Oleh: Poetry Ann

Tadinya saya mau menyimpan ini sendiri, tapi saya pikir, mungkin hal yang akan saya tuliskan ini akan lebih berguna jika saya share pada orang lain.

Semua berawal dari SMS Bapak yang saya terima ketika saya tengah khusuk mengetik beberapa puisi yang sebelumnya sudah saya tulis di buku, yang memang khusus saya gunakan untuk menyimpan coretan puisi-puisi saya. “Pulang jam 6. Lagi di askes,” begitu isi SMS-nya.

Ketika membaca pesan dari Bapak tadi, muncul dua kemungkinan dalam benak saya. Kemungkinan pertama, bapak saya salah mengirim SMS. Mungkin sebenarnya Bapak ingin mengirimkan pesan tersebut pada orang yang sebelumnya menanyakan keberadaannya saat itu, yang memang sudah memiliki janji bertemu dengannya. Kemungkinan kedua, Bapak memang sengaja mengirimkan pesan tersebut pada saya, supaya saya menyampaikannya pada Emak, agar Emak tidak khawatir karena Bapak terbilang jarang sekali pulang lebih dari jam enam sore. Tapi biasanya, kalau Bapak SMS untuk memberitahukan bahwa dirinya pulang terlambat pada Emak dan kami, anak-anaknya, Bapak menyelipkan kata “Bapak” dalam pesannya. Kali itu tidak. Jadi saya pikir, mungkin Bapak salah kirim SMS. SMS tersebut mungkin memang seharusnya ditujukan untuk orang yang akan menemuinya. Maka saya pun tak membalas pesannya tadi.

Satu jam setelah Magrib, ketika adik saya pamit hendak pergi, kemudian nenek saya bertanya padanya mau pergi ke mana, terjadi obrolan pendek dan tak serius antara saya dan Bapak saat itu, tapi dampaknya sangat serius hingga membuat saya menyadari sesuatu yang selama ini justru tak saya acuhkan. Bapak bilang, nenek saya selalu bertanya ke mana atau sedang berada di mana cucu-cucunya jika saat menjelang Magrib beliau tidak melihat kami, cucu-cucunya, berada di rumah. Bapak bilang, apa yang dilakukan nenek saya tersebut sebenarnya sebuah bentuk kekhawatirannya pada kami, cucu-cucunya.

Dari obrolan malam itu saya berpikir, bahwa pesan Bapak yang saya terima sore itu bukanlah pesan yang salah kirim. Bapak ternyata memang sengaja mengirimkan pesan tersebut agar keluarganya di rumah tahu, saat itu dirinya tengah berada di mana dan dalam keadaan baik-baik saja, hingga kami, keluarganya, tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Dari obrolan saat itu pula saya sadar, bahwa sebenarnya, pesan Bapak sore itu merupakan teguran untuk saya.

Selama ini, setiap kali saya pulang larut malam atau bahkan sampai menginap di tempat lain, saya tak pernah sekali pun memberitahukan jam berapa saya akan pulang. Tak pernah juga memberitahukan tentang keberadaan saya saat itu pada orang tua saya di rumah, kecuali jika Bapak atau adik saya SMS menanyakan hal tersebut. Saya pikir, saya sudah besar, saya bisa menjaga diri saya sendiri. Saya pikir, selama saya bisa pulang dengan selamat sampai rumah, hal tersebut tak akan menimbulkan masalah dan kekhawatiran berlebihan pada kedua orang tua saya. Terlebih, saya jarang sekali mendapatkan protes keras atau larangan dari keduanya seperti yang dialami oleh beberapa kawan saya yang lain, jadi saya selalu berpikir segalanya akan baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kepulangan saya yang kerap melebihi waktu Magrib tersebut. Lagi pula, setiap kali saya pergi, saya selalu berpamitan pada Bapak dan Emak, dan saya yakin doa mereka selalu menyertai dan melindungi saya.

Tapi, rupanya pamit dan pulang dalam keadaan selamat saja belum cukup. Sebesar apapun kita, sedewasa apapun kita, sepintar apa pun kita menjaga diri, tetap saja akan selalu ada orang-orang yang begitu mengkhawatirkanmu di rumah. Itu yang saya tangkap dari pesan Bapak yang saya terima dan dari obrolan singkat bersamanya malam itu.

Pesan Bapak kali itu menyadarkan saya, bahwa saya tak sepenuhnya milik diri saya sendiri. Ada orang tua saya yang juga memiliki andil melahirkan, merawat, memberi kasih sayang dan melindungi saya, yang akan menerima dampaknya jika terjadi sesuatu pada diri saya. Jadi, apa susahnya saya mengabari mereka, sekadar untuk menunjukkan kalau saya baik-baik saja? Ya, seharusnya saya melakukan itu sejak lama.

Dari kejadian tersebut saya pun tahu, cara kedua orang tua saya menunjukkan rasa khawatirnya berbeda dengan orang tua beberapa kawan saya. Jika saya banyak mendengar kawan saya mengeluh karena orang tuanya keberatan, bahkan melarangnya untuk mengikuti suatu kegiatan jika kegiatan tersebut membuat dirinya pulang melebihi waktu Magrib, apalagi sampai menginap, kedua orang tua saya justru memilih untuk sebisa mungkin tak membatasi segala kegiatan dan segala apa yang saya lakukan. Keduanya memilih membebaskan dan memberikan kepercayaan lebih pada saya meski tak dipungkiri kadang memang melarang. Mereka bahkan kerap menahan diri untuk tidak menanyakan jam berapa saya akan pulang dan tengah berada di mana saya saat itu karena khawatir saya justru akan jadi merasa dikekang jika terus-terusan ditanya atau dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan “lagi di mana?”, atau “mau pulang jam berapa?”, atau “lagi bareng siapa sekarang?”, atau “pulang sekarang!”.

Sesekali Bapak saya memang menanyakan hal itu jika sampai lewat Isya saya belum juga pulang, tapi itu pun Bapak tidak menanyakan langsung menggunakan nomor telponnya. Biasanya, Bapak meminta adik saya untuk menanyakan hal tersebut pada saya, hingga pesan yang sampai pada saya adalah “Iat lagi di mana? Jangan pulang malem-malem”. Tentu saja saya tak berpikir kalau pesan itu adalah pesan yang keluar dari adik saya meski pesan tersebut berasal dari nomor telponnya. Saya tahu, itu pesan dari Bapak.

Bodohnya saya, saya kurang sensitif menangkap semua kekhawatiran yang ditunjukkan kedua orang tua saya itu. Hingga akhirnya saya menyadarinya. Ya, mestinya dari dulu saya tahu, sepintar apapun saya menjaga diri ketika berada di luar rumah, akan ada orang-orang yang selalu mengkhawatirkan saya di rumah.

Menyadari kebodohan saya kali ini, saya jadi teringat perkataan salah seorang kawan saya beberapa tahun lalu yang kini entah di mana keberadaanya. Setelah satu kejadian yang tak perlu saya ceritakan di sini, dia mengatakan, bahwa saya seperti hidup sendiri. Dia mengatakan hal tersebut karena kesal pada saya. Dia bilang, dia merasa keberadaannya tak pernah saya butuhkan. Saat mendengar ocehannya tersebut, saya hanya tertawa dan berkata, “Buat apa gue minta tolong ke lo kalau gue bisa ngelakuin itu sendiri?”

Saat itu saya merasa tak ada yang salah dengan kalimat yang saya lontarkan padanya, tapi rupanya kalimat yang meluncur dari mulut saya itu malah membuatnya tambah kesal hingga dia mendiamkan saya sampai berhari-hari. Bukannya minta maaf, saya malah balik mendiamkannya. Saya pikir, apa salah saya padanya dan apa haknya hingga dia berpikir saya memang pantas didiamkan begitu? Sampai akhirnya dia menyerah dan kembali mengajak saya bicara seperti biasa. Di akhir perbincangan dan canda tawa yang kami lakukan setelah berhari-hari saling mendiamkan dia berkata, bahwa sebenarnya dia hanya ingin saya tahu, apa yang dilakukannya ketika itu karena dia begitu mengkhawatirkan saya, dan menjadi merasa sangat menjengkelkan ketika orang yang dikhawatirkannya ternyata justru tak sedikitpun memahami perasaan orang yang mengkhawatirkannya. Dia bilang, betapa menyakitkan rasanya ketika kita tahu bahwa kita sama sekali tak dibutuhkan.

Andai dia tahu, bahwa justru sebenarnya saya merasakan hal yang sebaliknya. Saya ingin sekali mengakui kalau saya memang membutuhkannya. Hanya saja, saya tak mau terlalu menggantungkan diri padanya, mengganggunya dengan permintaan tolong dan rengekan-rengekan saya. Saya hanya merasa perlu untuk bersikap, ya, saya perempuan, terus kenapa? Bukankah perempuan pun bisa melakukan hal yang bahkan tak bisa dilakukan oleh lelaki? Saya hanya merasa perlu bersikap bahwa saya bukanlah orang yang hanya bisa menyusahkannya, menyusahkan kedua orang tua saya, dan menyusahkan yang lain. Itu saja. Tapi sepertinya, pada kenyataannya saya malah menjadi jauh lebih sering menyusahkan mereka.

Sekarang yang perlu saya lakukan adalah bersyukur karena kedua orang tua saya tak sampai membatasi, apa lagi melarang apa yang saya lakukan seperti orang tua beberapa kawan saya, juga tak sampai mendiamkan saya seperti kawan saya itu ketika kekhawatirannya selama ini justru nyaris tak pernah saya acuhkan.