Tutut Tahun Baru

Ilustrasi diambil dari pinterest.com

Hari ini niat saya untuk memposting cerita soal keseruan peringatan Maulidan di Kampung Cimoyan yang saya janjikan kemarin harus saya panding. Adik saya, Nini, tadi siang menagih janji pada saya perihal tulisannya yang akan saya posting di blog ini jika telah selesai. Untuk lebih jelasnya bisa baca dulu postingan saya yang berjudul Ngliping Asyik (Part 2).

Siang tadi, dia menunjukkan tulisan yang baru saja diselesaikannya. Setelah saya membacanya lalu sedikit mengeditnya, saya pikir tulisannya cukup layak untuk diposting. Maka saya katakan padanya bahwa saya akan mempostingnya malam ini. Dia gembira sekali. Nini sempat protes, mengapa tulisannya itu tak diposting siang itu juga. Saya katakan padanya kalau saya memiliki jadwal memposting malam hari tiap kali akan men-share sebuah tulisan. Hal tersebut saya lakukan karena kedispilinan waktu memposting tulisan pun sangat berpengaruh pada traffic pengunjung. Semakin kita bisamenjaga kedisiplinan ketika memposting, pengunjung atau follower kita akan tahu kapan waktu yang tepat untuk menengok blog kita demi mengetahui tulisan terbaru yang kita posting. Misalnya, jika saya sudah menetapkan jadwal memposting tulisan pada malam hari, maka follower yang biasa mengunjungi blog saya ini akan tahu dengan sendirinya bahwa saya baru akan memposting tulisan baru hanya pada saat malam hari. Maka Nini pun menerima alasan saya itu dan dia mau bersabar menunggu hingga tulisannya saya posting malam ini.

Kalau begitu langsung saja, selamat menikmati hidangan berbeda di dapurkata45 malam ini. Saya sajikan tulisan anak kelas 6 SD yang baru saja memulai hobi menulisnya, yang tak lain adalah adik saya sendiri. 🙂

Tutut  Tahun Baru

Oleh: Nini Happy

Selasa, 31 Desember 2013, saya bersama teman-teman pergi ke sawah untuk mencari tutut, buat dimakan saat malam tahun baru. Kami mencari tutut  pada siang  hari, sekitar jam dua sampai jam lima sore. Dan malam yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Tanggal 31 Desember 2013 atau malam Rabu adalah malam yang sudah ditunggu. Waktu kami pulang, kami semua mencuci tutut di kali, yang airnya sangat jernih.Setelah itu baru kami pulang ke rumah masing-masing. Tutut itu disimpan di rumahku. Waktu aku sampai di rumah, tak terasa waktu sudah Maghrib. Aku pun segera  mandi dan mengambil air wudhu dan shalat bersama mamahku. Setelah shalat aku bergegas pergi ngaji di tempat biasa aku ngaji. Memang sih, tempatnya kecil tapi cukuplah untuk beberapa orang.

Setelah aku pulang ngaji aku memanggil teman-temanku agar datang ke rumahku. Setelah semua kumpul, barulah kami merebus tutut bersam–sama. Kemudian kami congkel kepalanya dan di buang cangkangnya .

Setelah semua selesai di congkel, baru kami cuci, kemudian di tusuk dengan lidi yang sudah di potong-potong. Kami akan membuat sate  tutut dengan bumbu yang sudah diulek. Setelah kami selesai menusuk tutut, baru kami bakar. Baunya seperti bau sate ayam atau kambing yang biasa kami beli di pinggir jalan.  Aku pun penasaran dan tak sabar untuk mencicipi sate tutut tersebut karena aku ingin tahu bagaimana  rasanya sate tutut itu. Saat sudah matang, sate tutut dibaluri  dengan  bumbu kacang.

Ketika kita mau mencicipi sate tututnya, tiba-tiba ada kakaku yang mau beliin jagung untuk dibakar dan dimakan bersama-sama. Setelah matang, aku makan jagung bakar dan sate tutut sembari menonton film yang pemainnya adalah salah satu boyband favoritku, yaitu Coboy junior, sambil mendengarkan bunyi petasan yang meledak  di angkasa .

Biasanya, tiap malam tahun baru, di kampungku banyak yang membeli kembang api. Sampai jam  menunjukkan pukul 00:00 kami semua meniup terompet sekeras-kerasnya. Tapi malam tahun baru kali ini aku tidak membeli terompet karena masih ada yang bekas tahun lalu. Itu juga masih bagus kok, alias masih bisa dipakai.

Iklan

4 tanggapan untuk “Tutut Tahun Baru

  1. baru ngeh, disiplin waktu posting juga berpengaruh pada traffic pengunjung… aku mah ngasal… 🙂

    kalo menurut aku, tuh tulisan si adik ngak usah diedit. apa adanya. biar keliatan kepolosannya, yang justru ini menarik buatku.

    tapi ngomong2 si adik mulai diarahkan jadi penulis nih kayaknya. biar seperti mbak’e. kenapa tidak sekalian nama belakangnya dikasih marga yang sama, yang dulu sempat dipake: karatan… biar ikut numpang tenar. bukan begitu… tuan putri…. kekekeke

    Suka

    1. Heeey, heeey, heeey…! Siapa Anda? O’ow, nggak perlu dijawab. Saya sepertinya tahu siapa ini. Haghag…! Ini alter ego yang ke berapa? 😀

      Kedisiplinan waktu posting tulisan emang bisa mempengaruhi traffic pengunjung banget, Bang. Itu kan bagian dari penguasaan SEO. Sejak rajin ngeblog, saya berusaha sedikit-sedikit mempelajari SEO-nya juga, biar blog ini nggak diisi tikus-tikus. 😀

      Dan untuk tulisan adik saya, saya memang cuma ngedit kesalahan EYD sama kesalahan penggunaan kata sambung yang dipakainya aja. Selain itu saya biarkan apa adanya.

      Terus, yang perlu diingat, saya memang mengarahkan dia ke kegiatan membaca dan menulis, tapi bukan berarti mengarahkan dia untuk jadi penulis. Soalnya kalau menurut saya, kemempuan menulis itu penting buat setiap orang. Terlepas dari apakah dia penulis atau bukan.

      Suka

      1. wekekekeee… jangan sebut altar ego. kata ini bikin aku tersenyum kecut, karena aku juga bagian dari yang pernah dipencundangi…. untuk blog sebagai portofolio pribadi, aku membangunya dengan terbuka. walau masih nama pena.

        oh, itu cuma diedit EYD… kirain dirombak. terasa betul tuh tulisan kaku banget. tapi sudah bagus cara berceritanya mengikuti alur waktunya… cuma perlu diberi keterangan, dan itu tugas si mbak’e, apa itu tutut? tentu orang luar daerahku tak mengerti itu… kalo baca deskripsinya kayaknya itu istilah di tempatku besusul atau keong, sejenis siput kecil.

        so, berarti benar tesisku, jailahhh basane… maksudnya KESIMPULANKU BAHWA, menulis itu ketrampilan yang cocok untuk mendampingi segala profesi dan tak lekang segala jaman…

        #oh, ya. kalimat yang kutulis huruf besar semua di atas itu penulisan terbaru yang benar itu; bahwa baru koma, atau koma baru bahwa…

        Suka

        1. Wuhuuuu… makasih buat masukannya Oom…! 😀

          Soal tutut, iya bener, tutut itu sejenis keong yang ada di sawah-sawah itu. Yang kalo musim hujan pasti banyak ditemukan.

          Soal alter ego, baiklah kita lupakan sejenak. 😀 sejenak loh yak.

          Soal bahwa, setahu saya koma dulu baru bahwa. Tapi nggak tau juga yak, saya belum ngecek lagi yang bener itu yang mana sekarang.

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s