Coretan Dalam Corat-Coret di Toilet

Gambar cover didapat dari http://ekakurniawan.com/books/corat-coret-di-toilet
Gambar cover didapat dari http://ekakurniawan.com/books/corat-coret-di-toilet

Judul buku : Corat-coret di Toilet

Penulis : Eka Kurniawan

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah hal : V + 129

Cetakan : April 2014

ISBN : 978-602-03-0386-4

Saya tidak bisa mengatakan kedua belas cerpen yang termuat dalam kumcer “Corat-coret di Toilet” karya Eka Kurniawan ini oke semua. Selera saya sebagai pembaca tetap mendominasi. Meski dari catatan di akhir bukunya saya tahu bahwa sebagian besar cerpen tersebut sudah pernah dimuat di media, tetap saja tak bisa mengubah pandangan saya terhadap beberapa cerpennya yang saya anggap tidak, atau setidaknya, kurang menarik.

Cerpen “Kisah dari Seorang Kawan” misalnya. Cerpen tersebut terkesan datar. Tampak seperti curhatan belaka. Konfliknya meruncing hanya pada cerita empat orang mahasiswa tentang ayahnya. Di mana mahasiswa berpostur tinggi dengan baret hitam berbintang merah kecil meniru Che Guevara mengatakan kalau ayahnya adalah seorang tentara yang tak lagi sudi mengiriminya uang setelah tahu aktivitas politiknya. Aktivitas politik seperti apa yang dimaksudnya, saya tak menemukan jawaban tepatnya dalam cerpen tersebut. Kemudian mahasiswa kurus berwajah melankolis mengatakan ayahnya seorang petani kecil yang dianggapnya “orang kalah pertama yang aku kenal”. Lalu si Kaki Pincang menyusul. Dia mengatakan kalau ayahnya seorang guru yang dianggap si Baret Guevara sebagai antek pemerintah, namun si Kaki Pincang tak terima. Dia justru menganggap ayahnya adalah pejuang karena tak pernah korupsi dan kolusi. Ayahnya bekerja sebagaimana seorang guru. Kemudian si Gondrong. Kisah ayah si Gondrong inilah yang rupanya paling mendominasi.

Ayah si Gondrong adalah tahanan yang dua bulan lagi akan bebas dari penjara. Ketiga kawannya menganggap hal tersebut hebat. Lalu meluncurlah cerita bagaimana ayah si Gondrong bisa dipenjara.

Bermula dari aktivitas ayah si Gondrong sebagai pedagang beras kecil-kecilan di sebuah pasar. Aktivitas beradagangnya berjalan baik-baik saja sebelum akhirnya kedatangan Saudagar Kaya yang juga berjualan beras di pasar tersebut. Si Saudagar Kaya menjual berasnya dengan harga jauh lebih murah dari harga yang disepakati para pedagang kecil di pasar. Maka para pelanggan pun memilih untuk membeli beras darinya. Kios para pedagang kecil yang sama-sama menjual beras di pasar tersebut pun menjadi sepi pembeli. Termasuk kios ayah si Gondrong. Untuk menarik pelanggannya kembali, para pedagang kecil tersebut pun sepakat menurunkan harga seperti yang dilakukan si Saudagar Kaya meski risikonya mereka akan mendapatkan keuntungan yang begitu tipis.

Pelanggan pun berdatangan kembali. Stok beras mereka habis. Naasnya, ketika mereka hendak memenuhi kembali stok berasnya, mereka tak bisa lagi mendapatkan beras dari si pemasok karena beras si pemasok telah diborong si Saudagar. Kebangkrutan para pedagang kecil pun mulai membayang di depan mata. Maka mewakili kawan-kawannya, ayah si Gondrong pun menemui si Saudagar agar ia mau merelakan sebagian berasnya dibeli para pedagang kecil. Si Saudagar setuju, tapi dengan kesepakatan yang justru merugikan ayah si Gondrong dan pedagang kecil lain. Alih-alih menyetujuinya, ayah si Gondrong malah lebih memilih untuk membunuh si Saudagar. Pembunuhan itulah yang menyebabkan ayah si Gondrong dipenjara.

Saya mengerti, dalam cerpen tersebut Eka Kurniawan ingin menggambarkan kapitalisme yang membuat orang-orang kecil tak berdaya. Bagai makan buah simalakama. Tidak melawan mati, melawan pun tetap mati. Tapi, untuk penulis sekelas Eka Kurniawan mestinya bisa mengeksekusi pesan tersebut lewat cerita yang lebih menarik seperti yang dilakukannya pada beberapa cerita lain yang sama-sama menggambarkan hal serupa—kekuasaan yang sulit dilawan. Seperti pada cerpen “Peter Pan”, “Corat-coret di Toilet” atau “Siapa Kirim Aku Bunga?”. Di ketiga cerpen tersebut saya menemukan letupan dan kejutan-kejutan kecil yang membuat ketiga cerpen tersebut tak tampak sebagai curhat, ocehan, atau kekesalan belaka.

“Ayolah, Sayang. Tak benar rasa cintaku kering. Mari tinggal di rumahku.”

“Kau laki-laki yang tak sopan. Kalau kau ingin aku jadi isterimu, minta izin kepada ayah dan ibuku. Aku tak ingin jadi nyai apalagi gundik.”

“Mari temui kedua orang tuamu,” kata Henri dengan gemas. Matanya lekat pada wajah cantik itu. “Di mana mereka?”

“Digoel.”

“Digoel?”

“Ya, Boven Digoel.”

“Kenapa di sana?” tanya Henri.

“Kau sendiri yang kirim mereka ke sana.” (hal 75)

Itulah salah satu kejutan yang saya dapatkan dalam cerpen “Siapa Kirim Aku Bunga?”. Bagaimana Henri, seorang kontrolir—pada masa Indonesia masih menjadi Hindia Belanda—yang telah begitu bengisnya mengirim banyak penduduk pribumi ke Boven Digoel yang pada akhirnya jatuh cinta pada seorang gadis pribumi penjual bunga yang ternyata orang tuanya adalah termasuk dari pribumi yang ia kirim ke Boven Digoel.

Pada “Corat-coret di Toilet” saya menemukan kejelian si penulis dalam mengaitkan hal-hal kecil, remeh-temeh, dengan sesuatu yang besar. Dan keasyikan semacam itulah yang tidak saya temukan pada cerpen “Kisah dari Seorang Kawan” yang saya paparkan sebelumnya, juga pada cerpen “Hikayat si Orang Gila”, “Dewi Amor” dan “Kandang Babi”.

Iklan

7 tanggapan untuk “Coretan Dalam Corat-Coret di Toilet

    1. Sebenernya ada novel karya Eka Kurniawan yang pingin habis-habisan saya kritisi. Cuma belum berani. 😀 Abiiis novelnya gilaaa siiih. Tapi saya nggak mau nyebutin judulnya ah. Buku itu bener-bener bahaya. Horrrorr… Grrrh! Saya nggak suka novel itu.

      Suka

  1. Sebutkan judulnya. maksa penasaran sekali saya… Hihihi…

    Ngak usah dikomentari, blogspot memang susah dikomentari pake hape. Beda banget sama Wp. Makanya saya males jawabi, soalnya ngak punya PC.

    Suka

    1. Gkgkgk…! Cari aja buku karya Eka Kurniawan terbitan terbaru 2014. Kayaknya terbitnya barengan buku corat-coret ini deh. Covernya gambar burung. Judulnya ada dendam & rindunya gitu. Kalau ketemu coba baca deh. Saya mau tau komentar dari sisi para pria. hhhahhahaa…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s