Oleh: Poetry Ann

Toto_ST_Radik[1]

Toto ST Radik tengah membacakan puisinya. Foto milik Muhammad Arif Kirdiat yang saya comot dari timeline-nya Toto ST Radik.😀

Ada tiga momen yang saya pikirkan dan menimbulkan pertanyaan dalam benak saya sampai pulang ke rumah, setelah selesai menghadiri acara diskusi “Banten Bangkit Menuju Banten Baru” yang diadakan di Rumah Dunia pada Minggu, 20 Oktober 2013 kemarin. Selain tentunya rasa penasaran saya tentang nasib Banten ke dapan.

Momen pertama ketika mengambil novel “Cinta Jangan Marah” karya Ahmad Wayang, ke pengarangnya langsung, beberapa saat setelah tiba di Rumah Dunia.

Momen pertama ini adalah momen menyenangkan sekaligus menyebalkan bagi saya. Menyenangkan karena saya anggap novel “Cinta Jangan Marah” ini sudah sepantasnya saya apresiasi. Bukan karena pengarangnya kawan sendiri, tapi lebih ke keberanian dan usahanya untuk menulis novel setebal 246 halaman tersebut lalu menerbitkannya secara indie, yang saya tahu itu sama sekali tak mudah. Selain butuh komitmen yang kuat untuk bisa tetap fokus menyelesaikan novelnya hingga ending, tentu juga harus menyiapkan materi yang cukup untuk membiayai sendiri proses penerbitannya, dari mulai mendesain cover sendiri, mengedit, hingga mencetaknya, bahkan menjualnya. Dan saya turut bahagia atas kelahiran bukunya tersebut.

Tapi juga menyebalkan karena dengan begitu saya mendapatkan kenyataan kalau ternyata saya harus tersalip olehnya.

Kurang lebih enam bulan lalu, ketika saya pelan-pelan mulai merevisi naskah novel saya yang lama terbengkalai, Wayang baru saja meluncurkan kumpulan cerpen “Siti”-nya yang juga diterbitkan sendiri di Gong Publishing. Sekarang, ketika saya belum juga bisa menyelesaikan revisian naskah saya, Wayang justru memberi kabar bahwa novelnya sudah diterbitkan. Weh!😀

Momen kedua adalah pada saat acara diskusi “Banten Bangkit Menuju Banten Baru” yang berlangsung sekitar pukul 14.00 di Rumah Dunia. Di mana pada acara tersebut menampilkan Toto ST Radik, Firman Venayaksa dan Qizink La Aziva untuk membacakan puisi.

Penampilan Toto St Radik yang sengaja memilih naik ke bale-bale yang ada di atas panggung untuk membacakan puisinya adalah momen yang paling mencuri perhatian saya.

Di situ saya berpikir, mungkin itulah alasan mengapa ketika memasuki gedung kesenian Rumah Dunia beliau langsung memilih naik ke tempat duduk pada tingkatan paling atas dan paling belakang. Tidak seperti orang-orang penting lainnya yang kebanyakan memilih duduk di tingkatan bawah dan paling depan setelah sebelumnya bersalaman dan menyapa kenalannya yang juga kebanyakan duduk di deretan paling depan.

Di mata orang lain, hal tersebut mungkin biasa. Hanya tentang masalah posisi duduk. Orang mau memilih duduk di mana saja, mau di tingkatan atas, tingkatan tengah atau tingkatan bawah bukanlah sesuatu yang aneh. Mereka bebas memilih sekehendak sendiri. Tapi buat saya, perihal memilih posisi duduk adalah sesuatu yang terkadang tak bisa dianggap sepele. Karena setiap orang pasti memiliki alasan dan tujuan sendiri-sendiri ketika dirinya memutuskan untuk duduk di sebelah mana.

Ketika kita berada di bangku sekolah misalnya, jika kita menggemari mata pelajarannya dan ingin bisa lebih jelas menangkap segala hal yang diterangkan oleh guru kita, tentu sebisa mungkin kita akan memilih untuk duduk di bangku paling depan. Lain halnya jika kita merasa tak suka dan tak ada minat dengan mata pelajarannya, ditambah lagi gurunya galak dan tak menyenangkan. Tentu kita akan memilih untuk duduk di bangku paling belakang, bahkan kalau bisa memilih tempat paling pojok supaya berada jauh dari jangkauan guru tersebut dengan tujuan agar bisa dengan leluasa tak mengacuhkan mata pelajarannya.

Bukan berarti saya menganggap pilihan Toto ST Radik untuk duduk di tingkatan paling atas dan paling belakang di gedung kesenian Rumah Dunia juga bertujuan sama seperti halnya siswa yang memilih duduk di bangku paling belakang di kelasnya. Karena tentu saja bangku kelas dengan tempat duduk di gedung kesenian adalah dua hal yang berbeda, meskipun sama-sama digunakan untuk duduk.

Bangku kelas, baik yang posisinya paling depan, tengah, ataupun belakang memiliki ketinggian yang sama. Sejajar. Hingga jadi agak merepotkan ketika saya misalnya, terpaksa harus kebagian bangku paling belakang di kelas. Karena penglihatan saya bisa saja terganggu ketika tiba-tiba saja siswa lain yang duduk di depan saya berdiri. Penglihatan saya jadi terhalang olehnya.

Sementara, tempat duduk di gedung kesenian dibuat bertingkat. Semakin ke belakang semakin tinggi, hingga yang duduk di bagian paling belakang sekalipun tak akan begitu terganggu ketika orang yang berada jauh di depan kita berdiri. Posisi paling atas dan paling belakang ini malah menguntungkan. Saya bicara seperti ini karena saya merasakannya langsung.

Pada sesi awal diskusi tersebut, saya pun duduk di bagian paling atas sekaligus paling belakang. Dan dari posisi tersebut saya merasa diuntungkan, karena dari tempat duduk saya, saya bisa melihat semuanya. Dari bawah hingga ke barisan di depan saya, saya bisa melihat detil keseluruhan setting panggung, saya bisa melihat orang-orang yang masuk-keluar gedung, hingga bisa menyaksikan cara kerja para kameramen yang sibuk menangkap berlangsungnya keseruan diskusi “Banten Bangkit Menuju Banten Baru”. Singkatnya, saya bisa menangkap suasana berjalannya diskusi tersebut secara keseluruhan. Jarak pandang saya lebih luas. Berbanding terbalik dengan ketika saya terpaksa harus mendapatkan tempat duduk di barisan bawah pada sesi kedua (setelah istirahat salat Ashar), jarak pandang saya terbatas. Saya harus repot memutar kepala dan menengadahkan wajah saya dulu jika ingin melihat suasana di belakang saya.

Karena itu, ketika saya menyaksikan Toto St Radik memutuskan naik ke atas bale-bale saat tampil membacakan puisi di atas panggung, saya menebak hal tersebut ada kaitannya dengan mengapa beliau memilih posisi duduk paling atas dan paling belakang.

Saya menebak keputusan beliau untuk naik ke atas bale-bale tidak diputuskannya secara spontan ketika dirinya sudah berada di atas panggung. Tapi sudah diperhitungkan dan direncanakan sebelumnya, setelah beliau memantau keadaan dan suasana berjalannya acara diskusi ketika dirinya memilih untuk duduk di tingkatan paling atas dan paling belakang. Tujuannya, tentu saja agar bisa memperhitungkan di mana kira-kira posisi berdiri yang paling strategis agar pesan dalam puisi yang akan dibacakanya tak hanya sampai pada narasumber dan peserta di depan, tapi juga sampai pada para peserta yang berada jauh di belakang.

Saya menebak seperti itu karena saya masih mengingat penjelasan beliau ketika menjadi pembedah dalam acara bedah buku puisi karya Udin Angkot yang diadakan di Rumah Dunia beberapa waktu lalu.

Saat itu, beliau menggeser posisi duduknya lebih ke tengah dan menjelaskan bahwa hal tersebut sengaja dilakukannya agar pandangannya bisa menjangkau keseluruhan peserta yang hadir. Begitupun sebaliknya, semua peserta yang hadir bisa menjangkaunya.

“Saya sengaja mencari posisi duduk yang pas biar saya bisa melihat kalian semua dan kalian bisa melihat saya. Agar apa yang saya sampaikan bisa diterima dengan baik. Makanya saya nggak mau deket-deket sama Salam. Saya sengaja jauhin dia, soalnya posisi duduk dia nggak strategis,” jelasnya, sembari melempar candaan pada Abdul Salam yang saat itu menjadi moderator dan duduk lebih ke pinggir panggung.

Dan saya jadikan momen tersebut sebagai pelajaran. Karena buat saya, pelajaran itu tidak hanya apa yang kita dapatkan dari mulut guru kita atau dari apa yang kita dengar dan baca saja, tapi juga bisa dari kegiatan memperhatikan kebiasaan-kebiasaan dan gerak-gerik orang lain. Terlepas dari apakah tebakan saya itu salah atau benar. Kalaupun salah, saya tetap senang karena merasa sudah menemukan sebuah pelajaran.

Momen ketiga yang kemudian terus saya pikirkan dan saya jadikan pelajaran adalah ketika ada seorang penulis, yang tak bisa saya sebutkan dulu namanya, dia kawan saya, mengutarakan niatnya untuk menerbitkan empat bukunya yang saat ini tengah digarapnya. Waw!

Saya, satu buku (solo, bukan buku keroyokan) saja belum juga selesai, dia malah sudah hampir menyelesaikan empat buku? Ini sesuatu yang luar biasa untuk saya. Sesuatu yang luar biasa yang membuat saya kembali gelisah sendiri.😀

Dengan kegiatan dia yang tak bisa dikatakan santai, diam-diam dia sudah mempersiapkan keempat bukunya yang ingin dia terbitkan, sementara saya, yang bisa dibilang cukup memiliki waktu untuk menulis, malah kurang produktif menciptakan karya.

Tapi kemudian saya menghibur diri dengan mengatakan, “Okay, tak perlu terburu-buru menelurkan buku. Matangkan saja dulu tulisanmu, berlatih terus, dan pelajari semua hal yang bisa kamu pelajari.”

Tapi kemudian saya kembali berpikir, apakah kalimat tadi benar-benar sekedar kalimat untuk menghibur diri atau justru kalimat pembelaan yang saya gunakan untuk membenarkan ketidakproduktifan saya, yang justru membuat saya semakin terlena dan terus menunda-nunda? Saya tak bisa membedakannya.😀

Yang saya tahu, ketiga momen ini sama-sama saya jadikan pelajaran agar ke depannya saya bisa lebih produktif menulis. Menulis apa pun. Entah itu cerpen, puisi, esai atau sekedar tulisan suka-suka seperti ini. Tapi tentu saja dibarengi dengan kualitas yang semakin terus meningkat.

 

 

#Tulisan ini sudah pernah diposting sebelumnya di akun facebook saya pada Selasa, 22 Oktober 2013.