Oleh: Poetry Ann

1511121_714179738690199_7863909136674846469_n

 

Judulbuku       : Han River’s Love Story

Penulis             : Rama Firdaus

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Jumlahhal        : 456 halaman

Cetakan           : April 2014

ISBN               : 978-602-1614-09-9

 

Hal pertama yang menarik perhatian saya ketika buku kiriman dari Indiva ini sampai di tangan saya adalah covernya. Saya rasa, hampir setiap pembaca akan setuju kalau saya bilang, cover adalah salah satu unsur terpenting dalam usaha menarik perhatian calon pembaca atau calon pembeli buku. Dan desain cover novel “Han River’s Love Story” ini saya nilai berhasil menarik perhatian saya. Covernya manis, didominasi warna-warna kalem, adem dan terkesan ringan.

Begitu membaca tulisan yang ada di bagian cover belakangnya, saya mulai menebak-nebak isinya. Dari tulisan di paragraf pertama, kedua dan dua baris awal di paragraf ketiga, saya menebak novel ini berisi kisah cinta antara Syifa Nabila (gadis asal Mesir) dengan Rashid Mahmud (pemuda asal Turki) yang dipertemukan di Korea. Jadi, settingnya sebagian besar di Korea. Saya pikir, apa menariknya? Dalam kepala saya, sudah terbayang kisah cinta ala serial drama Korea yang kebanyakan para tokohnya akan dipertemukan, lalu bermusuhan, tapi kemudian saling jatuh cinta dengan bumbu-bumbu romance yang membuat banyak gadis “klepek-klepek” sekaligus dibanjiri air mata. Baru pada saat lanjut membaca paragaraf ketiga dari tulisan tersebutlah saya tertarik lagi dan mulai penasaran.

“… Sementara tanpa mereka tahu, masing-masing keluarga mereka ternyata menyimpan sebuah rahasia besar yang saling berhubungan satu sama lain. Sebuah rahasia yang kelak menjadi bom waktu.”

Begitu saya selesai membaca prolog dan dua episode awal novel yang terbagi menjadi sepuluh episode ini, bayangan saya mengenai kisah cinta ala serial drama Korea belum sepenuhnya lenyap.

Memang di bagian prolog dan episode satu saya tidak menemukan kesan tersebut. Tapi, begitu memasuki episode kedua, kesan kisah cinta ala serial drama Korea mulai saya rasakan.

Pada bagian yang mempertemukan kembali Syifa dan Bayu (mahasiswa asal Indonesia) di SNU (Seoul National University) yang dimulai dengan cara saling tabrakan, buku-buku yang dibawa terjatuh, meminta maaf, lalu Bayu membantu memunguti buku-buku tersebut, sempat membuat saya jengah karena adegan seperti itu sudah terlalu sering saya temui, terutama di sinetron. Terlebih, di dua episode awal ini, penulis terlalu banyak menggunakan diksi “kata” pada keterangan setelah dialog. Pada halaman 24 misalnya. Saya menemukan penggunaan diksi “kata” setelah dialog si tokoh empat kali berturut-turut dalam satu halaman. Kemudian pada halaman 31, penggunaan diksi “kata” tersebut lebih banyak lagi saya temukan. Enam kali berturut-turut dalam satu halaman. Hal tersebut membuat dialog yang dibangun terasa garing dan agak membosankan.

Saya rasa, akan jauh lebih baik kalau penggunaan diksi “kata” pada beberapa dialog diganti dengan diksi lain agar lebih variatif. Diganti dengan “ujar” atau “ucap” misalnya. Atau ditiadakan saja. Tak mesti setiap dialog diberi keterangan “kata Syifa” atau “kata Laila” misalnya. Apalagi kalau dialog tersebut hanya terjadi antara dua orang. Langsung pada deskripsi atau narasi yang menerangkan gestur atau apa yang dilakukan si tokoh ketika melontarkan dialognya, justru saya rasakan lebih membuat dialog tersebut lebih hidup. Pada dialog berikut ini misalnya;

“Benarkah?” kata Laila, berbalik badan ke belakang. Matanya dipicingkan dengan penuh selidik, “Kau masih ingin ke Korea, Syifa?” (hal 31)

Saya coba membacanya jadi begini;

“Benarkah?” Laila berbalik badan ke belakang. Matanya dipicingkan dengan penuh selidik, “Kau masih ingin ke Korea, Syifa?”

Buat saya pribadi, jadi terasa lebih nyaman dan enak dibaca.

Tapi selepas itu, pada episode ketiga dan seterusnya, saya mulai merasakan kalau novel ini berbeda dari kisah-kisah cinta ala serial drama Korea yang saya bayangkan di awal. Gambaran tentang kehidupan umat Islam di Korea pun mulai lebih dimunculkan lewat detil setting kawasan Itaewon di distrik Yongsan yang merupakan pusat aktivitas umat muslim di Korea. Kebudayaan dan tempat-tempat bersejarah di Korea juga mulai menarik saya kembali untuk terus membaca novel yang ditulis Rama Firdaus ini.

Aksi balas dendam yang dilakukan Rashid terhadap Syifa pada saat menghadiri acara Festival Kebudayaan Korea di Istana Cangdeok yang diadakan oleh beberapa mahasiswa SNU yang dua di antaranya adalah kawan Syifa, yaitu Bayu dan Seung-Hee, menjadi titik awal berakhirnya perseteruan Syifa dan Rashid setelah beberapa kejadian lain yang membuat keduanya mengalami pergulatan batin dan berujung pada perubahan dalam kehidupannya masing-masing.

Perlakuan Rashid yang nyaris menodai kehormatan Syifa menjadikan Syifa gadis yang lebih tertutup. Ia yang memang sudah sejak awal berpenampilan serba menutup aurat memutuskan untuk menggunakan cadar dan membatasi pergaulannya dengan laki-laki. Sementara, di sisi lain, Rashid yang awalnya dikenal sebagai sosok pemuda yang hobinya menceburkan diri dalam kesenangan duniawi, termasuk satu di antarnya mempermainkan wanita, benar-benar menyesali apa yang telah dilakukannya terhadap Syifa begitu tahu Syifa mengalami trauma hebat. Penyesalan yang pada akhirnya menuntunnya pada jalan Allah atas bantuan kawan seangkatannya, yaitu Izzet dan Safiye. Pelan-pelan ia mulai mendalami Islam, agama yang disandangnya sejak lahir, tapi sama sekali belum dikenalnya. Kedua orang tuanya yang memang merupakan keturunan dari pendukung utama gerakan sekuler Mustafa Kemal Attaturk tak pernah memperkenalkannya pada ajaran-ajaran Islam.

Usaha Rashid untuk mendapatkan maaf dari Syifa membawa mereka pada kejadian-kejadian yang membuat keduanya semakin dekat pada Tuhannya. Tak hanya Rashid dan Syifa, bahkan Seung-Hee, yang nonmuslim, juga Bayu yang terlibat cinta segi tiga dengan Rashid dan Syifa pun merasakan hal yang sama. Seung-Hee mulai tertarik pada Islam setelah dirinya menemukan kebaikan-kebaikan dan kedamaian ajaran Islam dari keempat kawan satu apartemennya (yang kesemuanya beragama Islam), terutama dari Syifa, juga kawan lainnya yang ia kenal di Islamic Center. Begitu juga dengan Bayu. Rasa sukanya pada Syifa membuatnya semakin tertarik pada ajaran agama yang sudah sejak lahir dianutnya itu meski tetap saja ia masih tak bisa menghilangkan rasa curiga dan tak sukanya terhadap Rashid.

Kemudian di episode sembilan, clue-clue yang menuntun pembaca pada rahasia besar keluarga Syifa dan Rashid mulai dimunculkan. Bermula dari Rashid yang menerima telepon dari kakak perempuannya di Turki, Esra, yang memintanya mencari tahu mengenai Syaikh Kheyruddin Umar, nama yang ditemukannya pada arsip yang dokumennya diberi judul “Dokumen Terlarang” milik kakek buyutnya yang berpuluh-puluh tahun lamanya tersembunyi di loteng rumahnya. Esra sengaja menyusup ke loteng demi memuaskan rasa penasaran yang dipendamnya sejak kecil, tentang mengapa almarhum kakeknya melarang keras dirinya, saudara-saudaranya, bahkan ayahnya sendiri memasuki loteng tersebut.

Dari satu nama itulah Rashid mulai mengetahui sejarah kelam Islam di negerinya, Turki. Membawanya pada peristiwa pembantaian para anggota organisasi Gerakan Pembela Khalifah yang mati-matian mempertahankan ajaran-ajaran Islam di Turki yang dilakukan Mustafa Kemal Attaturk (yang membenci Islam) pada masa Sultan Abdul Majid II, tepatnya tahun 1924.

Sayangnya, hingga episode terakhir saya tidak menemukan kelanjutan dari terungkapnya misteri tentang rahasia besar yang berpuluh-puluh tahun disembunyikan kedua keluarga besar Syifa dan Rashid tersebut. Bahkan kelanjutan dari kisah cinta antara Syifa yang pada akhirnya merasakan cemburu pada kedekatan Rashid dan sahabat dekatnya, Shaeng-Hee, juga sebaliknya, Rashid yang cemburu pada kedekatan Syifa dengan Bayu pun tidak saya temukan. Saya merasa ending novel ini belum selesai. Atau mungkin memang sengaja dibuat tidak selesai karena sudah direncanakan akan ada buku kelanjutannya? Entahlah. Jika memang begitu, tentu saja kelanjutan dari novel “Han River’s Love Story” ini patut dinanti karena clue-clue yang saya temukan di dua episode terakhir telah berhasil membuat saya penasaran, dan semoga tidak mengecewakan.

Di luar dari ending yang belum memberi klimaks atas keseluruhan isi novel, juga beberapa kesalahan ketik dan susunan kalimat yang kurang enak dibaca, novel yang bermuatan ajaran-ajaran Islam ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk dibaca. Terutama bagi para anak mudanya.

Sebenarnya saya sendiri merasa tertipu oleh novel ini. Tertipu dalam arti yang “baik” karena cover dan layout novel ini (packaging-nya), yang sama sekali tidak menampilkan kalau novel ini termasuk ke dalam bacaan bernafas islami, membuat saya, yang notabene biasanya kurang tertarik dengan novel-novel bernafas islami, jadi terjebak untuk membacanya dan tak bisa keluar begitu mendapati ajaran-ajaran bernafas Islam tersebut dileburkan dalam jalinan cerita dan dialog-dialog yang tidak terkesan menggurui. Banyak hal, terutama mengenai pergaulan seputar anak muda dalam Islam, yang pada akhirnya saya dapatkan dari novel ini.