Oleh: Poetry Ann

Empat tahun aku kuliah, apa yang kudapat? Empat tahun penderitaan dan persaingan, apa hasilnya? Hanya selembar ijazah, hanya barisan angka. Apa artinya kertas-kertas ini? Ini bukan hidup yang sungguhan. Bukankah Papa sendiri yang bilang, jadi orang itu yang penting berguna bagi sesama? Aku mau menulis tentang kisah hidup manusia yang sering kali dilupakan, kisah hidup di tempat terpencil, kisah tentang kemanusiaan! Izinkanlah anakmu keliling dunia.

Paragraf tersebut saya temukan dalam buku catatan perjalanan “Titik Nol” halaman 86 yang ditulis Agustinus Wibowo. Saya berhenti sejenak pada paragraf tersebut. Memikirkan apa yang terjadi pada paragraf tersebut, juga pada paragraf-paragraf sebelumnya. Ada kesamaan emosional yang saya rasakan.

Paragraf itu muncul setelah Agustinus mengatakan pada Papanya, bahwa prestasi belajarnya di Universitas Tsinghua, sebuah universitas ternama di Beijing, termasuk yang tertinggi, jauh lebih tinggi daripada rata-rata mahasiswa lokal, sampai ditawari beasiswa S-2. Karir gemilang sudah menanti, pekerjaan mapan dan gaji tinggi sudah terjamin, tapi dia memutuskan menolak semua itu. Ia bilang pada Papanya, bahwa ia lebih memilih untuk mengejar impiannya, yaitu keliling dunia.

Keputusan tersebut membuat Papanya berang. Hingga percakapan antara dirinya dengan papanya di telepon saat itu diselimuti keheningan yang panjang dan begitu menyiksa, sebelum akhirnya memutuskan mengizinkan anaknya itu menjalani pilihannya.

Ada satu persamaan yang saya rasakan di sini. Soal pilihan dan impian. Pilihan dan impian yang tanpa sadar telah ditanamkan orang tua kepada anaknya sejak kecil, tapi justru menentangnya begitu si anak dewasa dan memutuskan untuk memilih menjalani pilihan dan impian yang secara tidak langsung sudah ditanamkan orang tuanya itu, hanya karena alasan ekonomi dan jaminan hidup yang lebih layak di mata orang kebanyakan.

Agustinus menanam mimpi untuk keliling dunia sejak ia mulai diperkenalkan pada atlas, laut dan garis cakrawala oleh papanya, juga diperkenalkan pada kisah perjalanan Tong Samcong yang penuh marabahaya demi menerima kitab suci sang Buddha oleh mamanya, tapi justru sempat ditentang begitu ia ingin mewujudkan impian yang muncul karena apa yang telah diperkenalkan oleh kedua orang tuanya itu.

Hal yang nyaris sama juga saya rasakan. Pilihan dan Impian untuk bisa menjadi seorang penulis muncul setelah Bapak memperkenalkan saya pada buku-buku bacaan yang saat itu didapatnya dari perpustakaan sekolahnya, tapi Bapak justru tampak menanggapi setengah hati begitu tahu, saya pada akhirnya memutuskan untuk menolak sebuah tawaran pekerjaan yang tak perlu saya cari dengan susah payah seperti orang lain demi fokus pada impian saya, setelah sekian tahun berpindah-pindah pekerjaan hanya demi menunjukkan padanya, pada saudara-saudara, juga pada orang lain, bahwa saya bisa hidup “normal”: bisa sekolah, bisa bekerja dan memiliki gaji seperti orang-orang kebanyakan.

Kenyataanya, apa yang saya lakukan demi tampak “normal” di depan Bapak, saudara-suadara dan orang lain itu justru membuat saya merasakan hidup yang kering. Nyaris seperti robot yang dalam hidupnya hanya berkutat pada kegiatan yang nyaris sama dan monoton setiap harinya: bangun pagi, pergi kerja, pulang kerja, tidur, bangun lagi, kerja lagi, begitu seterusnya hingga menerima gaji yang pada akhirnya habis hanya untuk biaya rutinitas sehari-hari yang membosankan itu.

Saya pikir, mungkin ini hanya masalah pilihan. Setiap orang punya pilihan, dan pilihan saya tidak tertuju pada tawaran pekerjaan tersebut, tapi pada impian saya. Impian yang saya sadari membutuhkan waktu dan kesabaran tak sedikit untuk mewujudkannya. Saya tahu itu dan akan menikmatinya.

Posted by Wordmobi