahu kenapa, hati kecil gue bilang kalo suatu saat nanti lo bakal bener-bener bisa mewujudkan mimpi lo itu,” timpalnya dengan nada suara yang serius dan sungguh-sungguh sembari menatap lekat-lekat bulan di atas kami.

Saya tak pernah melihat dia seserius itu sebelumnya. Apa yang diucapkannya membuat saya tercenung. Saya pandangi dia sesaat, sebelum akhirnya bertanya dengan suara pelan, “Tapi, gimana caranya?”

Dia mendengarnya lalu berseru, “Lo bakal menemukan caranya!”

Kemudian kami pun tergelak bersamaan.

Dan sekarang, setelah beberapa tulisan saya benar-benar dimuat media, masuk beberapa antologi dan dibaca oleh orang lain selain dirinya, saya justru tak tahu apakah dia menemukan dan benar-benar membaca tulisan-tulisan saya itu atau tidak. Yang saya tahu, tak ada yang salah dengan mimpi yang diucapkan berulang-ulang. Setidaknya, dengan berulang-ulang mengucapkan dan memberitahukan mimpi kita pada orang lain, terlepas dari apakah mimpi itu akan terwujud atau tidak, kita tahu bahwa kita sudah memanfaatkan nikmat yang Tuhan berikan pada kita dengan cara yang lebih baik. Mimpi yang diucapkan berulang-ulang membuat kita merasa mendapatkan energi lebih ketika kita terjatuh dan menemukan kesulitan saat menjalani proses demi mewujudkan mimpi itu.