Oleh: Poetry Ann

Berhentilah mencari maka kamu akan menemukan

Hari ini saya mendapatkan dua kali setengah jam yang berharga. Setengah jam yang pertama, ketika menemukan kalimat yang saya jadikan pembuka tulisan ini dalam sebuah novel yang saya baca: Berhentilah mencari maka kamu akan menemukan.

Buat saya, kalimat tersebut sebenarnya tidak asing lagi karena beberapa kali saya pernah membahas hal yang intinya persis sama dengan isi kalimat tersebut bersama salah seorang kawan saya, Yori Tanaka. Hal yang membuat saya dan Yori pada akhirnya sadar, bahwa pencarian hanya akan terus membuat kita tersesat pada rasa kehilangan. Hal yang menuntun saya dan Yori pada sebuah jawaban yang selalu melahirkan pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak bisa begitu saja saya dan Yori jawab. Tapi rasa ketidakasingan itulah yang justru memberi kejutan dalam diri saya. Kejutan yang membuat saya merenungi apa yang saya lakukan akhir-akhir ini.

Selama setengah jam. Ya, saya merenungi kalimat tersebut selama kurang lebih setengah jam. Kalimat yang membuat saya sadar kembali, bahwa pencarian yang saya lakukan akhir-akhir ini hanya akan kembali membuat saya merasa kehilangan. Kemudian saya tersenyum sendiri. Bagaimana bisa saya melupakan hal yang sering kali saya diskusikan bersama Yori itu? Hal yang justru menjadi jawaban atas pencarian yang akhir-akhir ini tengah saya lakukan.

Jadi, mestinya saat ini saya memang berhenti mencari. Hanya dengan berhenti mencarilah saya tak lagi merasa kehilangan.

Setengah jam kedua, ketika saya mendapatkan pesan dari Bapak.

Di mana? Bapak jemput. Itu isi pesan dari Bapak menjelang sore tadi, tepat saat jam kepulangannya dari tempat kerjanya. Awalnya saya menolak karena saya tidak membawa helm. Bapak pun saya yakin hanya membawa satu helm untuk dirinya. Saya katakan agar Bapak menunggu saja di Ciracas.

Detik berikutnya, saya menerima balasan dari Bapak. Nggak apa-apa, katanya. Kemudian setelahnya, ketika saya menyebutkan posisi saya saat itu, Bapak pun meluncur ke tempat saya berada. Saat sampai, saya bertanya padanya dengan nada khawatir, “Nanti kalau ada polisi gimana?”

Bapak malah tertawa. “Kalau sampe ketangkep Polisi, kasihin aja motornya. Lagian mana ada Polisi yang mau nangkep motor butut begini.”

Saya perhatikan motor Bapak sejenak, kemudian saya pun ikut tertawa. Saya pikir, iya juga, mana ada Polisi yang mau nahan si “jangkrik” yang sekarang dikendarai Bapak. Tapi bukan tentang si “jangkrik” itu yang membuat saya mendapatkan setengah jam berharga yang kedua.

Saat-saat berada di boncengan si “jangkrik” itulah yang membuat saya mendapatkan setengah jam berharga yang kedua. Setengah jam perjalanan menuju rumah dibonceng Bapak membuat ingatan saya kembali terlempar pada masa saat saya masih duduk di bangku sekolah. Masa di mana Bapak sering mencuri waktu di antara tugas luarnya hanya demi menyempatkan diri menjemput saya dari sekolah. Masa yang sering kali membuat saya mendapat julukan “anak papi”. Masa yang membuat saya sering kali berpikir, betapa beruntungnya saya karena saya lihat, jarang sekali ada anak memiliki kesempatan dijemput oleh bapaknya langsung meski tentu saja dengan konsekuensi harus menerima julukan si “anak papi”, tapi saya selalu menikmatinya.

Setengah jam yang membuat saya dan Bapak tetap bisa tergelak meski di tengah perjalanan si “jangkrik” sempat mati karena kehabisan bensin, sampai harus menggoyang-goyangkan tankinya untuk memastikan bahwa masih ada bensin yang tersisa, hingga akhirnya harus mau repot-repot berkali-kali mematikan mesin lalu menyelahnya kembali tiap kali dicegat lampu merah demi menghemat bensin, agar bensin yang tersisa bisa mengantarkan kami sampai ke Ciracas karena hanya di Ciracas itulah tempat biasa Bapak membeli bensin yang bisa dicampur oli untuk si “jangkrik”.

Setengah jam yang juga membuat saya teringat pada obrolan antara saya dan Nik pada sebuah hari. Nik bilang, antara saya dan dirinya memiliki banyak kesamaan. Kesamaan yang ia sebutkan diantaranya mengenai Bapak, atau Ayah, begitu Nik menyebutnya.

Nik bilang, saya dan dirinya memiliki ayah yang sama. Sama-sama sering menyebalkan, tapi selalu bisa menerbitkan kerinduan tiap kali berjauhan. Di satu sisi kami sama-sama selalu merasa aman dan nyaman berada di dekat ayah kami masing-masing, di sisi lain kami juga sering kali menganggap ayah kami sebagai rival karena pendiriannya yang terkadang menentang apa yang kami pilih. Dan saya rasa, apa yang dikatakan Nik itu benar. Terkadang saya merasa Bapak tidak merestui apa yang menjadi pilihan saya, tapi di banyak kesempatan saya merasa bahwa justru bapaklah yang selalu menjadi orang pertama yang mendukung penuh apa yang saya lakukan. Bapak bisa menjadi sahabat yang hangat sekaligus juga menjadi sahabat yang paling dingin. Bapak bisa menjadi orang yang terkesan tidak peduli, tapi di banyak kesempatan Bapak justru sering kali membuat saya merasa menjadi anak yang paling beruntung di dunia.

Posted by Wordmobi