Oleh: Poetry Ann

 

10430854_10202504386913439_8433655666917944166_n

 

 

Ketika membaca satu per satu puisi-puisi yang termuat dalam buku “Kepada Para Pangeran” ini, saya ingat dengan ulasan buku kumpulan puisi “Sajak-Sajak Tiang Gantungan” karya Sides Sudyarto DS yang pernah saya tulis dan saya berikan pada Toto ST Radik untuk dikoreksi saat mengikuti Majelis Puisi di Rumah Dunia. Di situ saya kemukakan bahwa ada pengetahuan dalam puisi. Sampai saat ini saya tetap percaya, bahwa dalam setiap puisi tentu ada pengetahuan di dalamnya karena puisi tidak serta merta lahir begitu saja tanpa didasari sebuah peristiwa yang didengar, diketahui, dan dialami oleh si penyairnya. Dan pada kenyataannya, saya memang sering kali jadi bisa mengetahui sesuatu hal setelah saya membaca sebuah puisi. Pengetahuan saya juga banyak bertambah setelah saya rajin membaca puisi-puisi karya orang lain. Baik yang saya baca pada antologi-antologi puisi atau pada beberapa media cetak yang memang memuat puisi. Begitu pula yang saya rasakan ketika saya membaca kumpulan puisi “Kepada Para Pangeran” karya Toto ST Radik. Saya mendapatkan banyak pengetahuan sejarah Banten yang selama ini ingin saya ketahui.

Tidak hanya sejarah Banten pada masa kesultanan, tapi juga sejarah Banten pada masa ketika telah menjadi provinsi seperti yang terbaca pada puisi berjudul “Kota yang Berpura-pura”. Dari puisi tersebut saya menangkap gambaran Banten yang selama ini saya lihat: bertebaran slogan-slogan religius yang benar-benar hanya dijadikan slogan semata karena kenyataannya, penduduk Banten tak sereligius yang saya pikirkan. Simak saja pada bait terakhir puisi tersebut: tak pernah ada perjumpaan//hanya tiangtiang besi//yang berpurapura mengucapkan iman.

Ya, yang saya lihat selama ini, di sepanjang jalanan Kota Serang, sering saya menemukan slogan-slogan yang terkesan religius, bahkan bertebaran bangunan masjid di mana-mana yang menampakkan gairah keislaman yang begitu besar kepada setiap pendatang yang baru pertama kali menjejakkan kakinya ke tanah Banten. Tapi, perlahan-lahan kesan religius itu pun luntur ketika para pendatang itu mengetahui, bahwa setiap masjid yang dibangun itu dibiarkan kosong, sepi dan dingin. Masjid-masjid itu hanya dijadikan simbol semata. Masjid-masjid yang bertebaran di setiap penjuru kota itu nyatanya telah kehilangan manusia. Seperti yang diungkapkan Toto ST Radik dalam puisi yang sama pada bait ketiganya: sepanjang jalan//Tuhan kehilangan manusia.

Dalam kumpulan puisi “Kepada Para Pangeran”, saya juga tidak hanya menemukan sejarah tentang kota-kota besar di Banten seperti Serang dan Cilegon saja. Bahkan sejarah tentang daerah terpencil semisal Pontang, Tirtayasa, dan Bayah pun saya dapatkan dalam buku yang memuat karya sepilihan puisi Toto ST Radik dari tahun 1994 hingga 2006 ini.

Simak saja beberapa bait dalam puisi yang berjudul Tirtayasa berikut ini:

1

jalan tanah berdebu

sepanjang tepi irigasi tua

muram dan membosankan

di bawah cuaca terik

 

tak ada lagi perahuperahu berlayar

ke laut utara, melintasi benua

dan sawah yang menghampar

hanya terkapar, garing, putus asa

 

kecuali angin

yang asin

seluruhnya tinggal kepingan kenangan

pucat dan pudar pada banyak bagian

 

o’kampung leluhur

kerajaan yang tumpur

udik yang tersungkur

 

Dari empat bait dalam puisi berjudul “Tirtayasa” itu saja, sudah bisa memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana kondisi Tirtayasa saat itu (di titimangsa ditulis tanggal pembuatan puisi ini: Tirtayasa, 1999) kepada kita yang mungkin belum tahu, atau bahkan belum pernah mendengar tentang keberadaan sebuah daerah yang bernama Tirtayasa. Bahkan bisa jadi, nama salah satu universitas negeri yang menggunakan nama yang sama malah jauh lebih banyak dikenal publik dibanding daerah asli pemilik nama Tirtayasa itu sendiri.

Dari bait pertama saya mendapatkan gambaran tentang kondisi Tirtayasa yang gersang dan cadas. Pada bait kedua, lewat larik yang berbunyi tak ada lagi perahuperahu berlayar//ke laut utara, melintasi benua. Saya membayangkan, bahwa daerah Tirtayasa, dulu, pernah menjadi jalur lalu lintas kapal-kapal atau perahu layar besar seperti halnya Karangantu yang dulu dikenal sebagai pelabuhan besar, di mana kapal-kapal besar dari Eropa melintas dan singgah, yang tentu saja saat ini sudah tak lagi terjadi. Dan hal itu dijelaskan pada bait ketiga, bahwa yang tersisa dari semua kejayaan tadi hanyalah angin yang asin dan kepingan sejarah yang bahkan tak terurus dan telah rusak. Yang kemudian menjadikan Tirtayasa pada kondisi jauh berbeda dari kondisi masa silam. Dari daerah berjaya dan tersohor menjadi daerah udik yang tersungkur, seperti yang dijelaskan pada bait keempat.

Kemudian pada bait-bait berikutnya saya dibawa melompat ke sejarah masa lalu. Sejarah tentang Tirtayasa. Kemudian dilempar kembali ke masa kini. Masa yang telah kehilangan kejayaan: tapi di sini, kini, ingatan telah remuk//tirtayasa yang tua hanya peta lapuk//hancur dimakan bubuk.

Selain itu, saya temukan juga sejarah tentang penyairnya sendiri seperti pada puisi yang berjudul “Aku Datang Dari Masa Depan”, juga beberapa orang yang begitu dekat dalam hidupnya. Seperti puisi berjudul “Selatan” yang ditujukan untuk isterinya, Babay Herlina, “Pada Maghrib Hening” yang mencatat sejarah kelahiran anaknya Radika Dzikru Bungapadi, “Ketika Kau Lahir” yang mencatat sejarah kelahiran anaknya, Radika Aurazahra Bahagiana, juga puisi “Sajak Buat Anakanakku” yang ditujukan kepada kedua puterinya.

Catatan kaki yang sengaja dibuat oleh Toto ST Radik pada kata-kata tertentu sungguh sangat membantu saya memahami arti dan makna puisi-puisi yang termuat dalam kumpulan puisi “Kepada Para Pangeran” ini. Sehingga pesan yang ingin disampaikan si penyairnya pun sampai pada saya sebagai pembacanya.

Ya, puisi semestinya memang tak egois. Tidak sengaja membuat si puisi itu begitu gelap supaya dikatakan puisi tingkat tinggi, yang malah membuat pembaca begitu kesulitan menangkap pesan dan makna yang sebenarnya ingin disampaikan si penyairnya. Jika dirasa catatan kaki itu perlu, maka tak ada salahnya disematkan karena bisa membantu pesan yang ada di dalam puisi tersebut tersampaikan dan diterima dengan baik oleh si pembaca.