Oleh: Poetry Ann

Setiap orang memiliki kesempatan untuk sukses, hanya, dalam bukunya yang berjudul Becoming A Star, Mario Teguh bilang, bahwa pintu kesempatan tidak pernah bisa terbuka begitu saja bagi kita. Pintu kesempatan hanya menjadi tidak terkunci. Soal membukanya atau tidak, itu keputusan Anda.

Saya juga selalu percaya bahwa Tuhan itu Maha Adil. Ia akan memberikan sesuatu sebanding dengan upaya yang telah kita lakukan. Artinya, jika pencapaian kita saat ini “segini”, ya itu karena baru “segini” pulalah upaya yang kita lakukan. Upaya kita mungkin belum sekeras Rendra pada masanya, belum sekeras Chairil pada masanya, belum sekeras Sapardi pada masanya, belum sekeras Pramoedya pada masanya, belum sekeras Gol A Gong dan Toto ST Radik pada masanya, dan belum sekeras mereka-mereka yang sudah mencapai kesuksesaannya pada masanya masing-masing. Kita masih terlalu mudah lengah, cepat sekali menyerah dan selalu memaafkan diri untuk berleha-leha dan menunda-nunda apa yang mestinya sudah harus kita lakukan dengan berbagai alasan. Terlalu sibuk, tak punya waktu, tak punya kesempatan, tak punya ini dan itu, banyak pekerjaan lain masih menumpuk, dan sebagainya. Kita terlalu membiarkan kreatifitas yang kita miliki digunakan untuk hal-hal yang membuat kita semakin nyaman melanjutkan penundaan-penundaan yang kita lakukan hingga Tuhan pun menunda apa yang semestinya sudah bisa kita terima dan dapatkan. Padahal, kalau dipikir-pikir, setiap manusia di dunia ini memiliki waktu yang sama. Sama-sama 24 jam dalam sehari, sama-sama 7 hari dalam seminggu dan sama-sama 12 bulan dalam setahun.

*Tulisan ini lahir setelah saya mencoba mengevaluasi beberapa hal yang selama ini saya alami dan saya kerjakan. Setelah Minggu pagi kemarin saya membaca ulang beberapa halaman buku Mario Teguh yang saya dapatkan dari Mas Widhi Hardiyanto Subekti dua tahun lalu. Setelah mendengar penjelasan dari Kang Ibnu tentang pentingnya komitmen dan beberapa hal lain selama saya mengikuti kelas B. Jerman. Setelah mencoba menangkap apa inti obrolan saya dengan Yori Tanaka lewat pesan singkat hari Minggu kemarin. Setelah saya membaca pengumuman daftar penyair muda yang puisinya lolos untuk dibukukan, yang diposting Toto ST Radik di grup Partai Penyair pada Minggu kemarin. Setelah menyimak penjelasan Gol A Gong ketika di-interview beberapa mahasiswa dari UNSERA pada Minggu sore kemarin, bahwa apa yang dicapainya saat ini tidaklah didapatkannya dengan jalan yang instan dan mudah. Ada pengorbanan, kesabaran dan kerelaan menikmati proses yang panjang dan membutuhkan kerja keras untuk mendapatkannya. Setelah saya membaca selintas beberapa halaman buku kumpulan puisi Martin Jankowski dan buku berjudul “Cerita dari Digul” yang saya pinjam dari Rumah Dunia kemarin. Juga setelah saya mengingat beberapa tulisan Pramoedya dan proses kreatif beberapa penulis besar yang pernah saya baca.

#Tulisan ini sebenarnya sudah saya posting di akun facebook saya pada Senin, 24 Maret 2014. Ada satu paragraf yang sengaja saya hilangkan karena dirasa kurang tepat kalau tetap saya sertakan di blog. Tulisan ini sengaja saya tulis untuk memotivasi diri saya sendiri. Jika tulisan ini ternyata dianggap bermanfaat juga buat kamu, saya sangat bersyukur dan berterimakasih karena sudah mau menyempatkan diri membaca tulisan saya ini.🙂

Posted by Wordmobi