Oleh: Poetry Ann

History-of-earth

Foto dari google

Judul buku : History of Earth; Menyingkap Keajaiban Bumi Dalam Al-Quran
ISBN : 978-602-7888-180
Penulis : Ir. Agus Haryo Sudarmojo
Penerbit : Bunyan (PT. Bentang Pustaka)
Cetakan : Pertama, Maret 2013
Jumlah halaman : xv + 218

Hampir seluruh umat muslim percaya bahwa Al-Quran adalah kitab yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw sebagai penuntun sekaligus petunjuk kehidupan manusia di dunia. Tapi, berapa banyak muslim yang benar-benar membaca dan mempelajarinya? Sangat sedikit. Ir. Agus Haryo Sudarmojo mungkin adalah salah satu dari yang sedikit itu.

Dalam bukunya ini, ia mencoba membagikan pengetahuannya pada pembaca tentang asal mula terbentuknya alam semesta (khususnya Bumi) yang sudah ratusan tahun diteliti oleh para ilmuwan kita, dibuktikan lewat ilmu sains dan mengaitkannya dengan ayat-ayat dalam Al-Quran, di mana sebenarnya, apa yang ditemukan oleh para ilmuwan tersebut sudah dijelaskan oleh Al-Quran jauh sebelum para ilmuwan kita menemukannya (tepatnya pada abad ke-7).

Setelah membaca secara keseluruhan, saya pikir, siklus alam semesta memiliki kesamaan dengan manusia. Pembentukan alam semesta terjadi setelah adanya ledakan kosmis dahsyat dari sebuah titik singular. Dalam sains dikenal sebagai peristiwa Big Bang yang terjadi sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu. Setelah alam semesta terbentuk, dia meluas dan mengembang (inilah yang menjadikan galaksi-galaksi terlihat semakin saling menjauh), seperti yang sudah dijelaskan Al-Quran (QS Adz-Dzariyat [51]:47) yang berbunyi, “Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskan (mengembangkan)-nya”.

Lalu suatu saat nanti, seperti yang sudah dijelaskan dalam Al-Quran (QS Al-Anbiya [21]:104) yang dalam isinya ada bagian yang menyatakan, “Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya”. Artinya, alam semesta akan kembali ke asal sebelum dia meluas (mengembang). Alam semesta akan mengerut kembali. Dalam sains, proses ini disebut peristiwa Big Crunch (ini akan membuat galaksi-galaksi yang tadinya terlihat menjauh, jadi terlihat mendekat kembali. Lalu rapat, saling bertabrakan dan hancur). Maka alam semesta pun akan kembali tiada. Umat Islam mempercayainya sebagai kiamat kubra. Dari tiada kembali ke tiada. Sama halnya seperti manusia. Dia lahir, berkembang, menua (mengerut), lalu tiada.

Dari penjelasan tersebut, jelaslah bahwa alam semesta ini tidak tercipta secara kebetulan. Ada campur tangan Zat yang telah merancang semuanya dengan detil dan terperinci. Dan hal tersebut dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan kita sejak berabad-abad lalu melalui berbagai bidang ilmu, termasuk sains, yang membuktikan bahwa ada proses panjang yang dilalui alam semesta beserta seluruh isinya hingga kondisinya menjadi seperti sekarang ini. Dan proses tersebut jelas memiliki tujuan dan saling berkaitan satu sama lainnya.

Misalnya saja, mengapa Planet Bumi diciptakan lebih istimewa dibanding jutaan planet yang lainnya? Disediakannya udara, gravitasi, air, matahari, bulan, gunung-gunung dan penghuni Bumi lainnya dengan takaran yang pas bagi kehidupan manusia.

Mengapa pada sekitar empat miliar tahun yang lalu Tuhan membiarkan asteroid sebesar Planet Mars menumbuk Bumi hingga kulit Bumi tersobek? Karena sobekan itulah yang kemudian menjadi bagian terbesar bulan karena sebenarnya bulan memiliki inti yang kecil jika saja serpihan dari sobekan kulit Bumi yang masih berusia muda tersebut tidak menyatu dengan bulan. Kejadian tersebut juga membuat poros Bumi memiliki kemiringan sebesar 23,5˚ sehingga siang dan malam dapat bergantian di seluruh permukaannya. Dengan begitu manusia di bumi bisa merasakan nikmatnya siang dan malam secara bergantian. Manusia tidak perlu merasakan panas matahari selama 24 jam. Bisa dibayangkan jika saat itu asteroid sebesar Planet Mars tidak menumbuk Bumi? Tentu Bumi sudah lenyap karena inti panas matahari akan membakar segala yang ada di Bumi.

Lalu mengapa pada sekitar 65 juta tahun lalu Tuhan membiarkan spesies dinosaurus punah? Sama halnya mengapa pada sekitar 250 juta tahun lalu Tuhan membiarkan hampir 70% penghuni Bumi punah akibat benturan asteroid? Dan kita baru menemukan jawabannya berjuta-juta tahun setelahnya, bahwa ternyata pada saat itulah justru Tuhan sebenarnya tengah menyiapkan tempat bagi kehidupan yang lebih baik untuk manusia. Dalam buku ini disebutkan, “berdasarkan data-data paleontologi, kematian dinosaurus menjadi humus ‘hewani’ bagi tanah di daerah tersebut setelah zaman itu. Dan tempat punahnya spesies dinosaurus itu saat ini menjadi laboratorium alam terbesar di dunia, yang letaknya di daerah Jura, Amerika Serikat, yang dimanfaatkan sebagai tempat penelitian manusia era modern terhadap kehidupan dinosaurus. Oleh karena itu, para ahli dapat menyibak misteri cara punahnya serta dapat mempelajari kemungkinan-kemungkinan kejadian tersebut dapat terulang di masa yang akan datang. (hal 163)

Juga mengapa Tuhan menciptakan gunung-gunung berapi di Bumi, padahal seperti yang kita tahu, letusan gunung berapi menimbulkan musibah yang merugikan sekaligus mengerikan?

Kenyataannya, ada manfaat begitu besar yang bisa kita temukan jika saja kita mau sedikit saja beranjak untuk mempelajari Al-Quran. Ditinjau dari segi sains dan Al-Quran, keberadaan gunung berapi di dunia ini sedikitnya memiliki tujuh manfaat bagi kehidupan manusia di Bumi ini, seperti yang diuraikan Ir. Agus Haryo Sudarmojo dalam bukunya ini.

Pertama, sebagai penahan agar Bumi tidak guncang. Hal ini sudah dijelaskan di Al-Quran (QS Luqman [31]:10), di mana isinya ada bagian yang menyebutkan, “Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) Bumi agar ia tidak menggoyangkan kamu.” (hal 169)

Gunung berfungsi sebagai pasak Bumi yang memiliki akar berukuran 10-15 kali lipat dari tinggi gunungnya sendiri, yang menghunjam ke perut Bumi, yang menjadi tempat mengalirnya magma, gas dan material-material lainnya. Akar tersebutlah yang membuat bumi tidak berguncang ketika tekanan gas-gas yang terbentuk di dalamnya semakin bertambah, juga meminimalkan guncangan litosfer (lapisan batuan yang menjadi kulit atau kerak bumi) ketika bergerak.

Kedua, gunung berfungsi sebagai perawat langit. Di sini gunung memiliki peran besar dalam merawat atmosfer Bumi dengan cara mengeluarkan material-material berupa gas O2, CO2, S, N2, Ne, He, CH4, Kr, Ar dan sebagainya. Penjelasan mengenai hal ini dijelaskan dalam Al-Quran (QS Al-Anbiya [21]:31) dan (QS Fushshilat [41]:10).

Ketiga, gunung berapi berfungsi sebagai jangkar bumi yang memperlambat pergerakan kerak atau lempeng Bumi layaknya rem pada kendaraan atau jangkar pada kapal laut.

Keempat, sebagai penyubur tanah. Gunung berapi memperkaya kandungan mineral dalam tanah (soil) hasil lapukan batuan Bumi yang berada di bawahnya. Secara biokimia, material yang terkandung dalam gunung berapi yang dimuntahkan lambat laun akan berubah menjadi tanah. Tanah hasil muntahan ini dianggap subur karena memenuhi semua syarat tanah yang bisa dikatakan baik. Yaitu, mengandung 13 unsur garam mineral yang dibutuhkan oleh tanaman (N, P, K, Ca, Mg, S, Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan CI).

Kelima, sebagai tendon (reservoir) air tawar bagi umat manusia. Ada beberapa gunung di dunia, seperti gunung-gunung di pegunungan Alpen di Benua Eropa dan Gunung Kilimanjaro di Afrika yang puncaknya diselimuti es abadi. Kumpulan es abadi inilah yang menjadi penyuplay air untuk sungai-sungai. Air tersebut dihasilkan dari lapisan es yang mencair karena mendapat tekanan yang berlebihan dari lapisan es di atasnya. Apabila es berhenti mencair dan tidak ada hujan sama sekali, maka sudah dipastikan sungai-sungai akan mengering dan mahluk hidup yang ada disekitarnya pun akan mati karena kebutuhan utama mahluk hidup (yaitu air) tidak ada.

Keenam, gunung berapi mampu mengubah dan membentuk rona permukaan Bumi menjadi lingkungan baru bagi mahluk hidup. Setiap terjadi letusan gunung berapi, bentuk rona Bumi akan berubah. Perubahan ini mencakup morfologi, tatanan geohidrologi (air tanah dalam bumi) dan struktur muka Bumi, seperti patahan dan lipatan. Artinya, setiap kali terjadi letusan gunung berapi, gunung tersebut sesungguhnya sudah menyelamatkan milyaran mahluk yang hidup di Bumi di masa depan.

Ketujuh, menyelamatkan penghuni Planet Bumi melalui aktivitas-aktivitas yang menyebabkan terjadinya pendinginan iklim dalam atmosfer Bumi. Aktivitas-aktivitas tersebutlah yang membantu penurunan pemanasan global yang melanda bumi.

Secara keseluruhan, dari mulai desain cover, layout, ilustrasi isi, hingga cara penyampaian si penulis, saya menganggap buku ini buku paket lengkap; menarik di luar, juga menarik di dalam. Tidak hanya menarik, tapi juga menyadarkan kita betapa besarnya karunia yang dilimpahkan Allah Swt kepada kita, makhluknya.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Al-Quran (QS Ar-Rahman [55]:21)

Tuhan telah menyiapkan segalanya dengan begitu baik untuk manusia, tapi manusia justru merusaknya. Diakui atau tidak, sadar ataupun tidak, manusia sebenarnya perlahan-lahan tengah menyiapkan kepunahannya sendiri.