Oleh: Poetry Ann

 

Dua hari, dua bunda yang memotivasi.

Hari pertama, Sabtu, 7 Juni 2014, Bunda Reni Erina datang ke Rumah Dunia untuk berbagi dan menjawab kegalauan para calon penulis muda.

Yang selama ini saya tahu, Bunda Erin adalah sosok Bunda Story yang nyaris tak pernah melepas senyum, keceriaan dan suntikan semangatnya kepada para calon penulis muda lewat story diary yang sempat beberapa kali saya baca di majalah Story, lewat CK Writing, lewat Erin n friends maupun lewat status-statusnya. Maka saya jadi ikut kehilangan ketika mengetahui Bunda Erin pada akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Story, meski jujur saja, saya bukanlah pelanggan Story yang selalu membeli majalah Story tiap edisinya, juga tidak begitu aktif di grup CK Writing dan Erin n Friends. 

Ada rasa penasaran yang saya rasakan ketika mendengar Bunda Erin, untuk kesekian kalinya, akan kembali datang ke Rumah Dunia. Penasaran apakah senyum, keceriaan dan semangatnya memotivasi para calon penulis muda itu tetap utuh seperti ketika Bunda masih menggawangi Story. Rasa penasaran itu kemudian terjawab begitu saya bertemu langsung dengannya. Senyum, keceriaan dan semangatnya untuk terus berbagi, memotivasi, membantu dan membuka jalan untuk para calon penulis muda tetaplah utuh, bahkan kian bertambah. Saya senang. Dan bertambah senang begitu tahu kalau ternyata Bunda Erin mengenal saya, meski hanya sebatas kenal lewat tulisan. Tapi, kalau diingat-ingat, sebelum hari itu, saya pernah sekali bertemu langsung dengan Bunda Erin di tahun 2012 lalu, saat launching buku “2 Album Dangdut dan Sekotak Cokelat”. Ketika itu cerpen saya baru saja dimuat di majalah Story dan rela menerobos hujan untuk bisa datang ke Rumah Dunia demi bisa bertemu dengan Bunda Erin ketika mendengar kabar Bunda Erin datang ke Rumah Dunia. Saya masih menggunakan nama pena Poetry Karatan waktu itu.

Dari situ, saya semakin percaya, bahwa kegiatan menulis itu tidak hanya bermanfaat, tapi juga bisa mendekatkan. Mendekatkan seseorang dengan orang lain yang bahkan belum pernah bertemu sebelumnya.

Hari kedua, Minggu, 8 Juni kemarin, ada Bunda Marina Novianti yang menebar semangatnya lewat “Pendar Plasma”-nya.

Jujur saja, saya baru pertama kali mendengar namanya, bertemu langsung sekaligus berkenalan dengannya pada hari itu. Tapi, semangatnya dan gayanya yang begitu lepas saat berbagi proses kreatifnya menulis puisi-puisi yang ada dalam buku “Pendar Plasma” dan membaca puisi membuat saya terpesona. Aih, ada sesuatu dalam diri saya yang kembali menghentak-hentak ingin keluar.

Saya mungkin tak bisa bercerita banyak tentang Bunda Marina karena perkenalan saya dengan Bunda Marina pun baru terjadi. Satu hal yang Bunda Marina lontarkan pada Minggu kemarin, yang masih saya ingat sampai sekarang, bahwa perempuan yang menggumuli sastra itu tantangan yang dihadapinya berlipat-lipat lebih besar daripada lelaki yang menggumuli sastra. Hmm, begitu kira-kira. Saya tidak ingat kalimat lengkap dan pastinya. Dan apa yang dikatakan Bunda Marina itu, juga saya rasakan meski mungkin tak seberat yang dirasakan perempuan lain yang juga sama-sama memilih menggumuli sastra karena saya sendiri masih terbilang baru menapaki dunia sastra.

Apa pun tantangannya, saya percaya, bahwa perempuan selalu memiliki kekuatan lebih untuk menghadapinya.

Terimakasih buat Bunda Erin dan Bunda Marina…! Terimakasih atas semangatnya.

Terimakasih juga atas pengetahuan dan kolaborasi pembacaan puisi AyahHandoko F. Zainsam dan Abah Yoyok yang memuaku. Saya jadi ikutan Nang…Ning…Nung…Gong! Hhee…

Buat ketiga kawan saya yang kemarin berani tampil gila: Khadijah Efrison,Yehan Minara & Suni Ahwa. Penampilan kalian bertiga kemarin kereeeeeeeeen! Saya fans pertama kalian.