Artin tersenyum. “Life is supposed to be more than mere survival, ingat itu.”

“Kau benar, buku itu mengubah segalanya yang kutahu tentang menulis.”

“I knew it would.”

“Tentu saja aku tidak bisa menyetarakan diriku dengan penulis-penulis besar sekaliber Fitzgerald, tapi Max Perkins membuat pekerjaan menulis terdengar—”

“Nyata.”

“Yes, real.”

“Sesuatu yang lebih dari aspirasi.”

“Ya!”

“Like scaling a mountain or swimming with the sharks.”

“Aku tidak pernah menyadari itu sebelumnya.”

“Now, pay attention: good books can change your life. You—” Ia menatapku lekat-lekat “—can change people’s lives.”

“Aku tidak berani berharap.”

“Profesi ini membuatmu gila. Kau mungkin harus menulis selama bertahun-tahun sebelum karyamu dianggap layak untuk diterbitkan. Mungkin karyamu tak kan pernah dianggap layak oleh masyarakat, aku tak tahu. Tapi kau harus terus mencoba. Jangan cari ketenaran. Jangan cari pembenaran. Jangan cari apa-apa kecuali kepuasan diri. Do the best that you can. Be as honest as you can. Dan terus asah kemampuanmu. Tidak ada yang instan tentang profesi ini. You have to earn it the hard way.”

“Kenapa kau selalu membuatnya terdengar seperti mimpi buruk?”

“Kau punya bakat, that’s great. But talent is nothing kalau tidak kau asah dan kendalikan.”

“I don’t know what that means.”

Artin mengangguk, menyandarkan tubuh ke punggung kursi. “You will.”

*Itu bagian yang paling saya suka dalam novel “Winter Dreams” karya Maggie Tiojakin” yang saya pinjam dari Yehan minggu ini.