Oleh: Poetry Ann

 

India menggelitik saya. Ya, kali ini saya mau bicara tentang India. Bukan tentang Calcuttanya, bukan tentang filmnya, bukan juga tentang aktor dan aktrisnya, tapi tentang cerpennya.

Cerita saya mulai dari ketika saya membaca salah satu cerpen karya seorang penulis, sekaligus juga sutradara film asal India, Satyajit Ray, yang berjudul Piagam Penghargaan yang dialihbahasakan oleh Atep Kurnia dari terjemahan Inggris Gopa Majumdar yang dimuat di koran Tempo edisi Minggu, 28 April 2013.

Saya tidak ingat apakah sebelumnya saya pernah membacanya atau belum, mengingat edisinya yang sudah lewat berbulan-bulan lalu.

Mungkin sebelumnya saya sudah membacanya sambil lalu hingga saya tak merasakan adanya sesuatu dalam cerpen tersebut dan tak tergelitik untuk membahasnya, tapi mungkin juga saya melewatkannya, hingga baru malam tadi saya menemukannya. Sebenarnya itu tak penting. Yang penting bagi saya adalah, cerpen tersebut telah membuat saya memahami sesuatu.

Saya menyukai cerpen tersebut bukan karena cerpennya ditulis dengan bahasa yang puitis atau bersayap. Bukan karena idenya out of the box. Bukan karena endingnya begitu mengejutkan. Bukan karena banyak memamerkan diksi-diksi unik dan tak biasa, yang sering kali membuat pembacanya takjub dan berdecak kagum, tapi sebenarnya tak mengerti seutuhnya inti dari ceritanya. Bukan juga karena banyak ditemukan ungkapan-ungkapan filosofis, yang tampaknya tengah digandrungi para penulis saat ini. Bukan. Bukan semua hal yang saya sebutkan tadi yang menyebabkan saya menyukai cerpen Piagam Penghargaan ini.

Saya menyukainya justru karena cerpen tersebut begitu sederhana, bahkan nyaris tak ada letikan yang mengejutkan di sana, selain mungkin di bagian ending. Itu pun kejutan yang dimunculkan begitu halus.

Satyajit Ray menuliskannya dengan gaya, bahasa, juga plot yang biasa dan wajar seperti layaknya kita berbicara, juga seperti apa yang kita jalani dalam kehidupan sehari-hari. Tak ada narasi atau deskripsi yang menyayat-nyayat hati, berdarah-darah, atau begitu menggiriskan, yang memaksa pembacanya meneteskan air mata.

Tak ada bagian yang menceritakan perihal melukis, menggulung, ataupun kerat mengerat senja di sana. Tak ada bagian yang menceritakan perihal manusia yang menjadi daun, ulat, kupu-kupu dan lain sebagainya. Semuanya terjalin dari kejadian yang biasa. Dan sekali lagi, terasa wajar.

Satyajit Ray membuka ceritanya dengan mendeskripsikan suasana rapat mendadak yang dilakukan Klub Shatadal, sebuah klub yang setiap tahunnya memberikan piagam penghargaan pada para seniman terkenal yang banyak berkontribusi memajukan seni dan budaya kotanya dalam rangka merayakan Baisakh pertama.

Rapat diadakan karena salah satu penerima penghargaan, yaitu Shamar Kumar, seorang aktor film, tiba-tiba saja menyatakan tak bisa menerima dan hadir dalam acara penyerahan piagam penghargaan tersebut karena alasan harus menjalani shooting di Kalimpong. Yang akhirnya memaksa para pengurus Klub Shatadal untuk cepat-cepat mencari orang lain yang kira-kira pantas menjadi penggantinya, karena terdesak oleh waktu pelaksanaan yang akan diadakan lima hari lagi.

Setelah mereka cukup lama berdiskusi dan tak juga menemukan orang tersohor yang pantas menjadi pengganti penerima piagam penghargaan tersebut, muncul satu nama seniman yang banyak menelurkan karya tapi nyaris tak pernah dikenal dan terlupa, yang diusulkan oleh Akhsay Bagchi, yaitu Haralal Chakravarty, ilustrator yang karya-karyanya sudah menghiasi lima puluh buku seri mitologi, salah satunya dalam edisi Mahabharata. Dan disetujui dengan syarat, mereka tak boleh lupa membubuhi “Ilustrator Sepuh Terkenal” di depan namanya, yang tentu saja dimaksudkan agar orang-orang bisa mengingat-ingatnya kembali, karena nama Haralal memanglah tak banyak dikenal orang.

Keesokan harinya, tiga utusan dari Klub Shatadal, yaitu Akhsay Bagchi, Pranabesh Datta, dan Chunilal Sanyal, pergi untuk menemui Haralal.

Kedatangan mereka di rumah Haralal disambut oleh seorang pria paruh baya berkacamata dan memelihara kumis abu yang akhirnya bersedia hadir pada acara penyerahan piagam penghargaan tersebut setelah Pranabesh menjelaskan maksud kedatangannya.

Cerita berlanjut ke suasana berjalannya pesta penyerahan piagam penghargaan yang berjalan dengan baik dan sesuai rencana, meski sempat ada sedikit kebingungan dari para tamu undangan ketika nama Haralal dipanggil sebagai penerima piagam penghargaan. Kebanyakan dari mereka ternyata tak mengenal, bahkan tak mengingat nama ilustrator yang sepanjang hidupnya harus berjuang membuktikan dirinya sebagai seniman profesional itu.

Cerita ditutup dengan ending di mana ada seseorang yang meninggalkan bungkusan di kantor Klub Shatadal dan dialamatkan kepada Pranabesh.

Pranabesh membuka bungkusan tersebut, dan di dalamnya ia menemukan piagam penghargaan berbingkai yang malam sebelumnya telah diberikan pada Haralal, disertai surat yang menyatakan:

Kepada Sekretaris
Klub Shatadal,

Dengan hormat,
Saya paham saat Anda menghubungi saya tempo hari, Anda sedang terdesak dan memutuskan untuk menghadiahi Haralal Chakravarty hanya karena tak ada pilihan lain. Hati saya tergetar bisa berperan sebagai penyelamat Anda. Namun, saya merasa wajib mengembalikan piagam ini karena dua alasan. Pertama, penghargaan ini bisa digunakan tahun depan untuk yang lain. Anda tinggal mengganti nama dan tanggalnya saja. Kedua, memang benar saya tidak berhak atas piagam ini. Seniman Haralal Chakravarty telah meninggal dunia tiga tahun lalu di kota ini. Dia kakak saya. Saya bekerja sebagai juru tulis kantor pos di Kanthi. Kebetulan saya ke sini untuk liburan selama seminggu.

Hormat saya,
Rasiklal Chakravarty

 

Cerpen sederhana ini seolah ingin mengingatkan pembacanya, bahwa sering kali kita baru mengingat seseorang yang begitu berpengaruh dan berjasa dalam kehidupan kita ketika terdesak dan membutuhkannya, bukan karena benar-benar ingin mengingat dan memberikan penghargaan terhadapnya.

Sementara lewat tokoh Haralal yang terus berkarya meski sedikit sekali orang yang mengingat bahkan menghargai karyanya, saya belajar tentang bagaimana memaknai hidup yang sebenarnya. Bahwa hidup bukanlah tentang seberapa besar nilai dan penghargaan yang orang lain berikan terhadap saya, tapi tentang bagaimana saya mampu menghargai hidup itu sendiri.

Cerpen Piagam Penghargaan karya Satyajit Ray ini juga kembali mengingatkan saya, bahwa sesuatu yang ditulis dengan cara sederhana sering kali lebih bisa mengena dan mampu menyampaikan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca dengan lebih baik, ketimbang sesuatu yang ditulis dengan cara yang terkesan hanya ingin mendapatkan atau mengejar reaksi ketakjuban ataupun kekaguman dari orang lain.

Ya, kesederhanaan memang sering kali tampak lebih mempesona.