Oleh: Poetry Ann

My_horror_trip[1]

Tiga buku yang memuat karya saya, yang baru diterbitkan Gong Publishing pada November 2013 lalu.

Siang itu, sepulangnya dari Rumah Dunia, usai mendiskusikan rencana bedah buku kumcer My Horror Trip yang baru saja diambilnya, Tha bergegas memenuhi janjinya dengan Nik yang sejak beberapa jam sebelumnya mengiriminya pesan.

“Di mana? Hari ini hari terakhirku di Serang. Bisa ketemu?” Itu pesan pertama yang diterima Tha dari Nik.

“Okay! Tapi abis duhur ya?”

“Oke. Ditunggu di tempat biasa.”

“Sip!”

Sesampainya di tempat yang dijanjikan, Tha mendapati Nik sudah menunggu di meja yang sama, persis seperti ketika mereka bertemu di tahun-tahun sebelumnya: meja pojok sebelah kiri, tepat di sisi kolam ikan.

“Masih nggak bosen duduk di sebelah sini?” Tha menatap Nik sepintas sembari melempar senyum. Kemudian lekas duduk setelah ia membuka jaketnya dan menaruhnya di kursi kosong yang ada di sebelahnya.

“Kenapa nggak nunggu ujan reda?” Nik tak mengacuhkan pertanyaan Tha barusan. Ia malah balik bertanya ketika dilihatnya jaket Tha sedikit basah. Pandangannya yang semula tertuju pada buku yang tengah dibacanya beralih pada gerimis di luar kedai.

Tha tak begitu menanggapi pertanyaan Nik. Tangannya sudah sibuk merogoh tas selempang yang masih nyantol di pundaknya. “Tadi pas mau berangkat ke sini reda. Cuma pas berhenti sebentar di musola buat salat, ternyata ujan lagi. Nunggu, nggak reda-reda. Takut kamu kelamaan nunggu,” terangnya, sembari menyodorkan tiga buku yang baru saja diambilnya dari dalam tas pada Nik.

Nik menutup buku yang tadi dibacanya. Meletakkannya begitu saja di meja untuk kemudian meraih ketiga buku yang disodorkan Tha bergantian.

“Buku terbaru yang memuat karyaku. Baca deh! Aku menunggu komentarmu.” Selesai meluncurkan kalimat tadi, mata Tha melirik ke arah semangkuk mpek-mpek yang ada di hadapannya. “Ini…?” tunjuknya.

“Ya, itu buat kamu. Sengaja sekalian aku pesenin biar nggak usah ngantri lagi.” Nik membetulkan letak kacamatanya sebelum akhirnya ia membuka ketiga buku yang disodorkan Tha tadi. Mencari-cari di halaman berapa karya Tha berada.

Sementara Nik membaca satu per satu karya Tha yang ada dalam ketiga buku tersebut, Tha asyik menghabiskan mpek-mpeknya sambil sesekali bertanya “gimana?” yang pada akhirnya sama sekali tak dijawab oleh Nik. Nik terlihat begitu serius menekuri tulisan Tha.

“Kamera SLR-nya sibuk mengabadikan peristiwa yang hanya bisa disaksikan setiap bulan oktober dari atas jembatan. Sampai kemudian lensa kameranya menangkap sosok pemuda dengan ransel besar dan kamera di tangannya di dermaga.” Nik tiba-tiba saja membaca keras-keras paragraf awal cerpen Tha yang termuat di kumpulan cerpen My Horror Trip yang ada di tangannya. Tha pun lekas menghentikan kesibukannya menikmati mpek-mpek. Ia memperhatikan Nik. Tha tahu, jika Nik sudah membaca keras-keras apa yang ditulisnya, itu artinya ada yang tidak beres dengan bagian tersebut.

“Sosok itu begitu menarik perhatian hingga ia memutuskan untuk mengabadikannya. Tapi matanya terperanjat begitu dilihatnya pemuda tadi menoleh, menatapnya, memperhatikannya lalu tersenyum.” Nik berhenti sejenak.

“Penampilan dan mata sipit di balik kacamatanya mengingatkannya pada sosok dirinya 25 tahun silam.” Nik berhenti di kalimat tadi. Ia menutup bukunya sebelum akhirnya menyeruput lemon tea yang sejak tadi belum disentuhnya.

“Ada yang salah?”

“Kamera SLR, ransel besar, mata sipit di balik kacamatanya.” Nik kembali menyebutkan ciri-ciri tokoh dalam cerpen Tha yang baru saja dibacanya. “Kayaknya fasih banget?”

“Maksudnya?”

Nik baru saja hendak menjelaskan lebih lanjut ketika terdengar beberapa orang di seberang mejanya menjerit, terkejut melihat seorang anak kecil yang lepas dari pengawasan ibu di sampingnya lalu terjatuh dari kursinya. Perhatian Nik dan Tha pun sontak tertuju pada anak kecil yang kemudian terlihat terus meringis kesakitan.

“Terusin!” desak Tha setelah beberapa saat perhatian dirinya dan Nik terampas oleh peristiwa tadi.

“Aku kenal seseorang yang sosoknya mirip banget sama tokoh kamu tadi, Tha. Kamu tahu siapa yang aku maksud kan?” Nik menyilangkan kedua belah tangannya di dada. Sedikit menelengkan kepala dengan pandangan lurus tertuju pada Tha.

“Aku tahu ke mana arah omonganmu tadi, Nik.” Tha menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi. Mpek-mpek yang sudah hampir tandas di hadapannya tiba-tiba saja tak nikmat lagi untuknya. “Itu cuma tokoh fiksi!”

“Fiksi, tapi tentu ada seseorang yang menginspirasi?” Nik rupanya tak mau begitu saja mempercayai pengakuan Tha.

“Kamu ngajak ketemuan cuma mau ngajak berantem?”

Nik tak menjawab. Kembali ia seruput lemon tea yang ada di hadapannya dengan malas. “Nanti malam aku mau berangkat lagi.” Hanya itu yang akhirnya ia ucapkan.
 

*Sebuah fiksi yang terinspirasi dari foto ketiga buku kumpulan cerpen dan puisi yang baru saja diterbitkan November ini.