Oleh: Poetry Ann

Amy_Tan[1]

Pada waktu aku masih berusia dua puluh tahunan, ketika hubunganku dengan ibuku tidak begitu baik, ia pernah bertanya kepadaku, “Jika aku mati, apa yang akan kauingat?”Mulai lagi, pikirku, siksaan yang sudah ketinggalan zaman dan terlalu sering dilakukan ibuku. Aku lalu memberikan jawaban yang berbunyi kurang-lebih seperti ini, “Ayolah, kau belum akan mati.”

Ibuku tetap bersikeras. “Apa yang akan kauingat?”

Aku berusaha memikirkan jawaban. “Kau tahu, ada begitu banyak hal. Seperti, well, misalnya, kau adalah ibuku.”

Lalu ibuku berkata dengan marah sekaligus sedih, “Kurasa kau hanya tahu sedikit sekali tentang aku.”

Kata-kata itu teringat kembali olehku ketika pada suatu hari di tahun 1985 aku menerima telepon yang mengabarkan ibuku mungkin sudah meninggal. Ketika itu aku sedang berlibur di Hawaii dan tidak meninggalkan nomor telepon tempat aku bisa dihubungi. Jadi, baru pada waktu temanku, Gretchen, yang sedang berlibur bersamaku dan suamiku di Hawaii, mengecek mesin penjawab telepon di rumahnya, aku tahu sudah empat hari berlalu sejak ibuku mengalami serangan jantung. Saat ini ibuku sedang berada di ICU.

Sementara pergi ke telepon umum untuk menghubungi rumah sakit tempat ibuku di rawat, aku yakin semuanya sudah terlambat. Ibuku pasti sudah meninggal. Aku mencoba membayangkan ibuku masih hidup, dan yang dapat kuingat hanyalah kata-katanya, “Apa yang kauingat?” Sekarang aku bertanya kepada diriku sendiri, apa yang harus kuingat? Apa yang tidak bisa kunikmati lagi? Apa harapan dan ketakutan ibuku yang terbesar? Apa yang penting baginya? Timbul rasa penyesalan dan bersalah dalam diriku waktu menyadari kata-kata yang diucapkan ibuku dulu itu benar; aku hanya tahu sedikit sekali tentang dirinya. Betapa menyedihkan.

Cerita yang aku tuliskan untuk membuka suratku ini aku kutip langsung dari buku The Opposite of Fate yang ditulis oleh Amy Tan. Aku menemukannya di halaman 377-378. Aku tahu kamu pun memiliki buku ini, Nik. Jadi kamu bisa mngeceknya sendiri di sana.

Ketika aku membaca bagian yang aku kutipkan itu, aku terdiam cukup lama sebelum akhirnya melanjutkan membacanya ke paragraf berikunya.

Aku rasa, apa yang Amy Tan rasakan saat itu persis sama dengan apa yang aku rasakan saat ini. Pikiran-pikiran tentang seberapa dalam aku mengenal dan memahami ibuku tak pernah berhenti menggangguku.

Aku yakin kamu sudah tahu bagaimana hubunganku dengan ibuku, Nik. Banyak sekali kisah yang sudah aku ceritakan padamu mengenai hal yang satu itu. Tentang aku yang tak pernah berhasil membuat diriku lebih dekat dengan Ibu seperti halnya Kak Win. Tentang kecemburuanku pada Kak Win yang aku anggap selalu bisa mendapatkan perhatian lebih banyak dari Ibu. Tentang aku yang selalu tak bisa membuatnya (ibuku) merasa bangga padaku. Juga tentang segala hal yang kerap kali membuatku tak pernah bisa sepaham dengan pendapatnya. Aku bahkan tak pernah berhasil membuatnya tertarik mencicipi nasi goreng buatanku.

Lalu aku pun mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan pada diriku sendiri. Pertanyaan yang sama seperti yang Amy Tan ajukan pada dirinya sendiri. Aku bertanya apa yang aku ingat tentang ibuku? Apa yang tidak bisa kunikmati lagi ketika nanti ibuku sudah tak ada di sisiku? Apa harapan dan ketakutan ibuku yang terbesar? Dan apa yang penting baginya? Ternyata aku kesulitan menjawabnya.

Kebanyakan orang mengatakan bahwa anak perempuan biasanya lebih dekat dengan ayahnya ketimbang dengan ibunya. Mereka anggap itu hal yang lumrah. Aku tak tahu, juga tak pernah mau tahu apakah anggapan kebanyakan orang itu benar atau salah. Kadang aku merasa anggapan kebanyakan orang itu benar, kadang juga merasa anggapan itu salah. Jika mengingat hubungan antara aku dengan ibuku, anggapan kebanyakan orang itu aku anggap benar. Tapi jika melihat hubungan antara Kak Win dengan ibuku, aku rasa anggapan itu salah.

Aku sendiri tak mengerti mengapa aku selalu merasa ibuku tak pernah menginginkanku. Mungkin perasaan itu muncul karena aku lebih sering membuatnya marah dan menyusahkannya ketimbang membuatnya bahagia. Berada dekat denganku artinya malapetaka. Tapi apakah ada seorang ibu yang tak menginginkan anaknya sendiri? Ah, aku rasa tidak ada. Kalaupun ada, statusnya sebagai seorang ibu patut dipertanyakan. Karena itu aku pikir, mungkin akulah yang salah. Mungkin akulah yang memang belum berusaha lebih keras untuk mengenali dan memahami ibuku sendiri.

Lalu pelan-pelan aku mulai berusaha mengenali dan memahaminya. Aku mulai memperhatikannya. Aku mulai mencari tahu dan mengingat-ingat hal apa saja yang selama ini membuatnya mengembangkan senyum dan terlihat bahagia.

Setelah cukup keras mengingat-ingat, aku menemukan senyum Ibu selalu terkembang tiap kali mendapati Kak Win memasakkan sesuatu untuknya, tiap kali Kak Win selalu berusaha mengalah dariku, tiap kali Kak Win membantunya merawat tanaman hiasnya yang tumbuh di pekarangan depan dan belakang, tiap kali Kak Win menawarkan pijatan padanya, dan banyak lagi tiap kali-tiap kali yang lain, yang kesemuanya selalu berhubungan dengan Kak Win. Ah, bukankah itu yang sering membuatku menyimpan cemburu terhadap Kak Win?

Tapi hanya itulah yang aku ingat. Tak ada hal lain. Kemudian aku pun mulai mencoba melakukan apa-apa yang Kak Win lakukan untuk Ibu. Aku berusaha memasak masakan untuknya, aku berusaha membantu merawat tanaman hias kesayangannya, aku juga pernah mencoba menawarkan pijatan padanya. Kamu tahu hasilnya, Nik? Lumayan. Untuk usahaku kali ini tak bisa dibilang sukses, tapi juga tak bisa dibilang gagal. Setidaknya aku jadi sedikit lebih mengenali ibuku sendiri dibanding sebelumnya.

Hari pertama aku melakukan rencananku untuk mendekatinya, aku malah kena marah. Ibu marah ketika mendapati dapurnya berantakan saat aku gunakan untuk memasak makanan yang awalnya kuniatkan untuknya. Tapi aku tidak mau berhenti hanya karena usaha pertamaku itu gagal, Nik. Maka hari berikutnya aku mulai berinisiatif membantu merawat tanaman hiasnya.

Seminggu belakangan aku tak pernah ketinggalan untuk ikut menyirami tanaman hias yang memenuhi pekarangan depan dan belakang rumahku bersama Ibu, juga Kak Win tentunya. Kecuali kalau aku sedang ada jadwal latihan pencak silat dan kelas menulis.

Aku tahu, di awal keikutsertaanku merawat tanaman-tanaman hiasnya, Ibu dan Kak Win sedikit tampak terheran-heran. Aku melihat banyak tanda tanya yang terlukis jelas di kening keduanya. Tapi, aku pura-pura tak acuh. Aku biarkan saja mereka menyimpan tanda tanya dan ekspresi keheranannya itu. Kadang aku tertawa-tawa sendiri jika mengingat ekspresi keheranan mereka. Tapi ekspresi keheranan dan rasa tak percaya itu perlahan luntur ketika mereka menyadari kesungguhanku untuk turut membantu tidaklah main-main.

Aku sebenarnya tidak begitu tahu dari mana Ibu dan Kak Win mengetahui apakah aku sungguh-sungguh mau membantu mereka atau sekadar angin-anginan saja. Mungkin karena akhir-akhir ini aku banyak bertanya tentang segala hal yang berkaitan dengan tanaman-tanaman hiasnya itu. Sepertinya, akhir-akhir ini aku juga mulai menyadari kalau semakin ke sini aku semakin tertarik dengan segala hal yang berhubungan dengan tanaman hias. Aku pikir, merawat tanaman-tanaman hias itu sama menyenangkannya dengan ketika kita bertemu dengan banyak orang-orang baru. Tanaman-tanaman hias itu sama menggemaskannya dengan kucing-kucing peliharaanku.

Banyak sekali pengetahuan dan keajaiban yang aku temukan dari tanaman-tanaman hias itu. Aku jadi tahu banyak tentang jenis-jenis tanaman hias, aku jadi tahu kalau ternyata ada tanaman hias yang bisa menangkal racun, menangkal gigitan nyamuk, bisa membasmi serangga, juga ada tanaman hias yang getahnya ternyata bisa menyebabkan kejang. Aku juga jadi tahu kalau ternyata beberapa jenis tanaman hias memiliki sifat seperti halnya manusia. Ada tanaman hias yang manja, yang bisa gampang mati jika dibiarkan terlalu lama terpapar sinar matahari atau terlalu sering kena asap rokok. Ada tanaman hias yang tegar, yang tetap bisa bertahan meski jarang tersentuh air. Ah, terlalu banyak jika harus kuceritakan semuanya di sini, Nik. Yang jelas, kegiatan merawat tanaman hias yang kulakukan ini setidaknya berhasil membuatku selangkah lebih dekat dengan Ibu.

Tapi, aku sempat kembali merasakan kecewa ketika aku menawarkan diri untuk memijati Ibu. Ketika itu aku baru saja pulang dari latihan pencak silat saat aku melihat Ibu baru saja keluar dari dapur, hendak melangkah menuju kamarnya sembari terus memijati lehernya sendiri. Aku tahu Ibu pasti kelelahan setelah seharian itu menyelesaikan pesanan kue dari langganannya. Melihat ada kesempatan baik untuk menawarinya pijatan, aku pun tak buang waktu. Lekas kutawarkan diri untuk memijatinya. Kamu tahu apa timpal ibuku, Nik? Ibu malah memintaku untuk memanggilkan Kak Win. Ibu bilang ia tidak percaya aku bisa memijatinya. Ibu bilang kalau tubuhnya tak mau dibikin lebih remuk lagi olehku. Ia mengatakannya sambil memandangku dengan tatapan ngeri yang dibuat-buat. Melihatku yang masih mengenakan sergam latihan pencak silat, aku baru sadar, mungkin Ibu mengira aku mau menjadikannya sparring partnerku. 

Ibu rupanya tahu kekecewaanku karena saat baru saja selangkah aku meninggalkannya, Ibu memanggilku kembali.

“Tha!”

Aku menoleh.

“Makasih,” katanya, dengan senyumnya yang begitu manis. “Ibu tahu kamu masih capek.” Setelahnya, ia memintaku untuk menunggunya sebentar. Ibu masuk ke kamarnya lalu beberapa saat kemudian kembali muncul dengan sebuah buku di tangannya.

“Ibu punya sesuatu untukmu.” Ibu menyerahkan buku yang ada di tangannya padaku. Coba tebak buku apa yang ia berikan padaku, Nik? Ia memberikan buku yang selama ini sama-sama kita cari, tapi tak kunjung mendapatkannya. Buku terbitan lama karya E.S. Ito. Aku tahu kamu pasti bisa menebaknya. Ya, jawabannya buku Rahasia Meede. Kondisinya masih bagus.

“Ibu tahu kamu sudah lama mencari buku itu kan?”

Aku tak menjawab apa-apa saat itu. Aku terlalu senang.

“Coba tebak dari mana Ibu mendapatkan buku itu?”

“Dari mana?”

“Dari tetangga kita!”

“Tetangga kita?”

“Ya, Ibu menemukannya di tumpukan koran dan kardus bekas yang akan dijualnya ke tukang loakan yang setiap minggu berkeliling di sekitar komplek kita. Karena Ibu tahu kamu sudah lama mencari-cari buku itu, Ibu berniat membeli buku itu darinya. Tapi dia memberikannya secara cuma-cuma.”

Aku tidak tahu dari mana Ibu tahu soal keinginanku memiliki buku itu, yang jelas aku menyadari satu hal lagi sekarang. Bahwa tak selamanya penolakan terjadi karena kita tak diinginkan. See? Ibu menolak tawaran pijatanku karena dia khawatir padaku. Ia tahu aku masih kelelahan. Ia bahkan tahu keinginan yang selama ini tak pernah kukatakan padanya.

Aku jadi ingat perkataannya di sela-sela waktu aku, Ibu dan Kak Win sama-sama merawat tanaman hias di pekarangan belakang rumah. Ibu bilang, tanaman hiasnya memiliki sifat berbeda-beda, jadi cara perawatannya pun berbeda-beda. Tak bisa disamakan. Ada tanaman yang cukup disiram sehari sekali, ada yang mesti dua kali sehari. Ada tanaman yang mesti ditaruh di tempat yang tak terlalu banyak terpapar matahari, ada juga yang mesti ditaruh di tempat yang bisa terpapar matahari secara langsung. Mungkin cara Ibu memberikan kasih sayangnya padaku dan Kak Win pun tak jauh beda dengan cara dia memperlakukan tanaman hiasnya. Ibu tahu betul antara aku dan Kak Win memiliki sifat, kebiasaan dan tingkat emosi yang tak sama. Bisa dibilang sangat bertolakbelakang. Karena itulah Ibu memperlakukan aku dan Kak Win pun dengan cara yang berbeda. Hanya saja, mungkin selama ini aku terlalu terfokus pada apa yang sudah Ibu lakukan untuk Kak Win, bukan apa yang sudah Ibu lakukan untukku. Hingga akhirnya timbul kesalahpahaman dan kecemburuan dalam diriku.

Ya, aku sadar sekarang, selama ini Ibu sudah berusaha untuk bersikap adil padaku, juga pada Kak Win.

Hey, Nik, aku rasa aku sudah mulai bisa memahami ibuku. 

Nik sempat terpekur beberapa saat setelah selesai membaca surat dari Tha yang baru saja diterimanya siang tadi, sebelum akhirnya ia disibukkan dengan pikiran-pikiran yang bisa dibilang berbanding terbalik dengan apa yang diceritakan Tha dalam suratnya.

Jika Tha mulai berhasil mengenali dan memahami ibunya, Nik justru masih harus susah payah untuk mengenali dan memahami papa-mamanya. Ia selalu merasa belum bisa mengenali dan memahami kedua orangtuanya itu. Kedua orangtua yang betapapun seringnya mereka bertengkar, keduanya tetap bersikeras mempertahankan rumahtangganya karena alasan cinta. Rupanya benar, bahwa cinta selalu sanggup mengampuni dan memberikan kesabaran panjang. Nik lupa dari mana ia mendapatkan kalimat tersebut. Yang ia ingat, ia menemukannya dalam sebuah buku yang pernah dibacanya. Soal buku apa dan karya siapa, ia sendiri tak lagi bisa mengingatnya. Ia berusaha mengingat-ingatnya kembali, tapi ingatannya malah menikung ke peristiwa ketika dirinya baru saja pulang ke rumahnya sebulan yang lalu.

Lagi. Didapatinya papa dan mamanya tengah bertengkar. Ia bergeming di ambang pintu depan dengan wajah menegang.

“Nik?” Mamanya lekas menghentikan pertengkaran ketika dilihatnya Nik berdiri di sana. Tanpa suara. Kemudian lekas disekanya air matanya yang sempat keluar dengan punggung tangannya.

Mendengar nama Nik disebut, papanya menoleh ke tempat Nik masih bergeming. Matanya membelalak. Untuk kesekian kalinya ia menyesal mengapa anaknya itu harus memergoki pertengkarannya dengan isterinya.

Bukannya Nik mendekat dan menyalami kedua orangtuanya, ia malah lekas menghindar dari hadapan keduanya dan menghilang di balik pintu kamarnya.

“Semuanya gara-gara Papa!” sentak mama Nik sembari berlalu dari hadapan suaminya. Melangkah menuju kamarnya.

“Loh, kok, Papa sih yang disalahin!” Papa Nik menjatuhkan diri di sofa. Untuk beberapa saat ia tercenung. Benaknya dipenuhi dengan rasa bersalah tak tertangguhkan. Merasa bersalah karena lagi-lagi tak bisa menahan emosinya ketika sang isteri kembali melepas kecemburuannya. Juga merasa bersalah karena lagi-lagi membiarkan Nik menyaksikan pertengkaran antara dirinya dan isterinya itu.

Sementara perasaan bersalah terus bersarang dalam benaknya, matanya tertumbuk pada sebuah foto yang terpajang di atas meja hias kecil yang tepat berada di sisi sofa yang didudukinya. Wajah manis seorang perempuan yang tengah menertawakan anak laki-laki berusia sekitar empat tahunan karena menemplokkan kue tart ke wajah seorang lelaki yang tak lain adalah dirinya, membawanya pada kenangan belasan tahun silam.

Tangannya meraih foto tadi. Kenangan belasan tahun silam yang terekam dalam foto itu membuatnya sedikit melupakan rasa bersalahnya.

“Kenapa kalian tidak bercerai saja?” Pertanyaan yang tiba-tiba ditangkap telinganya membuat kenangan yang berputar di kepalanya kembali berlepasan dan lenyap. Ia mendongak. Dilihatnya Nik sudah berdiri di dekatnya.

Papa Nik melempar senyumnya. Ia tahu Nik tak benar-benar mengharapkan apa yang dikatakannya barusan terjadi.

“Papa minta maaf. Papa tahu, pertengkaran antara Papa dan Mamalah yang menyebabkanmu selalu merasa tak nyaman berlama-lama tinggal di rumah, Nik. Tapi kamu tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi.”

“Ya, aku tak mengerti, Pa. Dan kalian tak pernah membuatku mengerti.” Nik duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang diduduki papanya. Wajahnya sudah tampak sedikit santai sekarang.

“Meski Papa dan Mama selalu bertengkar, Papa tak pernah berpikir untuk menceraikan mamamu. Sekejap pun tak pernah. Mamamu adalah anugerah terindah kedua, setelah nenekmu, yang Papa dapat dari Tuhan.” Papa Nik menghela napas berat. Ia letakkan kembali foto yang tadi diambilnya ke tempatnya semula.

“Mamamu memang bukan wanita pertama yang Papa cintai, tapi dia wanita terakhir yang mengisi hati Papa. Hingga sekarang.”

“Lalu kenapa kalian terus bertengkar?” Suara Nik kali ini terkesan acuh tak acuh. Sebenarnya ia sudah tak lagi mau mengurusi pertengkaran kedua orangtuanya itu. Toh keduanya telah sama-sama dewasa dan tua, pikirnya. Tapi rasa cintanya terhadap kedua orangtuanya itu masih juga mendorong dirinya untuk ikut ambil peran menengahi keduanya. Mencari jalan supaya pertengkaran-pertengkaran yang sama tak terulang.

“Kadang, cinta memang tak melulu diwarnai kisah-kisah manis, Nik. Masing-masing orang memilih caranya sendiri untuk menunjukkan rasa cintanya. Mungkin dalam hal ini mamamu memilih menunjukkannya dengan perasaan cemburu yang kadang berlebihan. Yang akhirnya kadang membuat Papa meradang, lalu akhirnya bertengkar.” Papa Nik terkekeh, menertawakan perkataannya sendiri.

Masing-masing orang memilih caranya sendiri untuk menunjukkan rasa cintanya. Nik ikut terkekeh. Kalimat yang sama pernah didengarnya dari mamanya. Usia Nik baru menginjak delapan tahun ketika itu. Mamanya memintanya untuk mengajak papanya makan malam bersama. Bukannya bergegas melaksanakan apa yang diminta mamanya, ia malah bengong karena ia tahu, satu jam setengah sebelumnya, mama dan papanya itu baru saja bertengkar. Ia juga tahu mamanya itu masih menyimpan kemarahan pada papanya. Tapi biarpun begitu, mamanya itu tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang ibu sekaligus isteri. Ia tetap memasak untuk anak dan suaminya. Ia tetap mengkhawatirkan perut anak dan suaminya.

“Kenapa bengong?” Mama Nik melirikkan matanya ke arah Nik. “Ayo sana, panggil papamu! Perutnya pasti sudah keroncongan,” katanya, dengan tetap mengembangkan senyum tulusnya. Kedua tangannya sibuk menata peralatan makan dan makanan yang baru selesai di masaknya di atas meja makan.

“Kenapa Mama masih mau memasak makanan untuk Papa? Dia kan tadi sudah menyakiti Mama?” Nik masih tak mau melangkah menemui papanya.

Mama Nik menghentikan aktivitasnya menata peralatan makan dan makanan yang sudah disiapkannya, lalu menghadap Nik dengan posisi badan setengah membungkuk. “Papa tidak menyakiti Mama, sayang. Tadi kami hanya berselisih pendapat sedikit. Biar bagaimanapun, Papa tetaplah papamu. Dan dia tetaplah suami Mama. Imam dalam keluarga kita.”

“Kalau begitu kenapa kalian sering sekali berselisih pendapat?”

“Masing-masing orang memilih caranya sendiri untuk menunjukkan rasa cintanya. Dan mungkin, begitulah cara Mama dan Papa menunjukkan rasa cinta kami.” Mama Nik mengedipkan sebelah matanya ke arah Nik. Menyentuhkan jari telunjuknya ke ujung hidung anaknya itu.

“Kelak, ketika sudah besar nanti, Nik pasti mengerti. Sekarang pergilah memanggil Papamu. Ajak dia makan malam bersama kita di sini, okey!”

Tapi apa yang dikatakan mamanya itu rupanya salah. Karena hingga saat ini Nik tetap tak mengerti mengapa kedua orangtuanya itu terus saja bertengkar, tapi juga tetap ngotot mempertahankan rumahtangganya.

“Nik, suratku sudah sampai?” Pesan Tha yang muncul di handphonnya memaksa Nik untuk menarik diri dari ingatan tentang kedua orangtuanya. Ia lekas bangkit dari tempat tidur di kamar sebuah penginapan kecil yang sudah seminggu ditinggalinya itu.

“Aku sudah membacanya. Dan seperti biasa, aku selalu suka cerita-ceritamu,” balas Nik. Ia kembali terpekur. Satu hal lagi disadarinya. Bukan hanya sikap kedua orangtuanya saja yang sampai detik ini belum mampu dipahaminya. Ia bahkan masih belum mampu memahami perasaannya sendiri. Perasaannya terhadap Win, juga perasaannya terhadap Tha.

*Sebuah fiksi yang terinspirasi dari buku The Opposite of Fate karya Amy Tan.

SELAMAT HARI IBU! ^^

 #Cerpen ini sudah diposting sebelumnya di akun facebook Poetry Ann, pada 22 Desember 2013. Bertepatan dengan peringatan Hari Ibu.