Oleh Poetry Ann

Radar Banten

Esai ini sudah dimuat di koran harian Radar Banten edisi Selasa, 26 April 2016.

 

Di perayaan World Book Day yang diselenggarakan di Rumah Dunia pada Sabtu (23/4) kemarin, sesaat setelah rangkaian acara yang digelar sejak pukul 08:00 hingga sekitar pukul 23.00 tersebut selesai, Abdul Salam, penyair muda Banten, juga salah seorang kawan diskusi selama saya bergiat di Majelis Puisi Rumah Dunia, memberikan anak batinnya yang berjudul Malaikat Waringin pada saya.

“Ditunggu ulasannya ya, Teh!” katanya. Lalu saya menanggapinya dengan cengiran. Bukan karena enggan menerima buku kumpulan puisinya dan permintaan ulasannya tadi, tapi karena apa yang dikatakannya justru memunculkan kembali pertanyaan yang beberapa kali sempat mengusik pikiran saya, yaitu mengenai banyaknya karya yang muncul tanpa dibarengi oleh kesediaan orang lain untuk mengulas karya-karya yang semakin banyak bermunculan tersebut.

Saya teringat pada ucapan salah seorang kawan yang juga seorang penyair di Bekasi, Zaeni Boli, “Sekarang ini banyak sekali Chairil Anwar berlahiran, tapi saya belum banyak menemukan H.B Jassin berlahiran kembali. Banyak sekali yang menelurkan karya, tapi sedikit sekali orang yang mau mengulasnya.”

Hal senada juga diungkapkan Toto ST Radik, tutor saya di Majelis Puisi, di awal-awal saya mengikuti Majelis Puisi. Menurut beliau, sekarang ini jarang sekali ada orang yang berani menempuh jalan sebagai kritikus sastra yang benar-benar mengkhususkan diri untuk mengulas dan mengupas karya-karya yang diterbitkan seperti yang pernah dilakukan H.B Jassin.

Jarang bukan berarti tak ada karena saya sendiri pernah membaca beberapa kumpulan esai yang isinya memang khusus mengenai ulasan-ulasan karya orang lain. Tapi, kebanyakan penulisnya adalah juga merangkap sebagai penyair, novelis, juga cerpenis, yang biasanya menulis ulasan untuk kebutuhan semacam “kata pengantar” buku penulis lain. Acep Zamzam Noor misalnya, ia lebih dikenal sebagai penyair, tapi ia juga menulis ulasan-ulasan mengenai puisi-puisi penyair lain seperti yang bisa dibaca dalam bukunya, Puisi dan Bulu Kuduk, yang juga sebagian besar ia akui ditulisnya sebagai semacam “kata pengantar” untuk buku penulis lain.

Di Banten sendiri beberapa kali saya sempat membaca ulasan atas karya-karya orang lain yang ditulis oleh Muhammad Rois Rinaldi dan Anas Al-Lubab, yang lagi-lagi juga ditulis untuk kebutuhan semacam “kata pengantar” buku penulis lain.

Maka pada perayaan World Book Day di Rumah Dunia tahun 2016 ini yang meluncurkan 53 buku sekaligus, mau tidak mau kemunculan 53 karya tersebut menerbitkan pertanyaan dalam benak saya, apakah sehari, dua hari, atau seminggu, sebulan atau bahkan setahun yang akan datang akan ada orang-orang yang barangkali tergerak untuk mengulas karya-karya tersebut meski tak dibutuhkan sebagai semacam “kata pengantar”? Jika ada, tentu akan sangat menarik. Juga bisa menjadi angin segar bagi keberlangsungan budaya literasi di Banten yang saya amati mulai kembali bergairah, karena dengan begitu, berarti karya-karya yang bermunculan  tidak lantas tenggelam begitu saja. Selain itu juga akan ada lebih banyak lagi penulis yang bisa mengambil pelajaran dari ulasan-ulasan tersebut.

Tidak mudah memang mengulas karya orang lain. Selain kita harus menguasai pengetahuan mengenai isi buku yang kita ulas, kita juga mesti berani menerima risiko dianggap “sok pintar” oleh penulis yang barangkali tidak terima dengan ulasan yang kita tulis, atau oleh orang lain yang barangkali memiliki pandangan berbeda terhadap karya tersebut karena sepanjang pengalaman saya beberapa kali menulis ulasan beberapa karya orang lain yang di dalamnya saya sematkan kritikan, ada saja penulis yang justru menanggapinya dengan sikap negatif. Sikap yang kemudian tak ayal membuat saya berpikir ulang apakah akan terus lanjut menulis ulasan dari karya-karya yang saya baca atau cukup sampai di situ. Juga sempat menurunkan kepercayaan diri saya hingga membuat saya berkali-kali mempertanyakan kapasitas diri saya, apa iya saya sudah cukup pantas menulis ulasan atau mengkritik karya orang lain?

Meski begitu, semoga akan tetap ada orang-orang atau para penulis di Banten ini yang berani dan tergerak untuk mengapresiasi karya-karya yang mulai banyak bermunculan tersebut dalam bentuk ulasan yang sifatnya mendalam.[]