Oleh: Poetry Ann

Hasil perjalanan kali ini saya tidak akan menuliskannya dalam bentuk catatan perjalanan. Tapi, kalau catatan ini mau dibilang catatan perjalanan juga tak apa. Toh, pada dasarnya apa-apa yang saya bagi di sini memanglah hasil yang saya dapatkan dari perjalanan yang saya dan kedua kawan saya lalukan pada Sabtu (31/10) lalu.

 

Menemukan Maria Ulfah

 

Berfoto di depan eks Gedung Pendopo Gubernur Banten.

Berfoto di depan eks Gedung Pendopo Gubernur Banten.

Sejujurnya, kunjungan yang saya lakukan bareng kedua kawan saya, Yehan dan Mbak Ida, Sabtu (31/10) lalu ke Pameran Cagar Budaya yang digelar di eks Pendopo Gubernur Banten dari 28 Oktober – 1 November, agak membosankan. Entah saya dan kedua kawan saya yang terlambat datang atau memang acara tersebut kurang publikasi hingga membuat acaranya tampak sepi. Jika memang acara yang sepi itu disebabkan karena kurangnya publikasi, sangat disayangkan. Acara sebesar itu, saya pikir, tentu ada dana khusus untuk publikasi. Jika ternyata pengunjungnya tetap sepi, artinya publikasi yang dilakukan kurang efektif. Bahkan saya saja baru tahu ada acara tersebut setelah kawan saya, Yehan, memposting foto-foto hasil jepretannya ketika tanpa sengaja “nyasar” ke acara tersebut.

Di dalam gedung eks Pendopo Gubernur Banten, saya hanya menemukan dua atau tiga stand yang ada penjaganya. Salah satunya stand milik Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Di stand ini saya dan kedua kawan saya cukup banyak mendapatkan informasi mengenai sejarah perumusan naskah proklamasi yang tentunya sebagian besar sudah kami ketahui sejak di bangku sekolah. Tapi yang paling penting dari itu semua, saya ditunjukkan sebuah foto perempuan bernama Maria Ulfah. Lengkapnya Maria Ulfah Santoso. Sewaktu membaca namanya, rasanya saya pernah mendengarnya. Sepertinya saya punya satu atau dua kawan yang juga memiliki nama yang sama.

Dari si Mbak cantik penjaga stand, yang saya lupa tanya siapa namanya, barulah saya tahu kalau foto perempuan bernama Maria Ulfah tersebut adalah perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar sarjana hukum, kelahiran Serang – Banten. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Urusan Sosial di Kabinet Syahrir. Saya cukup kaget mengetahui kenyataan bahwa saya, yang kelahiran Serang ini saja tak mengetahui fakta tersebut. Si Mbak cantik penjaga stand-nya sendiri bilang kalau bahkan Gubernur Bantennya (Rano Karno) saja baru mengetahui fakta tersebut saat pembukaan acara Pameran Cagar Budaya pada Rabu, 28 Oktober lalu. Ah, ya sudahlah yah, berarti saya dan kedua kawan saya nggak kudet-kudet banget.😀

Oto Iskandar

Buku yang saya dapatkan saat mengunjungi stand Museum Perumusan Naskah Proklamaasi.

Mengetahui fakta tersebut, ada kebanggan tersendiri karena ternyata Banten, selain memiliki Hussein Jayadiningrat, yang merupakan pribumi pertama yang meraih gelar doktor di Indonesia, juga memiliki Maria Ulfah, perempuan asal Banten yang merupakan perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar sarjana hukum.

Di stand tersebut saya diberi pin berfoto Maria Ulfah dan dua buku yang diterbitkan Museum Perumusan Naskah Proklamasi berjudul “R. Oto Iskandar di Nata” (di Nata? Ejaannya benar begini bukan sih? Di bukunya tertulis begitu) dan “Edisi ke-3 Katalog Koleksi 2015”.

Si Mbak cantik penjaga stand-nya bilang, bagi kamu yang memiliki TBM atau perpustakaan umum yang berminat dikirimkan buku-buku yang diterbitkan Museum Naskah Proklamasi, bisa mengirim permintaan lewat email. Nanti akan dikirimkan buku-bukunya. Alamat emailnya bisa kamu dapat di website-nya, www.munasprok.or.id. Atau bisa juga memintanya langsung ke museumnya di Jl. Imam Bonjol No.1 Jakarta Pusat.

 

Pelukis Reggae

Sanggar Art Momonon

Bayu Buana tengah menceritakan proses kreatif lukisan-lukisannya.

Sementara di areal luar Gedung eks Pendopo Gubernur Banten, banyak terdapat stand-stand yang memajang lukisan karya para pelukis di sekitar Banten. Seperti halnya kondisi di dalam gedung, kondisi di luar gedung ini pun tak kalah sepi. Di stand-stand yang berderet memanjang di areal tersebut jarang sekali ada pengunjung yang terlihat. Beberapa stand malah tidak ada penjaganya.

Sanggar Art Momonon adalah salah satu stand yang sempat saya, Yehan dan Mbak Ida singgahi. Kalau dengar kata “momonon”, saya rasa pencinta musik reggae langsung bisa mengaitkan kata itu dengan apa kan? Hhe. Yup! Momonon ini identik sekali dengan musik reggae. Maka tak heran kalau para pelukis yang karyanya dipajang di stand tersebut juga temasuk pemain musik reggae.

Bayu Buana, anak reggae sekaligus pelukis muda asal Rangkasbitung yang kami temui di stand tersebut banyak bercerita mengenai proses kreatif di balik terciptanya beberapa lukisan karyanya yang dipamerkan di situ. Rupanya ada kesamaan antara pelukis dan penulis. Mereka sama-sama akan merasa lebih produktif berkarya ketika mereka tengah galau.😀

 

Clive Verrel; Apa Adanya, Polos, tapi Nyeni

Lukisan Clive Verrel.

Lukisan Clive Verrel.

 

Lukisan Clive Verrel.

Lukisan Clive Verrel.

Di antara banyak stand yang diisi oleh lukisan para pelukis dewasa yang dipamerkan di Pameran Cagar Budaya ini, saya menemukan satu stand yang isinya lukisan-lukisan karya Clive Verrel, anak berkebutuhan khusus berusia 11 tahun.

Lukisan-lukisannya terkesan polos dan jujur. Terlihat apa adanya, tapi kalau kita meneliti benar-benar dari hasil sapuan kuasnya, terlihat sekali teknik sapuan kuas Clive bukan sapuan asal jadi.

Menurut ibunya, Christiana Young, Clive ini bisa menghabiskan waktunya seharian hanya untuk melukis kalau tidak diingatkan untuk berhenti.

Masih menurut ibunya, Clive biasanya melukis hal-hal yang baru saja ditemuinya. Misalnya, setelah dia bermain dengan kawan-kawannya, ia akan menuangkan itu ke dalam lukisannya. Jadi, hampir seluruh lukisannya menggambarkan apa-apa yang pernah dialaminya.

 

Edisi Dibuang Jangan

Beberapa foto berikut ini adalah beberapa foto yang berhasil diambil, baik diam-diam maupun terang-terangan, dari kunjungan ke acara Pameran Cagar Budaya di eks Pendopo Gubernur Banten.

Beberapa handy craft yang dipamerkan di salah satu stand milik mahasiswa Untirta Serang.

Beberapa handy craft yang dipamerkan di salah satu stand milik mahasiswa Untirta Serang.

 

Beberapa handy craft yang dipamerkan di salah satu stand milik mahasiswa Untirta Serang.

Beberapa handy craft yang dipamerkan di salah satu stand milik mahasiswa Untirta Serang.

 

Asyiknya melukis bersama!

Asyiknya melukis bersama!

 

Mengintip salah satu pelukis yang tengah melukis langsung di stand-nya.

Mengintip salah satu pelukis yang tengah melukis langsung di stand-nya.

 

Mengintip beerapa hasil karya seni dari batang pohon.

Mengintip beerapa hasil karya seni dari batang pohon.

 

Edisi Narsis

Berfoto narsis adalah salah satu hal penting yang kami lakukan dalam setiap perjalanan yang kami lakukan.😀

Tadinya, foto-foto edisi narsis ini banyak, sayangnya, begitu saya meminta hasil foto-foto narsis itu pada kawan saya, Mbak Ida, katanya foto-foto narsisnya terdelet semua. Huks! Jadi hanya ini yang tersisa.

Pameran Lukisan1

 

12212133_1005624726148366_899994168_n