Oleh: Poetry Ann

Menulis itu dibuat menyenangkan, jangan dijadikan beban. Saat semangat menulis tengah menurun, cobalah mencari cara untuk menyenangkan diri, tapi tetap dengan cara melibatkan kegiatan menulis yang selama ini kita lakukan.

Tinggalkan sejenak tulisan kita yang tak juga kunjung selesai, yang malah membuat kita jenuh dan bosan. Mari bersenang-senang sambil tetap menulis ringan dan berkreatifitas! Mari bermain-main dengan lirik lagu!🙂

Bermain-main dengan lirik lagu bisa membantu kita meningkatkan kembali semangat menulis yang sempat turun. Tidak percaya? Itulah yang saya lakukan.

Tahun lalu saya pernah melakukan hal yang sama. Saya coba bermain-main dengan lirik lagu dari Peterpan yang berjudul Taman Langit . Saya coba merepresentasikan lirik lagu Taman Langit ke dalam sebuah fiksi. Kemarin malam, saat sengaja membiarkan diri asyik mendengarkan beberapa lagu Jikustik, iseng saya comot potongan-potongan lirik dari beberapa lagu yang saya dengarkan tersebut, lalu merangkainya menjadi sebuah dialog yang seolah terjadi antara saya dengan Tuhan. Beberapa kata sengaja saya ubah dan saya hilangkan, kemudian saya sesuaikan.

Nah, berikut ini hasilnya:

Tuhan datang dengan langkah ringan. Ia duduk di sampingku, lalu menyapaku:
Kapan lagi kautulis untukKu
tulisan-tulisan indahmu yang dulu?

Untuk sesaat aku tak begitu menghiraukan sapaanNya. Tapi kemudian, dengan sendirinya kalimat-kalimat yang semula ingin tetap kusimpan dalam hati beterjunan dari mulutku, tanpa bisa kutahan:
Seperti bintang-bintang
hilang ditelan malam
bagai harus melangkah
tanpa kutahu arah
lepaskan aku dari derita tak bertepi

Seperti dedaunan
berjatuhan di taman
bagaikan debur ombak
mampu pecahkan karang
lepaskan aku dari derita tak berakhir

Aku mendongak. MenatapNya lekat-lekat. Merapatkan diri padaNya dan balik bertanya:
Mungkinkah Kau kan menemaniku menulis lagi?

Tuhan tersenyum. Balik merapatkan diri padaku, lalu menjawab:
Bila kau rindukan Aku, poetry
coba kau pandangi langit malam ini
bila itu tak cukup mengganti
cobalah kau hirup udara pagi
Aku di situ

Ia merangkul pundakku penuh kasih sayang. Seperti sang ayah yang coba menenangkan puterinya:
Poetry, percaya padaKu
Ini hanya likuan hidup
yang pasti berakhir

Jangan takut berjalan sendirian
ada Aku turut menuntun jalan
saat hatimu diserang kesepian
Aku datang

Redam badai
lakukan dengan tenang
hujan ini akan engkau kalahkan
kalau hatimu percaya padaKu
Aku datang

Jangan takut kehilangan pegangan
ada Aku berimu kekuatan
agar dirimu mampu untuk bertahan
Aku datang

Aku menangis mendengarNya. Kemudian Tuhan kembali merapatkan diriNya padaku. Begitu rapat hingga aku nyaris tak bisa membedakan mana diriku, mana Tuhanku. Kemudian Ia menenangkanku dengan kalimat yang begitu sederhana:
Poetry, jangan menangis

Hanya itu, tapi mampu membuatku segera menghentikan tangisanku. Kuseka air mata yang sempat menjejakan diri di pipi. Sekali lagi aku menatapnya. Lebih lekat. Lebih lekat. Kali ini dengan senyuman:
Aku yang telah Engkau kuatkan
aku yang telah Engkau bangkitkan
saat kuterjaga
hingga kuterlelap nanti
selama itu aku akan selalu mengingatMu

Gimana? Asyik kan? Ringan, tapi tetap bisa membuat kita melahirkan sebuah tulisan. Soal apakah tulisan ringan kita akan bermanfaat bagi orang lain atau tidak, kita kembalikan pada pembaca.

Sebelum memikirkan bagaimana caranya agar apa yang kita tulis bisa bermanfaat untuk orang lain atau tidak, temukanlah dulu bagaimana caranya kita bisa memotivasi diri kita sendiri. Saya kira itu akan lebih baik.

Tertarik mencoba? Cobalah!🙂

Posted by Wordmobi