Lima Step Menulis Puisi Perjalanan Dari Toto ST Radik

Futu: doc. Yori Tanaka
Futu: doc. Yori Tanaka

Kurang lebih dua bulan lalu, 28 Mei-2 Juni 2016, Rumah Dunia diamanati Kemendikbud (Kementrian Pendidikan & Kebudayaan) untuk menyelenggarakan kegiatan Vokasi Menulis Kemendikbud bagi 100 peserta terpilih yang berasal dari tiga provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat dan Bandung. Keseratus peserta yang terdiri dari warga belajar berkelanjutan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) tersebut kemudian diharuskan menulis dan dibukukan, yang rencananya akan diluncurkan pada peringatan Hari Aksara Internasional pada Oktober nanti di Palu. 

Dari enam hari kegiatan, tiga hari (28-30 Mei) dilaksanakan di Rumah Dunia, tiga hari (31 Mei – 2 Juni) di Singapura. Selama tiga hari di Rumah Dunia, keseratus peserta dibekali pengetahuan mengenai bagaimana menulis catatan perjalanan, puisi perjalanan dan esai perjalanan dari empat penulis yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam bidang masing-masing, yaitu Gol A Gong, Toto ST Radik, Tias Tatanka dan Firman Venayaksa, agar tiga hari setelahnya, para peserta tidak kesulitan memetakan tulisan seperti apa yang akan ditulisnya sekembalinya dari Singapura nanti.

Sehari sebelum 100 peserta Vokasi Menulis Kemendikbud berangkat ke Singapura, Senin (30/5), Toto ST Radik membagi pengetahuannya mengenai penulisan puisi perjalanan. Kali ini saya ingin membaginya buat kamu. Dari apa yang beliau paparkan, saya menangkap setidaknya ada lima step yang mesti dilakukan untuk bisa menulis puisi perjalanan yang benar-benar utuh.

Pertama, melakukan pengumpulan data. Maksudnya, paling tidak kita mesti lebih dulu mencari tahu tentang berbagai hal yang berkaitan dengan tempat yang akan kita kunjungi. Mulai dari sejarahnya, budayanya, bahasanya, kulturnya, sampai hal-hal kecil apa saja yang menarik dan bisa kita pelajari selama kita mengunjungi tempat tersebut. Entah itu melalui internet, melalui buku, brosur-brosur, maupun dari orang-orang yang paling tidak sudah pernah mengunjungi tempat tersebut.

Kedua, melakukan observasi. Maksudnya, melakukan kroscek, menilai dan memahami apakah apa-apa yang kita temukan selama di tempat yang kita kunjungi tersebut sesuai dengan data yang telah kita kumpulkan. Menariknya, pada step inilah biasanya kita akan mengalami benturan-benturan antara imajinasi yang telah terbangun di kepala kita dengan kenyataan yang kita dapati setelah sampai di tempat tujuan.

Ketiga, masuk step inkubasi. Kita wajib mencatat apa-apa yang dirasa penting, kemudian simpan, endapkan.

Keempat, menangkap inspirasi. Dari data-data yang kita kumpulkan, dari hasil observasi, dan dari hasil pengendapan yang kita lakukan itulah biasanya inspirasi datang. Maka tangkaplah. Jangan dilepas.

Kelima, lakukan rewriting. Menuliskan kembali inspirasi yang telah kita tangkap dalam sebuah catatan yang ditulis secara cepat selama lima hingga sepuluh menit, tanpa jeda. Biarkan jemari kita menuliskan segala hal yang kita pikirkan tanpa perlu berpikir apakah hal tersebut akan berguna untuk tulisan yang akan kita tulis nanti atau tidak. Setelah melewati kelima step tersebutlah biasanya puisi-puisi perjalanan yang utuh bisa lahir setelah melakukan beberapa kali revisi dan pengeditan.

Bagaimana? Setelah membaca kelima step yang dibagi Toto ST Radik tersebut, apakah kamu sudah mulai terpancing untuk melakukan perjalanan dan menuliskan hasil perjalananmu itu dalam bentuk puisi? Kalau sudah, hayuuk! Jangan ditunda-tunda lagi. Segerakan!

 

Happy writing! ^^

 

Note: Tulisan ini juga dimuat di koranrumahdunia.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s