Oleh: Poetry Ann

Vegeta[1]

Vegeta (baca: Bezita)

Ada cowok dan cewek duduk di sebelah saya. Selama satu jam keduanya diam saja. Seperti tak saling kenal, tapi sesekali mata mereka saling mengadu dan mendelik kesal. Saya pun ikut kesal, karena si cowok berkali-kali diam-diam melirikkan matanya ke arah saya dan melempar senyum ganjil dan menyebalkan.

Tak lama ada wanita cantik turun dari bus. Bibirnya sensual bodinya aduhai. Tersenyum kenes ke arah keduanya. Si cowok bergumam, “Surga dunia…,” pujinya.

Si cewek sontak meruncingkan matanya ke arah si cowok. “Percuma aja, otaknya cetek,” cibirnya dengan muka masam.

“Kok, tahu cetek? Emang udah pernah nyelemin otaknya?”

“Udahlah, makanya gue tahu.”

“Cetekan mana sama otak lo?”

Si cewek kembali meruncingkan tatapannya.

“Nggak bisa jawab kan? Makanya sebelum ngukur otak orang lain mending ukur dulu otak sendiri. Biar kalo ada yang nanya bisa jawab.” Si cowok tergelak.

Saya ingin juga tergelak seperti yang dilakukan si cowok, tapi saya urung melakukannya ketika mendapati wajah horor si cewek mengarah tepat ke saya.

Si cewek kesal. Lalu pergi setelah lebih dulu menghantamkan tas besarnya ke wajah si cowok.

Saya kembali ingin tergelak. Tapi, wajah horor si cowok gantian meneror.

Setelahnya saya menyibukkan diri dengan handphone yang sejak tadi saya pegang.

“Nggak usah dibikin status,” ketus si cowok tiba-tiba. Saya alihkan pandangan saya ke arahnya. Hanya untuk memastikan kalau ucapannya tadi ditujukan pada saya.

Saya terbengong. Ternyata si cowok tadi benar-benar bicara pada saya. Bola matanya bergerak naik turun, memandangi handphone di tangan saya lalu beralih ke saya dengan mimik seperti ingin di hajar: menyebalkan.

Meskipun kecurigaannya itu benar, saya tetap tak suka dipandangi seperti itu.

“Nggak usah bengong.” Si cowok tadi mengibaskan tangannya tepat di depan wajah saya.

Saya masih diam dan memasang tampang sesadis mungkin.

“Lo nggak inget gue?”

Ketika mendengar pertanyaannya barusan, kadar kesadisan yang saya tampakkan pada si cowok tadi sedikit saya turunkan.

Dia menelengkan kepala. “Lo beneran nggak inget siapa gue?”

Saya masih bungkam. Saya memang sama sekali tak ingat siapa dia. Jadi, sengotot apa pun dia tanya “lo beneran nggak inget siapa gue?” ya, tetap saja saya tak ingat.

“Perasaan gue, kita baru empat tahun nggak ketemu. Masa lo udah beneran lupa sama gue?”

Usaha saya untuk mengingat-ingat siapa cowok yang ada di depan saya ini sama sekali tak menampakkan hasil. Saya menyerah dan berakhir dengan kerutan kening.

“Eh, lo bisu ya sekarang?”

Tak jelas apakah maksudnya bercanda atau serius, terlepas dari itu saya baru sadar kalau dari tadi saya memang tak sekalipun mengeluarkan suara. Otak iseng saya kumat. Saya sengaja tetap bungkam. Tak menjawab maupun menunjukkan ekspresi apa pun atas pertanyaan terakhirnya tadi.

“Tapi gue tetep suka sama lo sih. Muka sadis lo itu loh, belom berubah.”

Hah?!

Ekspresi keterkejutan saya tadi membuatnya hampir tergelak jika saja saya tak menunjukkan tampang meneror seperti yang dilakukannya pada saya, ketika saya hendak menertawakan kesialannya mendapatkan hantaman tas cewek yang beberapa menit lalu berada di sampingnya.

Kemudian dia membuka resleting tas yang sejak tadi di pangkuannya dan merogohnya. Selama beberapa saat sebelah tangannya mengubek-ubek isi tasnya. Saya segera tahu apa yang dicarinya ketika dia mengeluarkan sebelah tangannya tadi dan mendapati sebuah kotak kecil di sana.

“Nih!” Dia menyodorkan kotak kecil tadi pada saya. Saya menyambutnya dengan tanda tanya yang saya ekspresikan lewat wajah saya.

“Buka aja!”

Awalnya enggan. Males banget. Saya pikir, ngapain saya menuruti perintah cowok nggak jelas yang sok kenal ini? Tapi ujung-ujungnya, karena penasaran, saya pun membukanya.

Tumpukan stiker bergambar salah satu tokoh anime favorit saya dengan beragam gaya berdiam manis dalam kotak kecil yang saya buka.

“Empat tahun lalu, waktu gue tanya tipe cowok yang lo suka kayak apa, lo jawab, yang kayak Bezita. Terus tanpa gue tanya kenapa, lo udah nyerocos banyak hal tentang Bezita. Lo bilang, walaupun pada awalnya Bezita itu jahat tapi sebenernya dia itu punya hati yang lembut dan penyayang. Buktinya, ujung-ujungnya dia mau bantuin si Son Goku melindungi bumi. Dia bahkan rela meledakkan diri untuk melenyapkan Najin Buu demi menyelamatkan anak dan isterinya, Son Goku dan rakyat bumi. Bezita itu over pede, keliatannya angkuh dan egois tapi dibalik itu semua sebenernya dia itu baik dan nggak tegaan. Lo inget omongan lo itu kan?”

Saya terkejut tapi tak mengatakan apa pun. Saya anggap apa yang dikatakannya hanya kebetulan. Siapa pun orang yang mengagumi sosok Bezita, saya pikir kurang lebih akan berpikiran sama seperti yang dia katakan.

Si cowok tadi melanjutkan kesoktahuannya. “Lo juga bilang kalo Bezita itu tokoh anime yang karakternya paling manusiawi. Dia punya kekurangan tapi juga punya kelebihan. Secara fisik dia bukan karakter yang super ganteng dan keren kayak Taksido Bertopeng di Sailormoon, dia juga nggak super smart, nggak selalu beruntung dan nggak selalu jadi pahlawan kaya Conan Edogawa. Dia punya sisi jahat juga sisi baik. Dia itu karakter yang super optimis dan nggak gampang nyerah. Buktinya, biarpun kekuatannya selalu kalah sama kekuatan Goku, dia tetep berlatih dan berjuang supaya bisa nyaingin dan ngalahin Goku. Lo suka sama semangatnya. Dia itu nggak sempurna tapi justru ketidaksempurnaannya itulah yang bikin dia jadi sempurna di mata lo. Itu yang lo bilang ke gue empat tahun lalu.”

Meski terkejut saya tetap mempertahankan keisengan saya. Saya tetap bungkam. Saya cuma tercengang mendengar ceritanya. Otak saya mulai makin kusut. Bagaimana bisa cowok yang sok kenal ini tahu segala hal yang saya pikirkan tentang tokoh anime favorit saya? Saya bahkan tak ingat kapan saya pernah mengatakan semua itu padanya.

Mendapati saya tercengang dia malah tersenyum. Dan saya akui senyumnya memang manis. Tanpa mengacuhkan ekspresi keterkejutan saya, dia kembali melanjutkan ocehannya.

“Semenjak itu gue berusaha supaya gue bisa jadi kayak Bezita. Gue mulai jadi sok angkuh. Gue mulai sering berantem dan ikut tauran cuma buat nunjukin kalau gue juga hebat. Gue bisa nahan sakit bekas dipukulin orang atau apa pun. Gue tunjukin kalau gue berani. Gue jadi anak berandal tapi di sisi lain gue tetep bantuin orang tua gue jualan di pasar, buat nunjukin kalau gue tetep punya perasaan walaupun gue bengal.” Dia terkekeh. Saya diam saja.

“Gue pikir lo bakal nengok ke gue. Gue pikir lo bakal ngeliat gue.” Dia kembali terkekeh kemudian menoleh. Kembali memandangi saya. Lalu diam.

“Ternyata gue salah.” Dia merunduk. Menggesek-gesekkan sepatunya pada kerikil-kerikil yang ada di sekitar kakinya. “Lo malah makin jauh dari gue. Lo bahkan nggak sudi ngomong sama gue. Iya kan?”

Oh, yeah! Kalaupun betul empat tahun lalu saya pernah mengenalnya lalu menjauhinya, sepertinya sekarang pun saya harus melakukan hal yang sama. Saya mulai berpikir kalau cowok yang ada di hadapan saya ini adalah cowok gila.

“Tapi akhirnya gue sadar sih, kalo apa yang gue lakuin itu konyol.” Dia terkekeh sesaat, kemudian, “Bego banget ya, gue?”

Saya hanya membatin, “Bukan gue loh yang ngomong.”

“Stiker-stiker itu buat lo.” Dia sama sekali tak peduli dengan sikap saya yang tetap tak mengacuhkannya. Dia malah kembali tersenyum. Oke, senyumnya terlalu manis buat saya tinggalkan. Karena itu saya urung pergi darinya. Saya tetap bertahan di situ.

“Sebenernya gue mau ngasih itu empat tahun lalu, tapi gue nggak berani. Terus lo keburu pindah juga, jadi stiker-stiker itu cuma gue simpen dan gue bawa-bawa terus sambil ngarep keajaiban kalau suatu hari nanti gue bisa ketemu sama lo dan bisa ngasihin stiker itu.” Dia kembali menatap saya dengan senyum manisnya. “Akhirnya terjadi juga.”

 

#Sebuah fiksi yang terinspirasi dari salah satu karakter anime di seri Dragon Ball, Vegeta (baca: Bezita).