Oleh: Poetry Ann

Mawar

Ingat bunga mawar, ingat satu kejadian.

Ini terjadi saat saya remaja, di salah satu komplek yang pernah keluarga saya tinggali.

Ada seorang kawan yang mengundang saya ke acara perayaan hari ulang tahunnya. Sialnya, saya lupa dengan undangan itu. Padahal, kawan itu termasuk kawan dekat saya. Rumahnya juga hanya selisih satu gang dari rumah saya.

Awalnya, saya memutuskan untuk tidak datang. Tapi, karena saya tak bisa menemukan alasan tepat untuk tak datang, akhirnya saya putuskan untuk tetap datang. Akibatnya, malam itu, di saat kawan saya yang lain pergi ke tempat kawan yang ulang tahun itu dengan kado di tangan masing-masing, saya malah kelabakan memikirkan kado apa yang bisa didapat dan dibungkus secepatnya. Beruntungnya, ternyata bukan cuma saya yang merasakan hal tersebut. Dua kawan saya yang lain juga mengalami hal yang sama.

Singkatnya, berembuglah kami bertiga di tempat saya untuk sama-sama mencari jalan keluar agar kami bisa tetap datang ke perayaan ulang tahun kawan kami dengan kado di tangan. Berbagai benda yang kami punya kami coba pertimbangkan untuk dijadikan hadiah. Tapi, di antara benda-benda yang kami miliki itu, tak ada benda yang benar-benar baru dan dinilai pantas untuk dijadikan kado.

Beberapa menit berikutnya, kami masih memaksakan diri untuk mencari benda apa saja yang memungkinkan untuk kami buat kado. Lagi-lagi, tak juga kami dapati satu benda pun yang pantas untuk dijadikan kado. Di saat itulah, entah ilham dari mana, melintas satu ide yang mengakhiri kebuntuan kami di kepala saya.

Saya mengajak kedua kawan saya untuk pergi ke rumah salah seorang kawan saya yang lain. Sebut saja namanya Dan. Rumahnya hanya berselisih dua rumah dari tempat tinggal saya. Kedua kawan saya awalnya masih tidak mengerti mengapa saya mengajak mereka ke rumah Dan karena saya masih menyembunyikan ide yang tiba-tiba menghampiri saya tadi. Saya menyimpan ide itu sendiri sampai kami sampai di rumah Dan, memasuki rumahnya untuk meminta beberapa tangkai mawar yang tumbuh di halaman samping dan depan rumanya pada ibu Dan.

Setelah ibu Dan menanyakan untuk tujuan apa saya meminta mawar tadi, beliau mengizinkan saya untuk memetiknya beberapa. Saya bilang, saya hanya akan memetiknya sesuai jumlah kami. Masing-masing satu tangkai. Kedua kawan saya masih tak mengerti untuk apa saya meminta mawar-mawar itu. Setelah saya jelaskan, bukannya senang, keduanya malah tampak ragu dan menganggap ide yang saya jelaskan tadi konyol.

“Ngasih hadiah mawar sama sesama cewek?” Mereka menganggap ide saya ini aneh. Masak cewek ngasih mawar ke cewek? Mereka pikir, bunga mawar bukanlah hadiah yang bisa dibilang keren dan romantis kalo mawar itu berasal dari sesama cewek.

Saya cuma tertawa menanggapi pendapat mereka itu. Memangnya mereka punya ide yang lebih keren dari ini? Tak ada! Tak ada satu pun di antara keduanya yang memiliki ide lain.

Kedua kawan saya masih tampak ragu menerima ide saya itu ketika Dan muncul di hadapan kami. Dan tampak agak heran mendapati kami di rumahnya. Begitupun dengan saya dan kedua kawan saya yang heran mendapati dia masih ada di rumah dengan celana pendek dan kaus singletnya. Baik dia maupun saya dan kedua kawan saya mengira, kami masing-masing saat itu tengah berada di tempat kawan kami yang ulang tahun itu. Sebut saja namanya Yang.

Setelah saling bertanya, teranglah mengapa Dan masih ada di rumahnya. Ternyata dia senasib dengan kami; sama-sama tak punya kado. Bedanya, saya dan kedua kawan saya tak punya kado karena kami memang lupa tak menyiapkannya. Sementara, Dan mengaku dirinya tak memiliki cukup uang untuk beli kado hingga dia memutuskan untuk tidak datang ke acara ulang tahun itu. Tapi, begitu saya menceritakan padanya tentang niat saya untuk menjadikan bunga mawar yang saya minta dari ibunya itu kado buat Yang, lain dari reaksi kedua kawan saya yang tadi, Dan justru menyambut ide saya itu dengan semangat. Dia bilang, “Ide lo brilliant! Kenapa gue nggak kepikiran ke situ. Padahal gue sendiri yang punya banyak bunga mawar di sini.”

Alhasil, datanglah kami berempat ke tempat Yang. Datang berbarengan dengan hadiah yang sama; setangkai bunga mawar yang masih segar. Sayangnya, hadiah yang sama itu ternyata tidak mendapat sambutan yang juga sama dari si penerima hadiah. Yang menyambut ketiga tangkai mawar dari saya dan kedua kawan saya dengan ekspresi sekadarnya. Lain dengan mawar dari Dan, Yang menyambutnya dengan tampang antusias dan terlihat begitu senang. Hah! Saya sebal. Begitupun dengan kedua kawan saya. Tapi, tidak dengan Dan. Dia terlihat lega karena setangkai mawar yang bagi dia bukan hadiah yang seberapa itu ternyata dianggap istimewa oleh Yang. Bahkan mawar darinya ditempatkan terpisah dengan ketiga mawar pemberian saya dan kedua kawan saya.

Hal yang ditunjukkan Yang berikutnya membuat kedua kawan saya tambah sebal lagi. Terlebih saya! Bayangkan, hampir di sepanjang acara perayaan ulang tahunnya, Yang terus-terusan mencuri waktu demi menciumi bunga mawar pemberian Dan. Tak hanya itu, malam itu dia juga menjadikan Dan bintang di perayaan ulang tahunnya. Kue tart potongan pertama dia berikan pada Dan. Saat sesi acara makan bareng tiba, Dan juga diperlakukannya dengan istimewa. Saat acara bebas, diberinya Dan kesempatan untuk beberapa kali menampilkan kebisaannya breakdance di depan semua undangan. Dan benar-benar menikmati semua itu. Kedua kawan saya bilang, dia menikmati apa yang seharusnya saya nikmati karena ide memberi hadiah mawar itu datang dari saya. Tapi, bukan itu sebenarnya yang membuat saya sebal pada Dan dan Yang. Saya sebal pada Yang karena dia memperlakukan mawar saya dan kedua kawan saya yang lain berbeda dengan mawar pemberian Dan. Saya sebal pada Dan karena dia saya anggap sama sekali tak punya hati. Menikmati kesenangannya sendiri tanpa sedikitpun menunjukkan empati pada saya dan kedua kawan saya yang diperlakukan berbeda dari dirinya itu, padahal ide menghadiahkan setangkai mawar itu datang dari saya. Maka, karena alasan itulah, di saat yang lain menikmati acara bebas yang suasananya riuh tadi, yang notabene memang tak begitu saya sukai, diam-diam saya menyelinap untuk menukar posisi bunga mawar pemberian Dan dengan salah satu mawar di antara tiga mawar yang lain. Saya tak tahu pasti dengan mawar siapa mawar pemberian Dan itu saya tukar. Entah dengan mawar saya atau kedua kawan saya, saya tak terlalu peduli. Yang penting ditukar, itu saja.

Kejadian berikutnya benar-benar membuat saya dan kedua kawan saya cekikikan. Yang yang tidak tahu kalau saya telah menukar bunga mawar Dan tadi, masih menyangka kalau mawar yang dia tempatkan terpisah itu mawar pemberian Dan. Seperti apa yang dilakukannya sebelumnya, dia terus-terusan mencuri kesempatan untuk menciumi mawar itu. Dan di mata kami, apa yang dilakukannya itu benar-benar tampak bodoh. Sangat bodoh. Entah bunga siapa yang sebenarnnya dia ciumi itu. :v

Satu jam setelahnya, saya agak menyesali perbuatan saya itu.

Dalam perjalanan pulang, ketika Dan terus nyerocos soal kegembiraannya yang saat itu tengah meliputinya, sementara saya tampak tak acuh dengan cerocosannya itu, Dan mengatakan sesuatu yang membuat saya sadar kalau ternyata dia sama sekali tak mengabaikan andil saya atas kesenangan yang didapatnya malam itu. Dia bilang, “Gue seneng akhirnya malem ini temen-temen kita jadi pada tahu kemampuan gue. Mulai malam ini mereka nggak akan lagi nyepelein gue. Dan itu semua berkat lo! Berkat ide lo ngasih hadiah bunga mawar itu.” Dia mengatakan itu dengan cengiran. Saya tergelak saat itu. Lebih tergelak lagi begitu saya tahu kalau ternyata dia sebenarnya tahu ketika saya diam-diam menyelinap di antara teman-teman kami untuk menukar posisi mawarnya dengan salah satu di antara ketiga mawar yang lain. Dan dia sama sekali tak keberatan. Di balik itu, dia mengakui kalau dia sendiri juga sebenarnya agak risih begitu melihat Yang terus-terusan menciumi mawar pemberiannya itu. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Yang bakal memperlakukan mawar pemberiannya itu dengan sebegitunya.

Setelah saya mendengar pengakuannya itu, saya tambah tergelak. Lalu saya menceritakan padanya tentang pengakuan Yang yang diam-diam menyukainya. Dia terkejut dan mengeluarkan serapah. Dia bilang, “Kenapa lo nggak pernah bilang soal itu?! Kalo gue tahu soal itu, gue nggak akan mau ngikutin ide lo buat ngasih hadiah bunga mawar! Sial! Sekarang dia pasti mikir kalo gue juga suka sama dia. Dan itu gara-gara lo!” Lalu dia pulang mendahului saya dengan perasaan dongkol. Sementara saya terlongo dengan responnya barusan. Ingatan saya kembali melompat pada kejadian menjengkelkan di perayaan ulang tahun Yang tadi. Rasa kesal yang sebelumnya saya rasakan terhadap Dan kembali terbit. Ada juga gue yang mestinya ngambek sama lo! Sungut saya dalam hati.

Lepas dari kejadian itu, sebenarnya, saya, Dan dan Yang itu bisa dibilang kawan yang bisa saling mengisi. Dengan karakter kami yang sangat berbeda, tapi saling mendukung satu sama lainnya, kami bisa menjadi kawan baik jika saja kami bertiga tidak banyak berselisih dan bertengkar. Dan yang senang dengan kepopuleran, Yang yang senang memfasilitasi kepopuleran yang diinginkan Dan, dan saya yang berada di antara keduanya, yang lebih nyaman bermain di belakang layar, sama-sama saling terkait dan menguntungkan.

Kalau diibaratkan dalam dunia industri kreatif, Dan yang memang memiliki fisik, tampang dan kemampuan lumayan itu artisnya, Yang produsernya, sementara saya pekerja kreatifnya. Hhhahaa…! Sayangnya, hubungan pertemanan kami tidak sebaik itu. Sejak kecil kami bertiga sudah sering berselisih dan bermusuhan. Saling memberi pelajaran satu sama lain. Yang, yang dikenal paling cengeng dan centil di antara kawan-kawannya yang lain itu sering saya dan Dan kerjai sampai nangis dan ngadu ke mamanya. Dan, yang kadang berlaku sombong itu sering saya dan Yang musuhi sampai dia mau menyadari kesombongannya. Sementara saya, yang waktu itu sering mem-bully mereka kadang dijauhi oleh Dan dan Yang sampai saya bersedia meminta maaf pada keduanya.

Meski begitu, pertemanan kami bertahan hingga kami sama-sama melewati fase remaja. Begitu beranjak gede, ketika saya mesti pindah dari komplek itu, kami masing-masing tahu, bahwa kami memiliki cerita dan jalan hidup yang berbeda. Yang, yang dulu terkenal super cengeng, centil, dan diam-diam menyimpan rasa terhadap Dan itu kini sudah menikah dengan lelaki lain dan memiliki anak. Saya yang sampai sekarang masih disangka anak SMA oleh penjaga perpustakaan ini menjalani hidup dengan mimpi-mimpi saya. Sementara Dan, lenyap. Saya tak pernah lagi mendengar kabarnya sejak saya pindah dari komplek itu. Mungkin dia sudah menikah dengan salah satu cewek cantik dan kaya yang dulu pernah dimanfaatkannya demi kepopuleran yang diinginkannya.😀

Ah, Tuhan, tiba-tiba saja saya kangen mereka. Dua orang menyebalkan itu.

*Tulisan di sela-sela waktu ngedit😀