Oleh: Poetry Ann

Mbah_koyod[1]

Kumcer Wafak Mbah Koyod (kumpulan cerpen 12 penulis muda Banten).

Kurang lebih delapan belas tahun lalu, seorang lelaki dengan muka cemong yang asyik bicara sendiri di atas panggung dengan gaya bicara dan bahasa tubuh yang terkesan sengaja dibuat seperti orang idiot, menarik perhatian mata seorang gadis kecil yang duduk di bagian depan motor ayahnya yang lajunya sengaja diperlambat, bahkan terkadang terhenti karena jalan yang mereka lalui disesaki banyak penonton yang mengakibatkan kemacetan saat menuju ke rumah neneknya.

Gadis kecil tadi tak paham sepenuhnya apa yang dibicarakan oleh lelaki cemong di atas panggung tadi karena disampaikan dengan bahasa sunda yang begitu khas. Tapi dia tahu apa yang dibicarakannya itu amat lucu karena suara musik tradisional yang ketika itu belum diketahuinya disebut apa, sering kali tenggelam sebab kalah oleh suara tawa yang meledak dari kerumunan penonton.

Gadis kecil tadi pun tak tahu pertunjukan yang menyita begitu banyak perhatian penonton itu disebut apa, sampai ia bertanya pada ayahnya. “Itu apaan sih, Pak?”

“Itu namanya Ubrug. Orang kampung sini kalo hajatan biasa nanggep Ubrug,” ayahnya menjelaskan.

Sembari mendengarkan penjelasan ayahnya, mata gadis kecil tadi terus saja tertuju pada lelaki cemong di atas panggung yang dilihatnya semakin tampak lucu saja. Dia tertawa, dan tawanya semakin kencang ketika membaca sederet huruf yang ditulis besar-besar, tersusun dan tertempel di layar hitam yang dipergunakan sebagai background panggung. Tulisan itu sangat jelas terlihat karena layar hitam tadi mendapatkan pencahayaan lebih banyak dari lampu patromak yang menyala di sisi kanan dan kiri panggung. Terbaca di sana: Si Baskom.

Kelak setelah besar, dia baru mengetahui maksud tulisan “Si Baskom” yang ditulis besar-besar tadi. Bahwa “Si Baskom” adalah identitas kelompok Ubrug tersebut, yang diketahuinya setelah membaca sebuah artikel yang dimuat di sebuah situs internet dan cerita ayahnya, juga adik ipar neneknya. Lelaki bermuka cemong yang berdiri di atas panggung itulah yang disebut si Baskom. Istilah keren sekarang mungkin sejenis nama panggung.

Pertunjukan yang hanya disaksikannya sekilas itu, suatu hari terbayang kembali di kepala si gadis kecil yang kini sudah menjadi wanita dewasa, yang kemudian menerbitkan sebuah ide untuk menuangkannya ke dalam bentuk sebuah cerpen. Gadis kecil tadi adalah saya.

Itulah sekelumit proses kreatif saya ketika menulis cerpen berjudul “Gadis Ronggeng Ubrug” yang sudah saya tulis sejak setahun lalu, yang kini termuat dalam kumpulan cerpen “Wafak Mbah Koyod” yang diterbitkan oleh Gong Publishing dalam event Kampung Budaya Nusantara yang diselenggarakan Rumah Dunia, yang bekerjasama dengan Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, pada 8-10 November 2013 lalu.

Kumpulan cerpen “Wafak Mbah Koyod” ini memuat 12 cerpen karya penulis muda Banten yang lolos kurasi.

Meski kumpulan cerpen tersebut pada awalnya diniatkan untuk dibuat kumpulan cerpen yang mengangkat tema kelokalitasan Banten, nyatanya tidak semua cerpen yang termuat di dalamnya mengangkat lokalitas Banten.

Ada beberapa di antaranya yang justru mengangkat peristiwa sosial yang bisa terjadi di mana saja, tak hanya di Banten, seperti cerpen “Zahir” karya Yori Tanaka. Juga ada yang mengangkat kegelisahan tentang makna sebuah kehilangan seperti cerpen “Morfin” karya Ghaniyyu Andiwijaya. Namun, dari keseluruhannya, kedua belas cerita dalam buku “Wafak Mbah Koyod” ini layak untuk dinikmati dan dimaknai. Bukan hanya sebagai kumpulan cerpen lokalitas yang bercerita Banten semata, tapi juga cerpen yang menyentuh ke detil persoalan nusantara kita yang saat ini, di beberapa daerah, sepertinya sudah sungguh mengkhawatirkan: masalah sosial, tradisi dan kebudayaan.

Saya sebagai salah seorang penulis yang karyanya dimuat dalam buku “Wafak Mbah Koyod” ini tentu saja merasa senang dan bangga. Terlepas dari apakah kesenian Ubrug yang sedikit saya munculkan dalam cerpen “Gadis Ronggeng Ubrug” itu benar-benar sudah mewakili kesenian Ubrug yang sesungguhnya ataupun belum.

Setidaknya, itulah representasi saya terhadap kesenian Ubrug yang hanya sempat saya baca dari beberapa artikel di internet. Yang hanya sempat saya gali dari penjelasan dan cerita ayah saya, juga adik ipar nenek saya, ketika saya memutuskan akan menjadikannya sebuah cerpen setahun yang lalu. Penjelasan dan cerita yang saya dengar semalaman di teras rumah sambil berusaha keras ikut membayangkan bagaimana suasana pertunjukan Ubrug yang dipaparkan oleh ayah saya dan adik ipar nenek saya. Juga yang hanya sempat saya saksikan sekilas ketika kecil, saat dalam perjalanan menuju rumah nenek saya. Ya, setidaknya itulah representasi saya tentang kesenian Ubrug yang tentu saja sudah saya bumbui dengan imajinasi.

Harapan saya untuk cerpen “Gadis Ronggeng Ubrug” yang saya buat, juga kesebelas cerpen lainnya yang termuat dalam buku “Wafak Mbah Koyod”, bisa ikut berperan menerbitkan kesadaran pada para pemuda Banten khususnya, dan pemuda Indonesia umumnya, untuk berusaha tetap menjaga dan mengembangkan tradisi dan budaya kita sendiri. Tak perlu menoleh dan menunjuk orang lain untuk melakukannya, tapi mulailah dari diri kita sendiri.

Harapan pribadi yang sampai saat ini masih membuat saya penasaran, semoga kelak, di event Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia selanjutnya ataupun di event lain, saya bisa benar-benar menyaksikan kesenian Ubrug seutuhnya. Dari awal hingga akhir.