Oleh: Poetry Ann

 

Judul Buku                  : Spiritual Creativepreneur

Penulis                          : M. Arif Budiman (CEO PT. Petakumpet Creative Network)

Penerbit                       : Metagraf

ISBN                           : 978-602-9212-17-4

Cetakan pertama         : Mei 2012

Jumlah halaman           : xiii + 218

 

Yang paling melekat di ingatan saya setelah selesai membaca buku ini adalah perihal keyakinan (iman) dan mengatur jadwal salat, yang sangat erat kaitannya dengan jadwal keseharian kita, juga berdampak besar pada kesuksesan bisnis.

Bisnis yang dibahas dalam buku ini adalah bisnis kreatif islami. Yang dimaksud dengan bisnis kreatif islami di sini, bukan bisnis kreatif yang dinilai islami secara packagingnya semata. Seperti bisnis kreatif yang “meminjam” simbol-simbol yang sering dipersepsikan oleh khalayak sebagai representasi Islam. Semisal jilbab, peci, sajadah, Palestina dan jihad yang sering kali menempel di sinetron-sinetron dan banyak produk kreatif bercap islami di Indonesia sekarang-sekarang ini. Bukan juga bisnis yang dibangun dan dijalankan oleh semata-mata orang Islam karena bisa saja, produk keratif yang diciptakan oleh orang nonIslam justru lebih islami ketimbang produk-produk kreatif yang diciptakan orang Islamnya sendiri.

Yang dimaksud dengan bisnis kreatif islami di sini adalah bisnis kreatif yang benar-benar mengaplikasikan nilai-nilai Islam yang bersifat fundamental. Dalam artian, benar-benar berangkat dari kesadaran memaknai dan menerapkan ajaran-ajaran Islam secara utuh dalam bisnis yang dijalaninya.

Meski begitu, rahasia sukses yang saya temukan dalam buku ini tidak hanya bisa diterapkan untuk bisnis kreatif islami, tapi juga bisa diterapkan pada segala jenis bisnis. Termasuk dalam kehidupan sehari-hari kita.

Arif Budiman, penulis buku ini, menceritakan beberapa pengalaman yang dialaminya langsung selama dirinya membangun PT. Petakumpet Creative Network bersama beberapa kawannya, yang berkaitan dengan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, sebagian besar dari kita sudah mempelajarinya sejak di bangku sekolah dasar. Hanya saja, sangat sedikit yang benar-benar memahami dan menerapkan apa yang diajarkan sejak di bangku sekolah dasar tersebut karena kebanyakan guru memperlakukan ajaran-ajaran tersebut sebatas sebagai hafalan; dikenalkan tanpa pemahaman lebih dalam.

Salah satunya adalah pengalaman yang berkaitan dengan rukun Islam yang kedua, yaitu salat. Di awal-awal saat dirinya memulai bisnis, ia dihadapkan pada masalah yang membuatnya mesti menemui ketiga klien dengan jadwal berbeda yang semuanya berdomisili di Jakarta. Sementara, dirinya saat itu berposisi di Jogja dengan keadaan dana cekak dan tak memiliki banyak kenalan di Jakarta. Padahal, pertemuan dengan kliennya tersebut sangatlah penting untuk kemajuan bisnisnya. Alhasil, dia kelimpungan mencari dana untuk memenuhi biaya menginap selama lima hari di Jakarta plus biaya untuk makan.

Berhari-hari dicobanya berusaha mencari dana, tak berhasil juga. Hingga seminggu menjelang pertemuan, dia bertemu dengan salah seorang temannya yang memiliki pemahaman lebih soal ilmu agama. Maka curhatlah dia perihal masalahnya tersebut pada temannya tadi. Setelah temannya tadi mendengarkan ceritanya sampai selesai, temannya itu melontarkan satu pertanyaan yang dia anggap justru sama sekali tak ada nyambung-nyambungnya dengan masalahnya tersebut.

Temannya itu bertanya, “Jadwal salatmu gimana?”

Jelas saja dia kebingungan. Pikirnya, apa hubungannya antara jadwal salat dengan masalahnya tersebut? Berkali-kali dia coba meminta penjelasan tentang hal tersebut, tapi temannya tak juga menjelaskan. Ketika dijawabnya bahwa jadwal salat dirinya selama ini lebih sering dikerjakan di akhir waktu, temannya itu hanya memberi saran padanya agar dia mulai memperbaiki jadwal salatnya. Jika tadinya selalu menunda-nunda waktu salat, disarankan untuk mulai mengerjakan salat di awal waktu. Bahkan kalau bisa, berusahalah untuk berjamaah.

Makin melongolah dia. Waktu dia lagi-lagi minta penjelasan, temannya itu hanya berkata, “Kerjain aja dulu kalau mau. Kalau nggak juga nggak papa. Yang punya masalah kan bukan aku.”

Setelah dipikir-pikir, pada akhirnya dia pun mencoba juga mengikuti saran temannya tadi. Maka sejak saat itu, mulailah dia selalu berusaha untuk salat di awal waktu. Bahkan sebisa mungkin untuk berjamaah.

Dua hari dia menjalankan saran temannya itu, tak terjadi apa-apa. Dana yang ingin dikumpulkannya pun belum juga dia dapatkan meski sudah berusaha. Dia mulai berpikir kalau saran temannya tersebut sama sekali tak ada pengaruhnya.

Di hari ketiga, dia mendapatkan telepon dari salah seorang kliennya di Jakarta yang menyatakan kalau pertemuan yang sudah dijadwalkan hari Senin terpaksa diundur pada hari yang belum bisa ditentukan karena tiba-tiba saja ada rapat mendadak dengan dewan direksi. Maka makin lemaslah dia. Dia berpikir, bukannya mendapatkan solusi atas masalahnya, transaksi bisnisnya malah terancam di-cancel oleh kliennya tadi. Tapi, mengingat waktu sudah benar-benar mepet, sementara dirinya belum juga mendapatkan pinjaman dana, akhirnya diteruskannya juga saran dari temannya itu. Dia tetap menjalankan salat di awal waktu dan tetap berusaha untuk berjamaah.

Hingga di hari berikutnya, dirinya mendapat telepon lagi dari salah seorang kliennya yang lain. Kabar yang diterimanya kali ini membuatnya terperangah. Kliennya tersebut minta jadwal pertemuannya, yang awalnya direncanakan hari Rabu, diundur ke hari Jumat karena pada hari Rabunya kilen tersebut harus menjalani general check-up. Jumat, itu artinya berbarengan dengan jadwal pertemuannya dengan klien ketiganya. Dia senang mendengarnya. Maka dia putuskan untuk bertemu jam sembilan pagi agar tidak bentrok dengan jadwal kliennya yang satu lagi.

Tak lama, dirinya kembali dikejutkan dengan SMS masuk yang diterimanya dari klien pertama yang sebelumnya dikiranya terancam di-cancel. Isinya menyatakan bahwa klien tersebut pun meminta untuk bertemu pada hari Jumat. Hari yang sama dengan jadwal pertemuan dengan kedua kliennya yang lain. Kali ini dia terkejut sekaligus bahagia.

Tentu saja dia bahagia mendapat kabar tersebut karena itu berarti, dirinya tak perlu menginap di Jakarta untuk menemui ketiga kliennya. Artinya juga, dia tak  perlu lagi dipusingkan mencari dana untuk biaya menginap dan makan selama lima hari di sana. Dia bisa menemui ketiga kliennya di hari yang sama, lalu bisa langsung kembali ke Jogja di hari itu juga.

Maka, saran temannya untuk memperbaiki jadwal salat tempo hari pun tak lagi dianggapnya sepele. Dia pada akhirnya menyadari bahwa apa yang dikatakan temannya itu benar. Atur jadwal salatmu, maka Tuhan akan mengatur jadwalmu dengan lebih baik. Dahulukan panggilan Tuhanmu, maka Tuhan akan membantumu. Memberimu keajaiban-keajaiban yang sering kali tak mampu diukur oleh akal.

Dari pengalaman-pengalaman yang dialaminya ketika dirinya memulai membangun bisnis kreatifnya itulah yang kemudian membawanya pada pemahaman, bahwa kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika kita benar-benar dekat dengan Allah. Sedangkan sukses sesungguhnya adalah ketika kita bisa menjalani bisnis dengan jalan kebaikan dan jalan yang diridhai Allah. Dengan kata lain, kebahagiaan dan kesuksesan hanya benar-benar bisa diraih ketika kita yakin dan percaya dengan keterlibatan kekuatan Tuhan.

Arif Budiman membeberkan rahasia sederhana yang selama ini berusaha diaplikasikannya hingga bisnisnya bisa sesukses sekarang. Rahasia sederhana yang seringkali dianggap sepele dan lebih banyak dilupakan. Dirinya mengaplikasikan Rukun Islam dan Rukun Iman dalam mejalankan bisnisnya.

Rukun Islam diposisikan sebagai fondasi awal dalam membangun bisnis. Mengapa begitu? Berikut ini saya uraikan sedikit apa yang saya dapat setelah membaca buku tersebut berdasarkan pemahaman saya sendiri.

  • Syahadat (berkaitan dengan keyakinan). Menurutnya, fondasi terpenting dalam membangun bisnis adalah keyakinan. Keyakinan yang paling utama adalah keyakinan kepada Allah dan RasulNya. Maka sangat penting bagi kita untuk bisa membangun fondasi yang benar-benar kuat. Perlu setidaknya waktu lima tahun untuk bisa benar-benar membangun fondasi yang kuat bagi bisnis yang kita bangun. Maka selama lima tahun pertama, berusahalah untuk fokus pada bagaimana caranya agar bisnis kita memiliki fondasi yang kuat. Niatkanlah segala yang kita kerjakan karena Allah. Jangan terburu nafsu ingin meraup keuntungan besar. Nikmati saja prosesnya lebih dulu. Jika fondasi bisnis kita sudah kuat, keuntungan besar pun akan mengikuti.
  • Salat (berkaitan dengan manajemen waktu). Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, jadwal salat ternyata erat kaitannya dengan jadwal hidup kita. Jika ingin jadwal hidup kita teratur, tidak banyak waktu terbuang, maka perbaikilah dahulu jadwal salat kita.
  • Zakat (erat kaitannya dengan berbagi). Jika ingin bahagia, bahagiakanlah dulu orang lain. Sedekah sudah terbukti bisa melancarkan rezeki. Banyak pengalaman orang lain, baik yang diceritakan dalam buku-buku atau dalam kehidupan sehari-hari kita, atau bahkan kita sendiri pernah mengalaminya, bahwa sedekah nyatanya bukan mengurangi harta kita, tapi justru menambah harta yang sudah kita miliki. Dalam hal ini, termasuk juga ilmu. Berbagi ilmu justru akan menambah ilmu kita. Bukan mengurangi. Maka jangan takut berbagi ilmu bisnis, bahkan kepada saingan kita sekalipun. Jangan khawatir bisnis kita kalah saing.
  • Puasa (erat kaitannya dengan kemampuan menahan diri). Sukses dan punya segalanya bukan berarti kita bebas membelanjakan harta yang telah kita dapat. Kemampuan menahan diri sangat dibutuhkan dalam membangun bisnis. Dalam dunia bisnis, sangat mungkin terjadi masalah atau musibah yang sama sekali tak kita sangka-sangka. Kita tak akan pernah tahu apa yang menghadang bisnis kita di depan. Maka itulah pentingnya menahan diri untuk tidak lekas begitu saja menghabiskan harta atau keuntungan yang kita dapat.
  • Haji (erat kaitannya dengan keikhlasan). Segala hal yang kita dapat di dunia ini, entah itu kesuksesan, harta berlimpah, orang-orang yang kita sayangi, ketika meninggal nanti, mau tidak mau kita akan meninggalkan semua itu. Saat itulah kita dituntut untuk bisa ikhlas jika sewaktu-waktu hal tersebut terjadi. Ibadah haji adalah miniatur kematian di mana saat menunaikan ibadah yang satu ini, kita hanya diperbolehkan mengenakan pakaian ihram. Tak ada perhiasan apa pun yang melekat di badan selain pakaian ihram. Saat itulah kita dituntut untuk ikhlas melepas semua atribut-atribut kesuksesan, gelar, atau apa pun yang kita miliki. Jadi, sesukses apa pun bisnis kita saat ini, persiapkanlah diri untuk ikhlas meninggalkan semuanya kelak jika kematian menjemput.

Jika rukun Islam diposisikan sebagai fondasi bisnis, rukun iman adalah advance levelnya.

Ketika kita menemui begitu banyak hal yang dianggap tak masuk akal, ketika itulah iman berperan. Bagi orang-orang yang beriman (memiliki keyakinan), mereka tak mengenal yang namanya ungkapan “tidak mungkin”. Segalanya mungkin jika kita berpegangan pada Rukun Iman yang ada enam ini:

Pertama, iman kepada Allah. Percaya bahwa tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan (dengan izin) Allah. Maka sering kali orang-orang yang memindahkan Tuhannya, bergantung selain pada Allah, semisal pada uang atau orang-orang berjabatan tinggi dan berpengaruh agar bisa lolos seleksi PNS, bukannya mendapat kesuksesan malah memperberat masalahnya.

Kedua, iman kepada malaikatNya. Ada 10 malaikat yang wajib diketahui umat Islam dari sekian banyak malaikat. Kesepuluh malaikat tersebut memiliki tugas masing-masing yang berhubungan erat dengan kita, manusia. Pada dasarnya malaikat diciptakan Tuhan untuk kebaikan manusia. Karena itu manusia pun mestinya sadar kalau dirinya diciptakan di dunia ini untuk menebar kebaikan-kebaikan pada sesamanya. Maka jadilah “malaikat” bagi manusia lainnya.

Ketiga, iman kepada kitab-kitabNya. Tuhan sudah menurunkan kitab-kitabNya; Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Quran sebagai penyempurna. Maka segala petunjuk yang terkandung dalam kitab Taurat, Zabur dan Injil juga terdapat dalam Al-Quran. Bahkan Al-Quran lebih lengkap. Singkatnya, Al-Quran memiliki segala yang dimiliki Taurat, Zabur dan Injil. Sementara, ketiga kitab tersebut tidak seutuhnya memiliki apa yang dimiliki Al-Quran. Maka Al-Quran diposisikan Tuhan sebagai pedoman hidup yang paling lengkap. Termasuk di dalamnya adalah perihal menjalankan bisnis dengan cara-cara yang baik. Maka bagi yang ingin sukses dalam bisnisnya, pelajarilah Al-Quran.

Keempat, iman kepada RasulNya. Kita bisa mempelajari sifat para Rasul (shidiq, amanah, tabligh, dan fathanah) untuk kemudian menerapkannya dalam bisnis yang kita jalani.

Kelima, iman kepada hari kiamat. Dengan mengimani hari kiamat, mestinya kita pun sadar untuk tidak menunda-nunda berbuat kebaikan selagi masih ada kesempatan. Termasuk berbuat kebaikan dengan cara menjadikan bisnis yang kita jalani sebagai alat untuk menebar manfaat bagi orang lain.

Keenam, iman kepada Qada dan Qadar. Bila kita beriman kepada Qada dan Qadar, mestinya kita jadi terpacu untuk berusaha semaksimal mungkin dengan niat karena Allah dan menyerahkan hasilnya di tangan Allah. Jika kita mampu melakukan hal tersebut, maka apa pun yang terjadi dengan bisnis kita, kita akan selalu yakin bahwa Allah telah memberikan yang terbaik untuk diri kita. Dengan begitu, pikiran kita pun akan selalu dipenuhi dengan pikiran-pikiran positif.

Jadi initinya, seperti yang dikutipkan oleh Arif Budiman, bahwa “perjalanan membangun bisnis adalah perjalanan spiritual menuju Tuhan”. (hal 105)

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang ringan dan komunikatif. Bahkan agak kocak menurut saya. Terkesan tidak serius, tapi serius. Membuat isi yang diurakan si penulis mudah dipahami oleh saya sebagai pembaca.

Hanya ada beberapa kesalahan yang saya temukan dalam buku ini, tapi itu tidak terlalu mengganggu. Misalnya yang saya temukan pada halaman 41. Di situ tertulis: Rp 96 miliar dolar As. Ini jadi agak membingungkan. Bagaimana cara membacanya? Sembilan puluh enam rupiah atau sembilan puluh enam miliar dolar As?

Sementara untuk covernya, yang dihadirkan dengan tiga warna berbeda (buku yang saya baca covernya berwarna oranye), terkesan minimalis. Pemilihan warna-warna terang sangat menguntungkan. Warna terrsebut membuat buku ini terlihat mencolok meski berada di tumpukan atau rentetan ratusan buku lainnya. Penggunaan ukuran font yang cukup besar pada isi buku pun membuat mata pembaca yang sudah minus seperti saya ini tetap nyaman meski membacanya selama berjam-jam.

 

Note: Jangan terlalu percaya dengan ulasan ini. Lebih baik baca sendiri bukunya dan temukan hal lain yang lebih dari ini.😀 Buat yang udah baca bukunya, bisa sharing di sini…