Oleh: Poetry Ann

Kurang lebih setahun lalu. Tepatnya kapan, saya tidak ingat. Ada seorang kawan yang termehek-mehek merasa disakiti oleh kepergian salah seorang kawannya. Dia bilang, kawannya itu begitu mudah meninggalkannya. Dia begitu mudahnya menemukan kawan baru di sana, lalu mengganti semua kebersamaan yang pernah dirasakan bersama dirinya dengan orang lain. Sementara dirinya di sini merasa dibiarkan menikmati rasa kehilangan sendirian. Ketika itu saya cuma bisa tertawa. Kemudian beberapa bulan setelahnya, dialah yang mendapat kesempatan meninggalkan kawannya yang lain, termasuk saya. Di awal keberangkatannya, dia berpikir, tentu kawannya di sini, termasuk saya, akan merasa kehilangan dirinya. Seperti dia yang merasa begitu kehilangan ketika ditinggalkan kawannya. Beberapa minggu setelahnya, saya mendapat pesan darinya. Dia bilang, “Iiih, kok nggak ada yang SMS aku sih? Nggak ada yang kangen sama aku apa?” Saya kembali menertawakan sikapnya. Beberapa minggu berikutnya saya kembali mendapatkan pesan darinya. Kali ini isinya agak serius. Dia katakan begini, “Aku mengerti sekarang, ternyata meninggalkan itu rasanya lebih menyakitkan dibanding ditinggalkan. Kalau boleh memilih, aku lebih memilih untuk ditinggalkan dari pada harus meninggalkan.” Kali ini saya hanya bisa tersenyum. Akhirnya kamu mengerti juga.

Ya, kita sering merasa paling menderita sendiri ketika ditinggalkan oleh orang terdekat atau orang yang kita sayangi, lalu menyalahkannya tanpa pernah mau tahu bagaimana perasaan orang yang telah meninggalkan kita itu. Padahal, bisa jadi, orang yang meninggalkan kita justru lebih menderita dari kita. Hanya saja, dia memilih untuk menutupi rasa sakit itu dengan kesenangan dan tawa yang ditemuinya di sana, demi menunjukkan pada kita, bahwa dia baik-baik saja.