Oleh: Poetry Ann

Pagi ini tak seperti pagi biasanya. Saya mengingat semuanya. Dan itu kabar buruk. Kabar baiknya, coba kita lihat apa yang bisa saya kerjakan dengan ingatan ini. —ini status yang saya posting di facebook pada Senin, 4 Agustus 2014.

—000—

Oke. Seperti yang sudah saya katakan tadi pagi, coba kita lihat apa yang bisa saya kerjakan dengan ingatan ini? Dan salah satu hal yang bisa saya kerjakan dengan ingatan ini adalah ingat, bahwa semestinya saya mengucapkan terima kasih pada beberapa orang yang tanpa saya sadari telah memberi pelajaran berharga bagi saya. Beberapa orang yang selama ini bahkan tak pernah mampir dalam ingatan saya.

Orang pertama yang harus saya beri ucapan terima kasih adalah Bu Eli (mudah-mudahan cara saya menuliskan namanya tidak salah). Alasan saya harus berterima kasih padanya adalah, beliau adalah satu-satunya guru yang telah berhasil membuat saya bisa mengetik dengan sepuluh jari. Kemampuan yang kemudian jadi sangat memudahkan saya menjalani hobi yang sekarang saya jalani: menulis.

Yang saya ingat dari Bu Eli, dia adalah guru mengetik yang lumayan galak, cantik, selalu berpenampilan rapi, super bersih, anti debu dan bau keringat. Jadi, kalau kamu bau keringat, jangan harap beliau mau dekat-dekat. Kalau pakaianmu kotor, biar sedikit, jangan harap dia mau menegurmu meski untuk sekadar membetulkan kesalahan ketik yang kamu lakukan. Kalau ruang lab mengetik belum di sapu, jangan harap beliau mau masuk lab dan mengajar sampai lab tersebut benar-benar dibersihkan. Kalau penampilanmu awut-awutan, jangan harap kamu akan dizinkan masuk ke kelas yang diajarnya. Tuts mesin ketik berdebu, “Tisu, mana tisuuu?!” Hhee….

Ya, setiap kali jam pelajarannya dimulai, berpenampilan super rapi dan wangi, keadaan lab dan mesin ketik super kinclong adalah keharusan. Tidak mau mengikuti standarnya, silakan keluar dari kelas yang diajarnya.

Sialnya, jadwal pelajaran Bu Eli di kelas saya, kelas 1-4 (say hallo buat kawan-kawan kelas satu empaaaat!), waktu itu jatuh setelah pelajaran olah raga. Pelajaran yang sudah dipastikan akan menguras keringat dan membuat kami tak lagi memikirkan apakah sisiran atau kunciran rambut kami masih rapi? Apakah kerudung yang kami pakai masih baik-baik saja? Apakah kaus kaki yang kami kenakan masih wangi? Toh yang kami kerjakan adalah main bola, lompat sana-lompat sini, lari, menjemur diri di lapangan, latihan basket dan sebagainya. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya saya dan kawan-kawan lain di kelas 1-4 tiap kali selesai pelajaran olah raga, kemudian beberapa menit setelahnya harus menghadapi pelajaran mengetik dari Bu Eli? Hal tersebut membuat hampir semua isi kelas 1-4 harus rela buru-buru berebut kamar mandi untuk mengganti pakaian olah raga dengan pakaian seragam putih abu-abu kembali, buru-buru dandan, memastikan dasi yang kami pakai menggantung dengan elegan di leher kami, memastikan rambut tersisir dan terkuncir rapi, juga memastikan tak ada bau keringat yang tertinggal di badan. Endus sana-endus sini. Kalau masih tercium bau keringat, segera keluarkan parfum, semprot-semprot. Endus-endus lagi. Setelah yakin wangi, barulah merasa aman.😀

Satu hal lagi yang saya sadari dari pengalaman diajar oleh Bu Eli adalah, beliau bukan hanya telah berhasil membuat saya bisa mengetik dengan sepuluh jari, tapi juga telah mengajarkan saya untuk bisa lebih rajin berusaha. Berusaha lebih sering berkaca dan teriak-teriak minta tebengan parfum. “Siapa yang bawa parfuuuum? Bagi dooooong?!” Hhaa…!

Lepas dari itu semua, terima kasih Bu Eli. Apa yang Ibu ajarkan sangat berguna. Termasuk soal penampilan. Meski sampai saat ini saya masih tetap lebih sering lupa kalau soal memakai parfum dan masih lebih senang membiarkan rambut saya terikat tanpa disisir.😀