Oleh: Poetry Ann

Ketiga puisi saya yang dimuat di koran harian Pikiran Rakyat edisi Minggu, 30 Maret 2014 ini sebenarnya sudah saya posting di blog ini. Hanya saja, saya posting secara terpisah karena masing-masing dari puisi tersebut memiliki ceritanya sendiri-sendiri.

Saya bersyukur ketiga puisi tersebut ternyata dimuat, hanya, sayangnya saya lihat ada beberapa typo dan ada sedikit perubahan di tipografinya, mungkin karena keterbatasan space, jadi saya sengaja posting lagi langsung ketiga-tiganya di sini.

Poetry Ann
RINDU TUHAN BERGERAK LAIN

Ini kali
rindu Tuhan bergerak lain
ingin mengajak bermain
serupa ayah yang rindu buah hatinya
setelah sekian lama
meninggalkan rumah

Sinabung berseru
aku ingin lebih dulu
mencapai pundakMu

Kelud iri
ia bangkit dan berlari
sinabung tetap jadi pemenang

Kelud menegang
terlanjur menimbun geram
menggelontorkan tangisan
dengan jerit dan muntahan kesakitan
tak tertangguhkan

Ini kali
rindu Tuhan bergerak lain
tak ada genggaman
tak ada pelukan
tak ada kecupan hangat
berlayar di kening

Hanya lemparan pandang yang
jatuh pada kedalaman rasa
berenangan menuntun diri
untuk mampu menjalin tangan
demi hentikan jerit
dan muntahan kesakitan
yang terlanjur menenggelamkan

Rumah Dunia 02-o3/2014

Poetry Ann
TUBUH-TUBUH HUJAN
– kepada para relawan

Tubuh-tubuh hujan yang
terus-menerus jatuh ini begitu gaduhnya
menimpa bulu-bulu mata
juga bergulingan di atas kepala
menahan tawa adik-adik kita di balik
gemeretak gigi-gigi susunya yang bahkan
belum tumbuh sempurna

“Tak ada sesal atas gigil yang kami terima.
hanya, jangan biarkan kesenangan masa kecil ini
terbawa arus dan hanyut sia-sia”

Tubuh-tubuh hujan yang
terus-menerus jatuh ini begitu gaduhnya
memanggil-manggil jiwa para peretas tawa
menyerukan bahasa cinta;
kita semua, bergembira!
pada telinga, hati, juga ingatan
yang kelak berdampingan
menuntun kaki-kaki kecil lucu dan lugu
memilih garis tangannya sendiri

Cimoyan, 01/2014

Poetry Ann
MEMBACA PERTEMUAN
-kepada kawan di majelis puisi

Kita telah sama-sama menyaksikan
kata-kata lepas ke udara
mempermainkan gerak berpasang mata
yang susah payah membaca tiap larik pertemuan

Di ahad pukul empat
hingga senja terpupur gelap

Menyederhanakan sebuah dunia ke dalam makna
yang tak habis-habis kita catat pada lapis-lapis langit
yang membentang dalam ingatan

Sampai datang sebuah pesan
sudah waktu untuk berperang
bukan dengan golok atau parang
tapi kata-kata yang dijadikan tanda*
bukan dalam keriuhan dan tempik sorak
tapi kesunyian yang meliuk tenang
meski harus membentur batu
membentur karang!

Cimoyan, 11/2013

*Penyederhanaan atas puisi “KATAKATA” karya Toto ST Radik.

NB: Yang mau baca cerita dibalik terciptanya ketiga puisi ini, sila baca di postingan saya yang berjudul TUBUH-TUBUH HUJAN , RINDU TUHAN BERGERAK LAIN dan MEMBACA PERTEMUAN .

Posted by Wordmobi