Oleh: Poetry Ann

 

Tari Ronggeng Blantek di Panggung Terapung ke-5

Tari Ronggeng Blantek di Panggung Terapung ke-5. Ft: koleksi Yehan Minara.

“Inilah Indonesia!” seru Bang Boli begitu ia menunjukkan suasana di seputar bantaran Kalimalang, Bekasi Timur, yang dijadikan tempat dilaksanakannya acara Panggung Terapung yang kelima pada saya dan Yehan yang baru saja selesai salat duhur di masjid UNISMA (Universitas Islam 45), Minggu, 24 Agustus 2014. Saya menyambut seruan itu dengan cengiran, lalu mengedar pandang ke sekeliling. Indonesia? Ya, tak berlebihan rasanya jika kemudian saya pun menyebut pemandangan yang tersaji di hadapan saya sore itu sebagai miniatur Indonesia.

Orang-orang dari berbagai komunitas, sekolah dan kampus dengan gaya dan penampilannya masing-masing berbaur menjadi satu. Mulai dari orang-orang berpenampilan serba merah dan berpeci, anak-anak muda berpenampilan kesual dengan kemeja, kaos dan jeans-nya, perempuan-perempuan berjilbab, para pria berambut gondrong dan mohawk, bertato, penuh tindikan, sampai anak-anak yang asyik menyemplungkan diri dan berenang di sungai Kalimalang, juga bising klakson dan deru kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya yang berada tepat di seberang Kalimalang, menjadi pemandangan yang menyatu. Menjadi gambaran wajah Indonesia sebenarnya. Ya, beginilah semesetinya Indonesia. Bisa berbaur dengan berbagai perbedaan, kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya tanpa perlu saling merendahkan satu sama lain.

Kurang lebih dua minggu sebelumnya Bang Boli memberitahu saya soal acara Panggung Terapung kelima ini. Merasa penasaran, saya pun berharap bisa menghadiri acara tersebut. Hingga akhirnya saya mengajak beberapa kawan dari Rumah Dunia untuk pergi bersama. Sayangnya, dari beberapa kawan yang saya ajak, hanya Yehan yang saat itu bisa ikut. Selebihnya menyatakan ingin sekali ikut, tapi terkendala oleh kegiatan mereka masing-masing.

Diskusi "Mengembalikan Keindonesiaan Kita"

Diskusi “Mengembalikan Keindonesiaan Kita”

Saya dan Yehan berangkat dari Serang sekitar pukul sebelas. Menggunakan bus jurusan Merak – Bekasi. Sekitar pukul 13.30, saya dan Yehan sampai di terminal Bekasi. Kemudian kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah warung sekadar untuk membeli minuman dan sedikit berbincang dengan pemiliknya, Pak Tampubolon. Dari informasi beliaulah kemudian saya dan Yehan tahu, bahwa jarak antara Terminal Bekasi ke Kalimalang tidaklah seberapa jauh. “Kalau naik angkot paling ongkos seribu lima ratus,” katanya. Mendengar itu, Yehan justru mengusulkan untuk menempuhnya dengan berjalan kaki. Saya berpikir, jalan kaki? “Siang bolong, panas-panas begini? Yakin mau jalan kaki?”

“Sekalian liat-liat gimana suasana Kota Bekasi, Kak,” timpalnya yakin. Karena itu, selepas salat duhur di musola terdekat, saya dan Yehan pun langsung berangkat menuju Kalimalang dengan berjalan kaki. Dari hasil bertanya ke beberapa orang yang kami temui di jalan, sekitar pukul 15.30, sampailah kami di tempat yang dituju setelah sebelumnya mampir ke beberapa tempat untuk berfoto dan makan siang.

Begitu sampai, azan asar menyambut. Saya dan Yehan pun memilih untuk salat asar terlebih dahulu di Masjid UNISMA. Setelah selesai salat itulah kemudian saya bertemu Bang Boli, setelah sebelumnya ia menelpon. Diajaknya kami ke tempat acara yang saat itu tengah melangsungkan diskusi bertajuk “Mengembalikan Keindonesiaan Kita” yang menghadirkan Putu Oka Sukanta (penulis dan penyair Lekra) dan Niko Adrian (Pendiri Organisasi Forum Kota) selaku pembicara.

koleksi foto karya para fotographer Komunitas Bekasi Foto

Menikmati koleksi foto karya para fotographer Komunitas Bekasi Foto.

Setelah mendengar cerita dari Bang Boli mengenai rangkaian acara Panggung Terapung kelima ini, saya dan Yehan kembali turun untuk melihat-lihat stand-stand yang berbaris di sepanjang sisi kampus UNISMA. Dari berbagai stand, yang paling menarik perhatian saya adalah stand yang memamerkan koleksi foto-foto jepretan fotografer yang tergabung dalam Komunitas Bekasi Foto.

Malamnya, kami disuguhi dengan berbagai pertunjukan seni yang berlangsung di atas panggung terapung. Mulai dari pertunjukan pencak silat, tari ronggeng blantek, musikalisasi puisi, pembacaan puisi yang dikolaborasikan dengan perkusi dan raungan motor vespa, dance modern, penampilan dari SKM Junior, sampai lantunan musik dan lagu bernuansa reggae, juga atraksi-atraksi lain yang tak kalah menyita perhatian. Semuanya tampak begitu asyik, harmonis dan romantis dibalut suasana malam juga kerlip lampu yang berpendaran dari lampu kendaraan, juga papan reklame di jalan raya yang tepat bersebrangan dengan Kalimalang. Ditambah lagi dengan teriakan-teriakan seru dari anak-anak yang menyelingi pertunjukan seperti, “kapal miring, Kapteeen!” atau “penumpang selamat, Kapteeen!” memberi kesan dan nuansa tersendiri yang tak mudah begitu saja dilupakan.