Oleh: Poetry Ann

Futu prewedding Yori Tanaka & Joe (hasil nyolong). Qiqiqiqiq....

Futu prewedding Yori Tanaka & Joe (hasil nyolong). Qiqiqiqiq….

Jodoh. Saya ingin membahas soal yang satu ini sekarang.

Jodoh, saya biasanya menyederhanakan kata tersebut dengan “pertemuan”. Kata pertemuan ini beberapa minggu belakangan terus menggantung di kepala saya. Dan semakin menguat beberapa hari belakangan. Entah karena semakin dekat pada perayaan natal atau karena hal lain. Untuk soal mengapa perayaan natal  saya singgung di sini, tak perlu kamu pikirkan. Dalam tulisan ini, hanya saya yang tahu mengapa perayaan natal saya anggap pantas untuk dikambinghitamkan. Saya harap, yang merasa “memiliki” perayaan natal ini tidak tersinggung. Sungguh, saya sama sekali tak bermaksud menganggap ada yang salah dengan perayaan tersebut hingga saya merasa perlu “menyalahkan” perayaan natal atas pikiran-pikiran yang semakin mengganggu saya akhir-akhir ini. Justru sebaliknya. Ada hal yang tak mungkin saya ceritakan di sini, yang membuat saya menganggap kalau perayaan natal adalah perayaan yang tak kalah pentingnya dengan lebaran.

Ya, kamu tak salah baca. Meski saya muslim sejak lahir, dari kecil saya sudah diperkenalkan dengan yang namanya hidup bertoleransi. Tetangga-tetangga dekat saya dulu beragam. Jadi, saya memiliki cukup banyak kawan dengan latar belakang agama yang berbeda. Kawan terdekat saya semasa kecil hingga remaja bahkan pemeluk agama Kristen Protestan. Kami berdua pernah sama-sama berdoa dengan cara kami masing-masing, menghadap kiblat, di hadapan patung Yesus. Saya berdoa pada tuhan saya, dia berdoa pada tuhan dia. Setelah dewasa, saya ditakdirkan dekat dengan lelaki Katolik. Lelaki yang cukup memiliki andil besar terhadap kedewasaan saya, pada akhirnya. Lelaki yang lucunya, lebih banyak menggiring saya pada pemahaman tentang isi Al-Quran. Jadi, selalu ada sesal dan keprihatinan yang mendalam tiap kali melihat atau mendengar ada pembantaian atau kekerasan dalam bentuk apa pun dengan alasan perbedaan agama.

Kembali ke soal jodoh. Beberapa tahun lalu, saya mendapati seorang kawan yang melakukan pertemuan dengan seorang lelaki untuk memastikan apakah dia benar-benar lelaki yang tepat untuk dijadikan suaminya. Lelaki yang sebelumnya bahkan belum pernah dia kenal. Orangtuanyalah yang mengatur pertemuan tersebut. Oke, bahasa simpelnya ta’aruf. Koreksi saya kalau salah. Saya tak mengerti sepenuhnya soal ta’aruf ini. Jadi, apakah yang dilakukan kawan saya itu benar termasuk ta’aruf seperti pengakuannya atau bukan, saya tak begitu paham.

Selang beberapa hari setelah pertemuannya dengan lelaki itu, dia menemui saya. Dia menceritakan semua proses pertemuan itu. Dan saya, cuma melongo waktu mendengar ceritanya. Bagi saya, pertemuan keduanya benar-benar tak menarik. Kalau saya yang melakukan pertemuan itu, rasanya, tak akan ada sedikit pun kesan yang tertinggal. Saya membayangkannya, pertemuan mereka seperti pertemuan seorang pegawai HRD dengan calon pegawai yang hari itu harus melewati proses interview. Ditanya detil keluarga, pekerjaannya apa, kesukaannya apa, apa saja hal-hal yang nantinya tak disukai dan disukai dari seseorang yang kelak jadi pasangannya. Misalnya, dia tak meyukai wanita yang menjadi istrinya nanti punya akun efbi. Pokoknya, segala sesuatunya harus tertutup dari dunia media sosial. Qiqiqiq…. Begitu. Lucu kan? Waktu kawan saya menceritakan hal tersebut, saya membayangkan handphone yang dibawa lelaki yang ditemuinya itu pasti handphone dengan layar monokrom. Atau barangkali tak punya handphone sama sekali. Buat saya itu konyol. Dan, memang pertemuan yang nggak asyik sepertinya. Setidaknya bagi saya.

Dan lebih konyol lagi waktu kawan saya itu bertanya pada saya, apakah menurut saya lelaki itu cukup baik untuk menjadi suaminya. Tentu saja saya tertawa. Bagaimana saya bisa tahu si lelaki yang ditemuinya itu cukup baik atau nggak? Bagaimana saya bisa menjawab pertanyannya kalau ketika saya mendengar ceritanya saja, dalam kepala saya, yang tergambar adalah suasana sepasang lelaki dan wanita yang duduk berhadapan (dan mungkin saling merunduk) sambil sesekali saling melempar pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban yang begitu datar dan tanpa ekspresi.

Kemudian sebulan setelahnya, tanpa perlu saya menjawab pun sepertinya kawan saya sudah mendapatkan jawabannya. Si lelaki yang ditemuinya itu tak ada kabar. Pergi begitu saja tanpa keputusan apa pun. Jadi saya kira, dia cukup pintar untuk menilai apakah lelaki itu cukup pantas untuk menjadi suaminya atau tidak.

Kemudian beberapa bulan setelahnya, saya mendapati kejadian lain. Masih soal jodoh.

Hari itu, entah karena dorongan apa, seorang kawan saya yang lain bertanya pada saya, “Apa yang bakal kamu lakukan kalau kamu ditakdirkan menjadi ibu tiri?”

Saya tak siap dengan pertanyaannya karena sampai saat itu tak pernah sekalipun saya membayangkan kalau suatu saat saya bakal jadi ibu tiri. “Saya nggak pernah berpikir ke sana,” itu jawaban saya.

“Seandainya ditakdirkan begitu?”

“Saya pastikan nggak akan.”

“Seandainya? Kan kita nggak akan pernah tahu ke depan nanti jalan hidup kita akan seperti apa.”

Berkali-kali saya menjawab bahwa hal semacam itu tak akan terjadi pada saya, dia tetap mencecar saya dengan pertanyaan yang sama. Saya anggap itu pertanyaan konyol. Tapi, begitu dia bilang kalau pertanyaannya itu pertanyaan serius, dan saya melihat keseriusannya itu tergambar jelas di wajahnya, saya sadar kalau pertanyaan itu tidak terlontar begitu saja darinya. Pasti ada sesuatu. Tapi saya belum tahu apa itu, dan saya kira, sebentar lagi saya akan tahu kalau saya menjawab pertanyaannya tadi dengan jawaban yang juga serius. Maka setelah berpikir beberapa saat, mencoba membayangkan seolah-olah sebentar lagi saya akan menjadi ibu tiri, lalu mengembuskan napas berat, saya bilang, “Kalau saya ditakdirkan menjadi ibu tiri, saya akan memilih menjadi ibu tiri yang baik. Saya nggak mau jadi ibu tiri yang suka nyiksa anak kayak di sinetron-sinetron kita itu. Mengerikan.”

Ternyata pertanyaannya tidak hanya sampai situ. Setelah saya menjawab, dia langsung mengajukan pertanyaan lain. “Kalau ada temen kamu yang memilih nikah sama duda, apa pandangan kamu?”

Hmm…. Alih-alih menjawab pertanyaannya barusan, saya malah nembak dia, “Kamu mau nikah sama duda?”

“Kalau iya, kamu bakal ngejauhin saya?”

Terus saya tertawa. “Saya nggak tertarik sama duda. Tapi kalau ada temen saya memilih duda, saya sama sekali nggak punya hak ngelarang dia. Asal pernikahan itu bukan atas dasar keterpaksaan, apa salahnya?” Reaksi dia setelahnya benar-benar di luar dugaan. Dia nyaris memeluk saya kalau saya tak menghindar.😀

Setelahnya, dia pun bercerita kalau lelaki yang akan dinikahinya itu memanglah duda. Tapi, bukan duda biasa. Duda dengan dua anak. Dan yang paling mengejutkan, anak pertama calon suaminya hanya berbeda empat tahun di bawah dia. “Issssh, itu sih lebih pantes dianggep adek lo dibanding anak lo.” Dan kami sama-sama tergelak. Saya melihat kebahagiaan yang tengah dirasakannya. Dia merasa, dengan menceritakan hal tadi pada saya, dia sudah melepaskan bebannya karena pada awalnya dia khawatir, khawatir sekali kalau pernikahannya dengan si duda itu bakal membuat kawan-kawannya menganggap dia “cewek yang nggak-nggak”, atau setidaknya menganggap dia wanita “berselera rendah” karena dia bilang, lelaki itu, lelaki yang jadi calon suaminya itu, di hadapan perempuan lain, sepertinya bakal tak menarik sama sekali. Dia bilang, “Lo kenal kok sama dia.” Saya terkejut untuk kedua kalinya. Begitu dia memberitahukan siapa lelaki yang dimaksud, yasalaaaam, ternyata lelaki itu adalah lelaki yang selama ini saya panggil dengan sebutan “Om”. Lelaki berperawakan gendut, botak, dan tak bisa dikatakan berada. Dia hanya buruh pabrik biasa dengan gaji standar UMK tiap bulan. Yang menjadi pertanyaannya kemudian, apa yang membuat kawan saya itu jatuh hati pada si Om gendut itu?

Kenyataannya, perkenalan dan kedekatannya yang terjalin tanpa sengaja itulah yang menyebabkannya. Perkenalan tanpa pertanyaan dan tuntutan. Berjalan begitu saja, hingga keduanya sama-sama saling mengenal kehidupan dan pribadi masing-masing, kemudian saling jatuh cinta bukan karena kelebihan masing-masing, tapi justru karena sudah saling mengenal kekurangan masing-masing. Dia bilang, “Dari awal, kalau saya ngeliat fisik dia dan materi yang dia punya, saya nggak pernah ngebayangin kalau saya bakal jatuh hati sama dia. Hal yang pada akhirnya membuat saya jatuh hati sama dia  adalah penderitaannya dan ketulusan hatinya.” Dan ketulusan hati si Om itu benar-benar saya lihat selang setahun setelahnya, ketika saya berkunjung ke rumahnya untuk nengok anaknya yang baru saja lahir. Anak petama bagi kawan saya, dan anak ketiga bagi si Om.

Begitu sampai di pintu pagar rumahnya, saya sudah disambut dengan pemandangan yang cukup bikin saya berpikir kalau si Om memang lelaki yang baik. Di sana, di balik pagar itu, saya melihat si Om tengah anteng menjemur pakaiannya, pakaian istrinya, juga pakaian anak-anaknya.

“Nyuci, Om?” Saya nyengir, dan si Om pun menyadari kehadiran saya. Dia menyambut kedatangan saya dengan hangat dan mempersilakan saya masuk ke kamarnya, tempat istrinya, juga bayinya yang baru beberapa minggu sebelumnya lahir, terbaring di kasur. Kemudian membiarkan saya dan istrinya ngobrol asyik di sana. Dari kawan saya itulah kemudian saya tahu kalau si Om tak hanya mengambil alih tugas mencuci pakaian saja. Selama istrinya belum benar-benar pulih, si Omlah yang mengambil alih hampir seluruh pekerjaan rumah tangganya, termasuk mencuci piring, pekerjaan yang dinilai menjijikan bagi kebanyakan lelaki. Kamu bisa bayangkan itu? Saya kira, hanya ketulusan hatilah yang memapu membuat seorang lelaki mau mengerjakan hal-hal semacam itu untuk istrinya.

Dari dua kejadian yang dialami kedua kawan saya itu, saya menilai bahwa pertemuan yang dijalani tanpa rencana adalah pertemuan yang jauh lebih meninggalkan kesan dan bisa dibilang, lebih sering membuat kita pada akhirnya mampu benar-benar melihat apakah seseorang itu akan menjadi pendamping yang tepat buat kita atau tidak. Di sini saya sama sekali tak bermaksud menganggap pertemuan dengan jalan ta’aruf (jika memang pertemuan yang dilakukan kawan saya yang pertama itu bisa dibilang ta’aruf seperti pengakuannya) adalah pertemuan yang kurang tepat. Saya yakin, setiap dari kita memang memiliki cara masing-masing untuk bertemu dengan jodohnya. Hanya saja, bagi saya, pertemuan yang dialami kawan saya yang kedualah yang lebih menimbulkan kesan mendalam. Karena itu, saya sendiri selalu merasa agak terganggu ketika mendapati seseorang yang baru saya kenal misalnya, sudah banyak bertanya ini-itu, hal-hal yang berkaitan dengan privasi. Rasanya menyebalkan. Saya kan bukan calon pegawai dia.😀

Kalau kamu pilih jalan yang mana?