Oleh: Poetry Ann

Setelah di beberapa bulan terakhir di tahun 2014 lalu dan di awal tahun 2015 ini tiba-tiba saja merasa semua puisi yang saya baca tak lagi ada yang menarik (termasuk puisi-puisi saya) dan tak juga mampu menelurkan puisi satu pun, saya pikir, saya sudah kehilangan ketertarikan saya terhadap puisi. Niatan untuk bisa membuat kumpulan puisi tunggal tahun ini pun sempat ingin saya urungkan. Berkali-kali saya menghadiri acara yang ada pertunjukan puisinya di Rumah Dunia, bahkan sempat ikutan baca puisi dan semuanya berakhir tanpa kesan apa pun dalam diri saya. Semuanya terasa biasa. Tak ada lagi yang menarik. Mungkin saya juga telah kehilangan puisi. Sama seperti yang diakui oleh seorang kawan saya. Rasanya kembali seperti dulu, kembali tak acuh pada puisi. Buku-buku puisi yang sempat saya ambil dari rak buku dan saya baca pun pada akhirnya hanya berakhir dengan kebosanan. Sampai kemudian malam tadi datang. Malam yang membuat saya begitu menggigil kedinginan.

Malam peringatan seratus hari almarhum nenek, seperti biasa, tiap kali ada peringatan semacam itu, rumah saya akan ramai oleh kedatangan keluarga besar. Dan tentu saja, sementara para ibu sibuk memasak untuk persiapan peringatan seratus hari almarhum nenek keesokan harinya (hari ini), sayalah yang kebagian tugas mengawasi sepupu-sepupu kecil saya agar mereka tak mengganggu emaknya yang tengah sibuk memasak itu. Maka kali ini saya pilih untuk menggiring mereka semua ke ruang tamu, mengajak mereka nonton film yang tersedia di laptop. Saya sodorkan beberapa film kartun pada mereka, di antaranya, film Dragon Ball, One Peace, Doraemon dan Kungfu Panda. Lalu pilihan jatuh pada film Kungfu Panda.

Sekitar setengah sebelas kegiatan nonton film selesai. Laptop saya matikan. Saya menyuruh mereka semua untuk tidur, tapi ternyata, dalam suasana ramai begitu, menyuruh anak-anak kecil untuk cepat tidur adalah usaha yang sia-sia. Bukannya pergi tidur, mereka malah menghambur ke dapur, kembali mengganggu emaknya masing-masing yang belum juga selesai memasak. Sementara saya sudah tak tahan ingin terpejam. Akhirnya, saya biarkan saja mereka mengganggu emaknya dan saya tertidur.

Di tengah malam, ketika semua sudah terlelap, saya terbangun. Biasanya, tiap kali terbangun tengah malam, banyak hal yang bisa saya lakukan, kali ini saya malah kebiungungan. Badan kedinginan, gerimis terdengar. Suasana yang asyik untuk kembali menarik selimut dan meringkuk, tapi saat itu saya sama sekali tak ada keinginan untuk tidur kembali. Sampai kemudian saya meraih buku catatan saya dan mulai menulis. Begitu selesai, saya terkejut senang. Puisi pertama di tahun 2015 berhasil saya tulis. Puisi yang tetap saja masih terlihat tidak menarik di mata saya, hingga saya membuka dan membacanya kembali pagi ini. Setidaknya, saya tak lagi merasa kehilangan puisi.😀

Poetry Ann
PADA TEPI HUJAN

Entah apa yang tampak di matanya
hingga hujan lupa kapan waktu berhenti
“bagaimana kalau Tuhan buta?”
jemarinya menyentuh pelan pakaian
yang masih saja basah
setelah seminggu bertahan di tali jemuran

“Bagaimana kau bisa yakin kalau Tuhan punya mata?”
dia menoleh dengan dagu tersentak
entah apa yang tampak di matanya
hanya kelopak bengkak
sisa tangis yang berlomba dengan gerimis magrib kemarin
berganti memandangi potret bocah dengan bibir limau
yang belum juga ditemukan
setelah arus sungai merampasnya

“Aku menemukan suaranya di mimpiku.”

“Siapa? Tuhan?”

Dia tak menjawab
jemarinya kembali menyentuh pelan pakaian
yang masih saja basah
setelah seminggu bertahan di tali jemuran

“Katanya, Tuhan akan mengantarnya.”

“Ke mana? Ke gubug ini?”

Masih tak ada jawaban
entah apa yang tampak di matanya
hanya kelopak bengkak
sisa tangis yang berlomba dengan gerimis magrib kemarin
berganti memandangi kardus-kardus mie instan
yang telah payah
berhari-hari menantang angin yang tak lagi ramah
juga gelegar petir yang kian serak

“Dia bilang, dia baik-baik saja.”

“Siapa? Tuhan?”

Lagi. Tak ada jawaban
entah apa yang tampak di matanya
kulihat hujan mulai mereda
selengkung senyum muncul di bibirnya

“Dia datang menjemputku,” katanya
kudengar sengal napas yang sejak tadi
ditenggelamkan hujan muncul ke permukaan
lalu perlahan ikut mereda
sebelum aku sempat melempar tanya

Entah apa yang tampak di matanya
hanya kelopak bengkak
sisa tangis yang berlomba dengan gerimis magrib kemarin
mulai terpejam
berganti dengan lengang dan
suara tangis tertahan dari dada lain yang kini
menemu jawaban

|Januari 2015|| Cimoyan