Oleh: Potery Ann

Ada seorang penyanyi Indonesia yang bintangnya mulai cukup bersinar. Ketika ditanya oleh seorang presenter televisi, apakah ia punya mimpi suatu saat nanti bisa go international seperti Anggun dan Agnes Mo, dia menjawab, “Keinginan sih ada, tapi aku takut untuk bermimpi. Takutnya kalau nggak kesampean ntar aku kecewa, jadi let it flow aja.”

Saat mendengar jawabannya tersebut, saya berteriak dalam hati. Ada apa dengan Tuhan? Begitu banyak orang di luar sana yang dengan berani menggantungkan mimpinya tinggi-tinggi dan berusaha keras untuk mewujudkannya, belum juga ada tanda-tanda Tuhan untuk mau menunjukkan hasilnya. Tapi pada dia yang bahkan mengaku tak berani bermimpi dan hanya mengandalkan kalimat “let it flow” saja, Tuhan terkesan memudahkannya.

Dan saya mulai meragukan kalimat Anna Eleanor Roosevelt yang mengatakan “Masa depan menjadi milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi-mimpi.”

Pada detik berikutnya saya dikejutkan oleh sesuatu yang mematuk kepala saya. Asalnya dari arah belakang. Saat saya menoleh ke arah sumber patukan tadi, saya dapati pesawat kertas berwarna merah jambu tergeletak di sisi kaki kursi yang saya duduki.

Saya menoleh ke kiri-kanan, memastikan milik siapa gerangan pesawat kertas merah jambu tersebut. Tak ada seorang pun yang saya lihat karena memang semua keluarga saya sudah terlelap.

Kemudian saya pungut pesawat kertas merah jambu tadi. Saya pandangi sesaat. Ada kilau cahaya berpendar-pendar yang tiba-tiba saja muncul dari sisi dalam pesawat. Saya terkejut. Saya lempar begitu saja. Saya mulai takut tapi juga penasaran. Tapi tak berani memungutnya kembali. Saya biarkan. Saya perhatikan. Sambil masih ketakutan.

Setelah membiarkannya beberapa jenak. Setelah pendar cahaya tadi mulai lindap. Saya beranikan diri memungutnya kembali. Saya bolak-balikkan. Saya teliti. Hanya untuk memastikan kalau-kalau pesawat kertas merah jambu yang ada di tangan saya tak akan meladak.

Setelah yakin, sembari membaca basmalah, saya mulai membongkar pesawat kertas merah jambu tadi. Perlahan. Penasaran. Juga deg-degan.

Setelah pesawat kertas merah jambu tadi kembali menjelma menjadi selembar kertas merah jambu yang utuh. Tak ada apa pun yang saya temukan di sana. Tak ada sesuatu pun yang aneh. Selembar kertas merah jambu tersebut tampak biasa. Seperti kertas kebanyakan.

Keanehan baru kembali muncul ketika saya nyaris meremas kertas merah jambu tadi untuk kemudian saya lemparkan ke tempat sampah. Sebaris kalimat yang ditulis dengan tinta berwarna emas muncul di sana. Pelan-pelan. Huruf-hurufnya tambah menebal dan menebal. Terbaca di sana: Aku tahu apa yang hambaKu butuhkan.

Di bawahnya tertera: Tuhanmu.

#Sebuah fiksi yang terinspirasi dari sebuah tayangan televisi dan pesawat kertas merah muda.