Oleh: Poetry Ann

 

“Di Serang ada jalur Busway nggak?” Nini, adik saya, nyeletuk bertanya ketika saya dan bapak saya tengah menyaksikan berita perihal masih banyaknya warga Jakarta yang menorobos jalur Busway meski sudah ditetapkan pemberian denda bagi warga yang menyerobot jalur Busway tersebut pagi ini.

“Kalo di Serang mah, adanya jalur becakway,” timpal saya disusul gelak dari saya sendiri, Nini dan bapak saya.

Setelahnya, bapak saya menambahkan bahwa di Serang memang sempat dibangun jalur khusus untuk becak, tapi tak berlangsung lama karena jalur tersebut malah lebih sering dipakai untuk parkir kendaraan roda empat dan roda dua.

“Emang Indonesia itu bukan peraturannya yang perlu dibenerin, tapi orang-orangnya!” Saya mulai berargumen, dan bapak saya menyetujui argumen saya itu.

“Sehebat apa pun kebijakan, kalau orang-orangnya nggak bener, ya tetep aja bakal berantakan.”

Perbincangan tadi mengalihkan fokus saya dan bapak saya dari acara berita yang tengah kami tonton. Selanjutnya, Bapak malah bercerita tentang ulahnya sewaktu muda.

Sewaktu Bapak masih bekerja sebagai tukang bangunan dulu, Bapak pernah melempari pegawai sebuah instansi pemerintah di Jakarta yang kebetulan letaknya bersebelahan dengan gedung yang tengah dibangunnya dengan batu split sembari berteriak memaki, “Woy! Lo gawe makan gaji buta ya! Enak-enakan aja tidur-tiduran. Gawe mah kayak gua ni! Kerja dari pagi nggak berenti-berenti, keringetan, kepanasan, gaji kecil, buat makan aja pas-pasan!”

Hal tersebut dilakukannya sebagai bentuk protes karena Bapak merasa kesal dengan pegawai-pegawai yang bekerja dalam gedung tersebut. Katanya, selama dirinya menjadi tukang di dekat gedung tersbeut, diperhatikannya pegawai-pegawai tadi kerjaannya hanya tidur-tiduran, merokok, duduk-duduk santai, dan hanya ngobrol-ngobrol saja tapi gaji sudah tentu tetap besar. Sementara dirinya dan kawannya yang lain sibuk memanggang diri di bawah terik matahari dan berusaha mati-matian menahan lelah, tapi gaji tetap pas-pasan.

Merasa terganggu dengan ulah bapak saya, si pegawai pemerintah yang dilempari batu split tadi beranjak dari sofa yang memang lebih sering dialihfungsikan untuk tidur-tiduran dengan tampang murka. Ia berniat turun dari lantai dua tempat ruangannya berada untuk melawan bapak saya, tapi urung ketika dilihatnya bapak saya tidak sendirian. Ada banyak tukang bangunan lain di dekatnya yang terlihat sudah pasang badan.

Saya dan Nini semakin tergelak saja. Cerita berlanjut ke ulah bapak saya yang lain.

Setidaknya, dari obrolan pagi ini saya jadi tahu dari mana sifat suka bikin ulah yang dulu sering muncul dalam diri saya berasal.😀

 

*Tulisan ini sudah saya posting di akun facebook saya pada Kamis, 28 November 2013, saat peristiwa yang saya tuliskan ini baru saja terjadi.