Oleh: Poetry Ann

Puisi ini adalah revisian atas puisi yang saya buat beberapa minggu lalu. Saat itu, Uky, salah seorang kawan saya, sekaligus relawan KRB (Komunitas Relawan Banten), mengirim pesan pada Yehan, meminta saya dan Yehan untuk membuatkannya satu puisi bertema pray for Kelud yang baru saya ketahui dua hari setelahnya, bahwa puisi tersebut rencananya ingin ia baca untuk membantu penggalangan dana bagi survivor bencana Kelud di stand KRB pada acara Jambore TBM 2014 yang diselenggarakan di Rumah Dunia keesokan harinya. Tepatnya Kamis, 20 Februari 2014.

Entah kapan Uky mengirimkan pesannya tersebut pada Yehan. Yang jelas, pesan tersebut baru saya dan Yehan terima pada keesokan harinya. Selepas Subuh. Beberapa jam sebelum Jambore TBM 2014 dibuka. Beberapa detik setelah Yehan menghidupkan handphonnya yang baru saja selesai di charger.

Bagi saya, menciptakan satu puisi dalam waktu sesingkat itu sangatlah tidak mudah karena biasanya, paling sedikit saya membutuhkan waktu semalaman hanya untuk membuat satu puisi. Itu pun lebih sering belum benar-benar selesai dalam arti sesungguhnya karena sering kali saya kembali mencoret lalu mengubah, memelintir, mematahkan, memecah-mecah untuk kemudian menjalin ulang, menambah, bahkan membuang apa yang sebelumnya sudah saya anggap final.

Belum lagi suasana saat itu sangatlah tidak mendukung. Begitu riuh oleh suara dan obrolan beberapa relawan Jambore lain yang memang tidur sekamar dengan saya dan Yehan.

Karena alasan itulah, awalnya saya dan Yehan berniat menolak permintaan Uky tersebut. Hendak membalas pesan Uky dengan alasan seperti yang saya ungkapkan tadi. Tapi ternyata, hati saya dan Yehan bergerak lain. Mengingat hal tersebut untuk aksi kemanusiaan, maka segera setelah saya dan Yehan beberapa saat berpikir —apakah kami akan memilih untuk menyanggupi saja pesan Uky tersebut sebagai tantangan atau justru menolaknya karena alasan waktu dan suasana yang tak mendukung— pada akhirnya, saya dan Yehan memutuskan untuk berusaha menciptakan satu puisi pray for Kelud yang diminta Uky saat itu juga. Dalam jangka waktu yang sangat singkat buat saya.

Alhamdulillah, saya bisa menciptakan satu puisi yang saya beri judul “Rindu Tuhan Bergerak Lain”, meski jujur, saya sendiri masih merasa belum puas dengan hasilnya. Masih ada yang mengganjal dan tertahan dan belum berhasil saya tuangkan lewat puisi tersebut. Dan saya terus memikirkannya. Terus berusaha menemukannya. Hingga akhirnya saya putuskan untuk membacanya kembali setelah selesai acara Jambore. Berulang-ulang, lalu merevisinya.

Dan inilah puisi yang berhasil saya tulis saat itu, yang sepertinya, pada akhirnya tak jadi dibacakan oleh Uky dan itu sangat saya syukuri, yang kemudian saya endapkan dan saya revisi kembali selama beberapa minggu ini.

Poetry Ann
RINDU TUHAN BERGERAK LAIN

Ini kali
rindu Tuhan bergerak lain
ingin mengajak bermain
serupa ayah yang rindu buah hatinya
setelah sekian lama
meninggalkan rumah

Sinabung berseru
aku ingin lebih dulu
mencapai pundakMu

Kelud iri
ia bangkit dan berlari
sinabung tetap jadi pemenang

Kelud menegang
terlanjur menimbun geram
menggelontorkan tangisan
dengan jerit dan muntahan kesakitan
tak tertangguhkan

Ini kali
rindu Tuhan bergerak lain
tak ada genggaman
tak ada pelukan
tak ada kecupan hangat
berlayar di kening

Hanya lemparan pandang yang
jatuh pada kedalaman rasa
berenangan menuntun diri
untuk mampu menjalin tangan
demi hentikan jerit
dan muntahan kesakitan
yang terlanjur menenggelamkan

Rumah Dunia – Cimoyan 02-o3/2014

Tapi, sampai detik ini saya tetap tak bisa menetapkan bahwa puisi ini adalah puisi yang sudah final.

Jika kamu penulis puisi, mungkin sudah tahu dan merasakan, bahwa tidak mudah untuk menentukan apakah puisi yang kita buat benar-benar sudah final atau belum. Seperti itu jugalah saya. Meski puisi pray for Kelud ini sudah coba saya revisi, saya tetap tidak bisa memastikan kalau puisi ini benar-benar selesai karena bisa saja, sedetik, semenit, sejam, sehari, seminggu, sebulan, bahkan beberapa tahun setelah saya memposting puisi ini di blog, saya justru memutuskan ingin kembali merevisinya. Tak ada yang tahu.

Posted by Wordmobi