Bisnis Adalah Soal Kemurahan Hati

Never Eat Alone

Judul buku      : Never Eat Alone

Penulis             : Keith Ferrazzi dan Tahl Raz

Penerbit           : Gagas Media

Jumlah hal       : viii + 396 halaman

Cetakan           : Pertama, 2011

ISBN               : 979-780-462-3

Saya membaca buku ini sampai dua kali. Bukan karena saya belum paham dengan apa yang diuraikan oleh Keith Ferrazzi dalam bukunya ini, tapi karena kepiawannya merangkai apa yang ingin disampaikannya lewat kata dan susunan kalimat yang begitu mengalir dan menyenangkanlah penyebabnya. Padahal, buku “Never Eat Alone” adalah buku nonfiksi, tapi saya membacanya seperti menikmati buku fiksi. Bahkan melebihi itu.

Jadi, buat kamu para entrepreneur atau yang bermimpi menjadi seorang entrepreneur, buku ini saya rekomendasikan banget buat dibaca. Bahkan buat kamu yang sama sekali tak tertarik menjadi entrepreneur sekalipun, buku ini akan sangat berguna.

Dalam buku ini Keith Ferrazzi meringkas kunci kesuksesannya hanya dalam dua kata, yaitu “kemurahan hati”. Ya, kemurahan hati. Kamu tak salah membaca. Saya yakin matamu juga baik-baik saja. Itulah sesungguhnya kunci kesuksesan dalam bidang apa pun, termasuk dalam bidang bisnis.

Bisnis bukan melulu soal perhitungan untung-rugi. Lebih dari itu, bisnis adalah soal kemurahan hati. Bisnis bukan soal seberapa banyak kita menerima, tapi sebanyak apa kita memberi. Membangun bisnis bukan hanya tentang bagaimana usaha yang kita jalani bisa sukses, tapi tentang bagaimana kita mampu membantu orang lain untuk mencapai kesuksesannya. Itulah kesimpulan yang saya dapatkan setelah selesai membaca buku ini.

Keith Ferrazzi “melihat bagaimana orang-orang yang telah mencapai tingkat profesional tertentu saling membantu”, dan ia kemudian menerapkannya pada dirinya sendiri dengan cara membangun dan memperluas jejaring. Ia percaya, semakin banyak orang yang ia kenal, akan semakin banyak juga orang yang bisa ia bantu. Begitupun sebaliknya, akan semakin banyak juga orang-orang yang akan dengan tulus mau membantunya setiap kali ia membutuhkan. Setiap kemurahan hati yang dijalani akan melahirkan kemurahan hati yang lain, dan akan terus berkembang seperti itu hingga akan semakin banyak orang yang akan terbantu mencapai kesuksesannya.

Berbagai cara bagaimana kita bisa memulai sebuah hubungan dan memperluas jaringan, Keith Ferrazzi paparkan dalam buku ini lewat cerita tentang pengalaman-pengalaman yang pernah dialaminya dari ia masih kecil sampai bisa menjadi mahasiswa di Sekolah Bisnis Harvard, mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Yale, hingga menduduki posisi eksekutif di beberapa perusahaan, mendapat berbagai penghargaan dan bisa mendirikan perusahaannya sendiri, Ferrazzi Greenlight. Baik itu pengalaman baik, ataupun pengalaman buruk yang membuatnya sempat menerima kekalahan, rasa malu, bahkan rasa dikucilkan, tapi justru dari situlah ia belajar.

Secara keseluruhan, kalau dikonversikan ke angka, buku ini saya beri nilai yang nyaris sempurna karena baik isi, gaya penulisannya, desain cover, layout hingga ukuran dan jenis font yang digunakannya, saya suka. Bahkan saya nyaris tak menemukan kesalahan ketik di buku ini. Tapi, tentu saja tak ada yang sempurna di dunia ini. Jadi saya beri nilai 9,8. Yang 0,2-nya saya beri minus untuk dua atau tiga (saya tak ingat pastinya) kesalahan ketik yang saya temukan.

 

 

Iklan

12 tanggapan untuk “Bisnis Adalah Soal Kemurahan Hati

    1. Nekad Publishing baiiik…! Bahkan sangat baik. Akhir tahun kemaren orderan lumayan nambah. Mudah-mudahan tahun ini makin banyak lagi yang mau nerbitin bukunya di Nekad Publishing. Hehee… Amin!

      Ya, jelas nggak ada kabarnya, wong mas nggak pernah nengok efbih kaaan?

      Suka

  1. blog kamu isinya khusus review buku ya?
    ya, untuk bisnis kita harus mau berbagi. dalam komunikasi dan hubungan sosial juga sebenarnya orang-orang harus mau berbagi baru mendapat respon. para pebisnis segitunya mau berbagi mapai marketing dan penjualan ditingkatkan. cuma gak gratis sih. pasti ada harganya. itulah saling berbagi, interaksi dan komunikasi.

    Suka

  2. oh, makin baik to. mau dong tulisan-tulisanku diterbitkan. hihihi… tapi, paling mahal, penerbitan buku biayanya mahal. ngak tertarik kepenerbitan e-buku. jaman sudah berubah. tablet, hape layar 4-5 inch telah merubah banyak hal termasuk pada pola baca buku, koran atau majalah.

    soal komenmu di blogku, soal tulisan panjang, kan sudah kujelaskan pula di postingan. untuk tema2 yang tidak suka paling males baca panjang-panjang… rupanya ini pula kebiasaan yang perlu dirubah…

    Suka

    1. Kalo ibarat bertani, Nekad itu baru menggali tanah. Jadi belum berpikir untuk ke ebook. Nanti mungkin.
      Ebook emang udah merajalela, cuma menurut survey, masih lebih banyak orang yang memilih baca buku secara fisik. Baca buku di ebook pegel ke mata. Hihihi…

      Btw, mau nerbitib buku? Nekad nggak terlalu mahal kok. Hhahaa… *promo

      Suka

  3. Tho thok thok….
    Permisi….
    Mumpung lagi promosi, boleh dong saya dikasih tahu syarat, ketentuan, termasuk biaya untuk nerbitin buku di Nekad…
    Ya, siapa tahu saya bisa nerbitin coretan saya yg berserakan di laptop ini…
    hehhee…

    Suka

    1. Boleee banget, hhee…

      Berhubung Nekad Publishing itu penerbit indie, syaratnya ya tentu mesti ada naskah dan siapin biaya buat proses pracetak dan cetaknya, Mas. Buat tahu biayanya berapa, bisa minta emailnya aja? Ntar saya kirim via email untuk rincian biayanya.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s