Oleh: Poetry Ann

Kampung Cimoyan

Kampung Cimoyan

 

Jalan menuju Kampung Cimoyan

Jalan menuju Kampung Cimoyan

 

Beberapa warga Kampung Cimoyan tengah membuat panjang untuk muludan

Beberapa warga Kampung Cimoyan tengah membuat panjang untuk muludan

 

Anak-anak Kampung Cimoyan

Anak-anak Kampung Cimoyan

Ini potret sebagian kampung saya. Kampung Cimoyan. Ketika pertama kali mendengar keputusan kedua orang tua saya untuk pindah ke kampung ini, sekitar tahun 2005 lalu, saya adalah anggota keluarga yang paling menentang keputusan itu.

Sebenarnya, Kampung Cimoyan adalah kampung yang sudah tidak asing bagi saya. Kampung ini kampung kelahiran ibu saya. Nenek saya pun tinggal di kampung ini. Bisa dibilang keluarga besar saya hampir semuanya tinggal di kampung ini. Tapi, justru karena saya sudah lumayan tahu kondisi kampung inilah saya jadi merasa enggan bila harus pindah ke tempat tersebut.

Ada beberapa hal yang membuat saya enggan bila harus pindah ke kampung ini. Pertama, waktu itu, di kampung ini masih jauh sekali dengan air. Untuk keperluan mandi dan mencuci, sebagian besar warga kampung ini mesti berjalan kaki lumayan jauh demi mencapai kali.

Ada tiga buah kali kecil di kampung ini yang biasa digunakan warganya; Kali Cimoyan, Kali Watu dan Kali Gintung. Jangan bayangkan kali-kali yang saya sebutkan tadi adalah kali dengan aliran air yang deras. Tidak. Ketiga kali tersebut adalah kali kecil yang bahkan ukurannya lebih kecil dari bak-bak mandi yang dimiliki warga Cimoyan saat ini.

Agar kamu bisa membayangkan sebesar apa ukuran bak-bak mandi yang dimiliki warga Cimoyan saat ini, ukuran kedalamannya rata-rata lebih dari dua meter. Begitu pula dengan panjang dan lebarnya (alasan mengapa warga Cimoyan rata-rata memiliki bak mandi sebesar-besar itu, saya bahas nanti). Hanya saja memang, airnya tak pernah surut apalagi kering karena mata air kali tersebut bersumber langsung dari pegunungan.

Ya, bisa dibilang Cimoyan ini daerah pegunungan karena kontur tanahnya yang naik-turun dan berundak seperti tangga. Juga kondisi jalannya yang masih terkesan seperti diapit hutan. Kanan-kirinya dipenuhi pepohonan yang sekarang mulai banyak berkurang. Beberapa langkah dari teras rumah saya adalah atap rumah tetangga saya.

Bagi saya yang sebelumnya terbiasa tinggal memutar keran tiap kali membutuhkan air, hal tersebut sungguh merepotkan. Sekali-sekali mengunjungi kali mungkin akan terasa menyenangkan. Anggap saja jalan-jalan mencari udara segar karena jalan menuju ketiga kali tersebut masih dipenuhi pepohonan. Bayangkan saja seperti berjalan di tengah kebun atau hutan. Seperti ketika kemping. Ini serius. Apalagi kalau pergi ke kalinya sebelum subuh. Rasanya segar, sejuk, seru sekaligus agak ngeri-ngeri gimanaaa gitu. Hhaa…!

Tapi, kalau untuk setiap hari melakukan hal tersebut, sungguh saya belum siap melakukannya. Apalagi harus mandi di kali dengan keadaan hanya berbalut kain sarung bersama dengan warga lain. Bagi saya yang terbiasa mandi di kamar mandi tertutup, kebiasaan tersebut sulit saya ikuti. Saya tidak cukup berani untuk setengah telanjang di hadapan banyak orang yang juga sama-sama setengah telanjang.😦

Kalaupun memilih mandi di kamar mandi sendiri, maka saya mesti mau mengangkut berember-ember air dari kali ke rumah.

Kedua, waktu itu, belum ada WC. Termasuk di rumah nenek saya yang saat ini saya tinggali. Jadi, warga Cimoyan kebanyakan harus pergi ke kebun di belakang rumahnya bila ingin buang air besar, atau ke kebun dekat kali. Kebiasaan itulah yang juga tak bisa saya terima. Terbiasa buang air di toilet, sungguh jijik rasanya kalau mesti mengikuti kebiasaan itu. Heu… -_-‘

Dulu, sebelum pada akhirnya saya tinggal di kampung ini, tiap kali saya berkunjung ke rumah nenek, saya keukeuh tak mau menginap. Kalau ditanya nenek alasannya kenapa, saya jawab, susah buang airnya.😀

Sekarang tidak lagi. Hampir sebagian besar warga Cimoyan kini sudah memiliki WC. Juga ada tiga WC umum yang dibangun dekat masjid.

Pembuatan WC di rumah-rumah warga tersebut baru menjamur setelah pada akhirnya warga Cimoyan memiliki mesin air. Satu mesin air yang digunakan untuk kebutuhan seluruh warga. Mesin air yang didapatkan dengan cara tak mudah karena saat melakukan pengeboran, mesti berkali-kali pindah tempat karena tiap kali baru berhasil mengebor dengan kedalaman beberapa meter, mesin bornya patah. Kontur tanah Kampung Cimoyan yang dipenuhi dengan batu-batuanlah penyebabnya.

Batu-batuan yang menjadi bagian dari tanah tersebut sulit ditembus dengan mesin bor. Karena alasan itu pulalah kenapa hingga saat ini warga di sini tak ada satu pun yang memiliki mesin air milik pribadi. Butuh biaya besar dan usaha ekstra untuk bisa mengebor dengan kedalaman yang cukup agar air bisa tersedot oleh mesin air. Mesin air jetpam tak cukup kuat untuk di gunakan di kampung ini. Juga mesti memiliki lahan yang tanahnya minim batu. Dan hal tersebut jarang sekali dimiliki.

Karena satu mesin air tersebut digunakan untuk kebutuhan seluruh warga, maka sistem pengalirannya pun harus digilir. Tidak setiap saat atau setiap hari warga mendapatkan kesempatan rumahnya dialiri air. Karena alasan itulah, mengapa warga Cimoyan memiliki bak-bak mandi yang super besar, yang saya ceritakan tadi. Alasannya ya, agar air yang warga dapatkan ketika tiba giliran mengalir ke rumahnya bisa menampung air yang dibutuhkan untuk keperluan satu minggu ke depan, hingga tiba gilirannya kembali mendapatkan aliran air.

Ketiga, masalah transportasi. Letak kampung yang cukup jauh dari jalan besar membuat kendaraan umum seperti angkot, belum ada yang mau mencapai kampung ini. Mesti memiliki kendaraan sendiri, atau paling tidak, naik ojek. Dan saya termasuk orang yang kurang nyaman jika harus naik ojek. Ada pengalaman tak menyenangkan yang membuat saya pada akhirnya merasa kurang nyaman tiap kali harus naik ojek. Maka agak menyebalkan ketika tahu kalau keluarga saya akan pindah ke kampung tersebut.

Tapi musibah yang tengah menggempur keluarga saya saat itu benar-benar membuat saya pada akhirnya tak bisa menolak keputusan untuk pindah ke kampung tersebut. Saya dipaksa mengerti, bahwa saat itu kedua orang tua saya benar-benar tak memiliki jalan keluar yang lain selain harus menjual rumah yang saat itu keluarga saya tempati dan menumpang tinggal di rumah nenek, di Kampung Cimoyan.

Saat itu saya benar-benar merasa tidak ikhlas dengan segala keadaan yang saya terima. Kehidupan saya dengan keluarga saya terasa seperti jungkir balik. Banyak hal mesti berubah dan terpaksa harus saya terima. Rencana-rencana yang mestinya saya lakukan mendadak harus ditunda bahkan dibatalkan, termasuk rencana saya untuk mendaftar kuliah.

Rasa tidak ikhlas sempat membuat saya menyalahkan Tuhan. Sempat membuat saya memilih lari dari kenyataan. Memilih untuk tidak ikut tinggal bersama kedua orang tua saya di Cimoyan selama satu tahun lamanya, sebelum akhirnya saya disadarkan oleh kenyataan lain, cerita lain yang membuat saya sadar, bahwa apa yang keluarga saya alami tak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang keluarga kawan saya alami saat itu, kemudian memilih kembali ke Cimoyan dan menghadapi semuanya. Seperti halnya adegan dalam sinetron yang sekarang justru kerap saya tertawakan, saya juga sempat mempertanyakan pada Tuhan, mengapa semuanya harus terjadi dan menimpa keluarga saya? Mengapa saya justru dijerumuskan ke tempat yang sungguh tak pernah saya inginkan? Dan mengapa-mengapa yang lain. Sampai akhirnya saya berdoa dengan doa yang terkesan sedikit menantang Tuhan. Waktu itu saya memohon pada Tuhan: Tuhan, jika memang saya ditakdirkan untuk tinggal di sini, tunjukkan satu alasan mengapa saya harus bertahan di kampung ini. Kampung yang bahkan tak pernah saya inginkan.

Kalau saya ingat doa itu sekarang, duh, rasanya saya ini kok, kurang ajar sekali. Masih dikasih hidup saja masih ngeluh.😀

Tapi ajaibnya, beberapa hari setelahnya, ada hal yang membuat saya sadar, bahwa keputusan Tuhan untuk umatnya tak pernah salah. Ia lebih tahu apa yang umatnya butuhkan. Kemudian akhirnya saya mulai mencoba mengikhlaskan semuanya.

Sebuah bukit yang saya temukan ketika iseng jalan pagi seusai salat subuh demi menghilangkan rasa kesal dan dongkol, yang sekarang saya sebut Bukit Cimoyanlah yang menunjukkan semuanya pada saya, bahwa apa yang selama ini saya anggap buruk ternyata begitu indah. Dari atas bukit tersebut saya bisa melihat semuanya. Melihat keindahan alamnya, keunikan, juga keramahan semua warga Kampung Cimoyan. Dari proses itu kemudian saya belajar, berusaha memahami dan menyikapi segala halnya dengan lebih dewasa, berusaha melunturkan sikap manja yang sejak kecil sudah ada dalam diri saya, juga berusaha memandang segala halnya dari perspektif yang berbeda.

Acara muludan di Masjid Cimoyan

Acara muludan di Masjid Cimoyan

 

Baca bareng di teras

Baca bareng di teras

 

Pelantikan Ketua RW terpilih

Pelantikan Ketua RW terpilih