Oleh: Poetry Ann

surat_reza

Salah satu surat yang dibuat oleh adik survivor banjir pada aksi trauma healing yang dilakukan KRB dan Arcapala pada Minggu, 3 Februari 2014, di Kp Nagara, Kec. Kibin, Serang – Banten.

 

Anak-anak kecil sekarang ternyata tak kalah kritis.

Beberapa hari lalu, adik saya, Nini, sewot waktu saya tanya kenapa acara yang ditonton acara yang menurut saya tak pantas untuk ditonton anak-anak. Dia jawab, “Jangan salahin Nini dong, kalau Nini nonton acara kayak gini! Orang Nini nyari film kartun di mana-mana nggak ada.”

Saat mendengar jawabannya saya diam, lalu berpikir. Ya, mestinya memang bukan anak-anak atau adik-adik kita yang kita salahkan ketika mereka menonoton tayangan yang semesetinya memang tak pantas untuk di tonton anak-anak. Minimnya tayangan untuk anak-anak semisal film-film kartun, The Animals dan acara yang memutarkan vidio klip lagu anak-anak membuat mereka terpaksa mengkonsumsi tayangan yang ada. Yang akhirnya malah membuat mereka kecanduan dan tak jarang pula menjadi dewasa sebelum waktunya. Kalaupun ada, tayangan-tayangan untuk anak-anak tersebut hanya muncul sekadarnya.

Surat_anak[1]

Salah satu surat adik-adik survivor banjir di Kp. Koper, Kec. Kresek, Tangerang – Banten.

Lalu pada Jumat malam Sabtu kemarin, 31 Januari 2014, saat saya merecoki Uky dan Ririn yang tengah memilah gambar-gambar dan surat-surat yang dibuat oleh adik-adik survivor banjir dari Kampung Koper, Kec. Kresek – Tangerang, seusai packing logistik untuk aksi trauma healing KRB bersama Arcapala pada Minggunya, saya dibuat tercengang. Surat-surat yang mereka tulis tak kalah kritis dari orang dewasa, tapi tetap polos.
“Wahai bapak presiden saya agung rahayu. Seharusnya wakil rakyat itu merakyat. Harus tangani banjir dengan cermat. Bangunkanlah kami tembok yang anti banjir!!!! Ok!” Itulah salah satu isi surat dari adik-adik survivor banjir di Kp. Koper yang sempat saya baca dan saya foto.

Lalu kemarin, Minggu, 3 Februari 2014, ketika turun lapangan ke lokasi trauma healing di Kp. Nagara, Kec. Kibin, Serang – Banten, saat komandan lapangan memberikan aba-aba pada kakak-kakak relawan untuk mengumpulkan surat yang dibuat oleh adik-adik survivor banjir yang menjadi kelompoknya, saya kembali dibuat tercengang oleh salah satu surat yang ditulis oleh adik survivor banjir yang kebetulan saat itu menjadi kelompok saya. Reza namanya. Saya tertarik membacanya bukan karena tulisannya bagus, tapi karena ada kata korupsi di situ yang ditulisnya besar-besar.

Selama saya bergabung di Majelis Puisi, ada kalimat Toto ST Radik yang saat itu masih menjadi tutor MP, yang masih saya ingat sampai sekarang, bahwa setiap kata yang kita tulis tentu punya makna dan tujuannya sendiri. Ada pesan dibaliknya. Seperti ketika kita menulis kata Tuhan dengan ‘T’ (t besar) atau ‘t’ (t kecil), tentu ada maksudnya. Dan meski sama-sama menuliskan kata Tuhan, tentu antara Tuhan dengan ‘T’ besar dengan kata ‘tuhan’ dengan ‘t’ kecil di situ memiliki pesan, maksud dan makna berbeda yang ingin disampaikan oleh si penulisnya. Hal inilah yang membuat saya berpikir, tentu Reza pun memiliki maksud dan tujuannya sendiri, mengapa kata yang lain ia tulis dengan ukuran normal, sementara kata korupsi dia tulis dengan ukuran huruf yang besar-besar.

“Kepada yang terhormat Ratu Atut. Jangan berbelanja di luar negeri. Urusin Kp. Nagara Kebanjiran. Jangan Korupsi.” Begitulah isi surat Reza yang sempat saya baca kemarin.

Rupanya, meski geram dengan pelaku korupsi, Reza tetap menghormati pelaku tersebut. Perhatikan saja, ia tetap membuka suratnya dengan kalimat “Kepada yang terhormat”.