Oleh: Poetry Ann
Dulu, eih jangan dulu deh, kesannya jadul banget. Oke, beberapa tahun lalu. Tepatnya kapan, lagi-lagi saya tidak ingat. Yang pasti sebelum saya pindah ke tempat tinggal saya yang sekarang. Ada sebuah keluarga yang entah karena apa, sepertinya dibenci sekali oleh hampir sebagian penghuni komplek. Banyak sekali cerita bernada miring yang saya dengar tentang keluarga itu, tapi anehnya, saya sendiri tidak pernah menemukan kebenaran tentang segala keburukan yang mereka ceritakan.

Saya melihat tidak ada yang keliru dengan sikap keluarga tersebut. Semua anggota keluarga tersebut, baik bapaknya, ibunya, juga ketiga anaknya, selalu bersikap santun dan baik pada saya dan keluarga saya. Begitu juga pada tetangganya yang lain. Itu yang saya lihat. Soal tetangga-tetangga saya menampik kebaikan keluarga tersebut, saya tidak mengerti kenapa. Alasannya hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Yang jelas, sepengetahuan saya, keluarga tersebut baik-baik saja. Semua sikapnya normal. Malah kadang saya merasa keluarga itu terlalu sopan. Bahkan ketika mereka tahu dirinya banyak dicibir dan tak dianggap oleh tetangganya sendiri pun, mereka masih bisa menyapa dan tersenyum.

Dua hal yang kemudian saya tangkap yang mungkin menjadi alasan sebagian tetangga saya membenci keluarga tersebut adalah karena mereka bukan orang berada dan bukan orang bertampang oke. Kesimpulan ini saya ambil setelah mengamati beberapa cerita atau keluhan bernada miring dari beberapa tetangga, terutama kawan sebaya saya tentang keluarga tersebut.

Dua hal yang saya sebutkan tadi selalu menyertai cerita-cerita yang saya dengar dari mulut beberapa kawan sebaya saya. Kalimat-kalimat seperti, “dia tuh punya kaca nggak sih di rumah”? atau “nyadar nggak sih, tampang begitu mau godain gue”? dan kalimat-kalimat lain yang bisa dibilang begitu menyakitkan, yang ditujukan pada salah satu anak dari keluarga tersebut. Yang paling membuat saya ngilu, di antara mereka bahkan ada yang pernah mengatakan begini, “Bapaknya jelek, ibunya jelek, mustahil anak-anaknya cakep.” Ugh, ya ampun…! -_-‘

Dari situlah kemudian saya menyimpulkan, bahwa sebenarnya, cerita-cerita bernada miring tentang keluarga tersebut lahir karena ketidaksukaan sebagian tetangga dan teman sebaya saya itu terhadap ketidakberuntungan yang dialami keluarga tersebut. Salah seorang kawan saya bahkan ada yang pernah mengatakan kalau saya ini buta hanya karena saya mementahkan semua pendapatnya tentang orang yang saya sebutkan tadi, yang kebetulan sebaya dengan saya dan kawan saya ini. Saya bilang, dia laki-laki yang baik. Tapi kawan saya bilang, dia laki-laki yang tak tahu diri dan tak sopan. Tahu kenapa? Dia bilang, laki-laki itu menggodanya di jalan ketika ia hendak menuju rumah saya. Waktu saya tanya menggoda bagimana? Jawaban dia bikin saya tertawa. Ternyata si lelaki tadi cuma menyapanya dengan kalimat “Mau ke mana, Teh?” sambil senyum. Senyumnya itu yang dia bilang tak sopan. Terkesan melecehkan, katanya. Saya katakan padanya, “Parahan mana sama cowok-cowok yang suka nyuit-nyuitin lo di tikungan komplek? Toh selama ini lo keliatan asyik-asyik aja digodain mereka?” Heih, apa karena cowok-cowok itu bertampang oke? Ho, ya, tentu masalahnya itu.

Sementara sikap sebaliknya ditunjukkan pada keluarga yang berbeda. Jika keluarga yang pertama saya sebutkan tadi lebih banyak mendapatkan cemoohan dan tuduhan-tuduhan miring karena ketidakberuntungannya, lain dengan keluarga kedua. Keluarga kedua adalah keluarga yang baru saja pindah ke komplek tersebut dan dalam waktu singkat sudah mampu menyedot perhatian para tetangga dan teman sebaya saya. Mereka bilang tetangga baru itu, selain kaya, juga baik. Suka sedekah ke mana-mana dan memberi ini-itu pada para tetangga dekatnya. Saya tidak tahu apakah semua cerita itu benar karena saya sendiri tidak benar-benar mengenal keluarga kedua ini. Letak rumahnya cukup jauh dari rumah saya. Saya juga tidak begitu peduli. Sampai kemudian saya bertemu langsung dengan salah seorang anggota keluaraga kedua ini lewat satu kejadian. Kejadian yang membuat saya meragukan semua cerita tadi.

Yang saya ingat, ketika itu saya baru pulang sekolah dan mengambil rute yang sama dengan salah seorang kawan saya, yang ternyata rumahnya hanya berselang satu rumah dengan tampat tinggal keluarga kedua ini.

Baru beberapa langkah saya berpisah dengan kawan saya tadi, saya dikejutkan dengan pemandangan yang bikin jantung nyaris melompat. Beberapa langkah di depan saya, di balik pagar rumahnya, seorang lelaki yang sebaya dengan saya nyaris menimpakan sepeda yang diangkatnya tinggi-tinggi pada seorang perempuan yang awalnya saya pikir pembantunya, yang meringkuk ketakutan di bawahnya. Kemudian reflek saya membentaknya. “HEEEY!” Cuma satu kata itu yang keluar dari mulut saya. Bentakan yang disertai dengan tangan gemetar, tatapan sengit yang diarahkan pada lelaki tadi dan gemeretakan gigi yang tak bisa saya kendalikan saking kesal dan geregetnya mendapati kejadian tadi. Untungnya, bentakan itu bisa membuat si lelaki urung menimpakan sepeda yang sudah diangkatnya setelah dia balas menatap sengit ke arah saya. Setelahnya, dia banting sepeda tadi begitu saja di sampingnya dan masuk ke dalam rumah dengan tampang jengkel. Sementara, saya kembali melanjutkan perjalanan setelah sesaat sebelumnya memastikan perempuan tadi baik-baik saja. Saya meilhat ada yang lain dari perempuan itu. Dari gestur dan cara dia memandang saya, dia seperti orang yang memiliki (maaf) keterbelakangan mental.

Saya baru tahu kalau apa yang saya pikirkan itu benar setelah pada akhirnya saya mengenalnya. Mengenalnya dengan segala kejutan yang harus saya terima tentang dia dan si lelaki yang tempo hari nyaris menimpakan sepeda padanya.

Kejutan itu adalah, ternyata dia bukan pembantu keluarga kedua ini. Dia adalah adik dari si lelaki yang saya ceritakan tadi. Adik? Saya hampir tidak percaya kalau pengakuan itu bukan keluar dari mulut si perempuan itu langsung.

Saya bertemu dengannya seusai salat tarawih di musola. Dia yang lebih dulu menegur saya. “Teteh, Teteh yang waktu itu kan?” sapanya. Jangan bayangkan dia berbicara lancar. Cara bicaranya membuat saya mesti mau sedikit bersusah payah untuk mengerti apa yang dia katakan.

Setelah saya memastikan apa yang dikatakannya itu benar, saya baru mengangguk. Dan tahu apa yang dia katakan selanjutnya? Dia bilang, “Teteh jangan benci kakak saya. Waktu itu saya yang salah.”

Saya bingung. Kakak yang mana? Tanya itu cuma bisa terlontar dalam hati. Tapi rupanya, dia mengetahui kebingungan saya. Maka dia mengingatkan saya kembali soal kejadian yang saya ceritakan tadi. Dari situ barulah saya mengerti. Hanya, yang belum saya mengerti adalah, mengapa dia menganggap saya membenci kakaknya sampai mesti berulang kali dia meminta pada saya untuk tidak membenci kakaknya? Memangnya apa yang sudah saya lakukan pada kakaknya sampai dia berpikiran seperti itu?

Setelah saya tanyakan hal itu padanya, dia menjawab dengan satu kalimat yang membuat saya mengingat tentang undangan perayaan ulang tahun yang saya terima seminggu sebelumnya. Dia bilang, “Teteh nggak dateng ke acara ulang tahun kakak saya kemaren. Semuanya dateng, cuma Teteh doang yang nggak ada.”

Ouwh, ya, ampun! Apa yang dia katakan, mau tidak mau membuat saya harus mengakui kalau sebenarnya, sejak kejadian itu, saya memang jadi begitu membenci kakaknya itu. Kebencian yang membuat saya pada akhirnya selalu berpikiran buruk tentangnya, juga berkali-kali menunjukkan sikap tak bersahabat padanya. Misalnya saja soal undangan ulang tahun itu. Saya sengaja mengabaikannya karena selain saya merasa sama sekali tak mengenalnya, saya juga merasa memang tak perlu mengenalnya. Lalu ketika tanpa sengaja, untuk kesekian kalinya kembali berpapasan dengannya, lagi-lagi saya membalas senyum yang dilontarkannya dengan tatapan sengit. Malah dengan sebal saya melindas kayu yang digunakanannya untuk menghalangi laju sepeda yang saya kendarai sampai patah, lalu mencemoohnya. Juga menggerutu dalam hati setiap kali mendengar beberapa kawan saya (yang kebanyakan memang memujanya) bercerita tentang segala kelebihannya. “Andai kalian tahu, kalau cowok yang kalian puja-puja itu berkelakuan busuk. Hareeeu…!” Selalu begitu reaksi saya.

Yang kemudian saya sadari setelah mendengar apa yang dikatakan si perempuan itu adalah, ternyata, kebencian yang saya rasakan terhadap kakaknya telah menjadikan saya orang yang selalu berpikiran picik. Menganggap apa yang dilakukan orang yang saya benci itu selalu salah di mata saya hingga berpikir, bahwa dia, orang yang saya benci itu, memanglah pantas menerima segala sikap tak bersahabat yang saya tujukkan padanya. Tanpa saya sadari, pelan-pelan saya bersikap sama seperti sebagian tetangga dan kawan sebaya saya yang membenci keluarga pertama, yang saya ceritakan di awal tulisan ini. Lalu kalau begitu, apa bedanya saya dengan mereka? Atau, kalaupun memang benar lelaki yang saya benci itu berkelakuan seperti yang selama ini saya tuduhkan, lalu kalau begitu, apa bedanya saya dengan dia? Dan pada akhirnya, saya cuma bisa mengatakan “iya sorry, saya lupa” untuk menjawab pertanyaan perempuan yang baru saya kenal itu.