Oleh: Poetry Ann

Setiap orang memiliki kebanggaan dan kebahagiaannya masing-masing. Kebanggaan dan kebahagiaan saya muncul setiap kali saya menulis. Jadi jika ada orang yang menyuruh atau meminta saya untuk tak lagi menulis, sama artinya dia mematahkan kebanggaan dan memutuskan kebahagiaan yang saya miliki.

Bukan berarti saya tidak bangga dan bahagia ketika melakukan hal atau menghadapi momen-momen lain. Tentu saya akan bangga ketika mendapati orang-orang terdekat saya melakukan sesuatu yang akhirnya menumbuhkan prestasi dan manfaat untuk orang lain, tentu saya akan bangga ketika menyaksikan orang yang saya hormati dan sayangi ternyata berhasil mewujudkan apa yang menjadi impiannya, tentu saya akan bangga pada diri sendiri ketika pada akhirnya saya mampu melakukan sesuatu yang orang lain mungkin tak bisa lakukan, dan tentu saya akan bahagia ketika saya diberi hadiah atau kejutan oleh orang lain, tentu saya akan bahagia ketika mengetahui orang-orang terdekat saya selalu mendukung apa yang saya lakukan, tentu saya juga akan bahagia ketika mendapatkan perhatian spesial dari seseorang yang saya harapkan. Hanya saja, kebanggaan dan kebahagiaan yang saya rasakan ketika menulis memiliki sensasi yang berbeda dengan ketika saya merasa bangga dan bahagia saat mendapatkan atau melakukan hal-hal lain tersebut.

Sensasi kebanggaan dan kebahagiaan yang hanya bisa terjelaskan jika kamu benar-benar melakukan kegiatan menulis karena memang kamu menyukainya, mencintainya, dan menjadikannya kebiasaan dan kebutuhan. Hingga akan merasa sangat kehilangan dan merindukannya jika di suatu waktu kamu terpaksa harus meninggalkan kebiasaan menulis tersebut sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan hingga bertahun-tahun lamanya.

Menulis bagi saya bukan sekedar aktivitas membunuh waktu luang, tapi lebih dari itu. Lewat menulislah saya menemukan dunia-dunia baru yang mungkin tak akan pernah ditemukan oleh orang-orang yang sama sekali tak memiliki minat untuk menulis ataupun sekedar untuk membaca.

Dunia yang menunjukkan saya hal-hal kecil dalam kehidupan -yang lebih sering terabai dan tersepelekan- yang ternyata menyimpan pesan dan pelajaran besar. Dunia yang memberi pemahaman pada saya, betapa setiap perbedaan dalam kehidupan bukanlah alasan untuk saling menyimpan dan melemparkan kebencian. Dunia yang memberitahu saya bahwa setiap kesalahan bukanlah aib yang harus terus disesali dan dijadikan pembenaran atas keputusan yang justru membuat kita tetap terjebak dalam kubangan. Dunia yang memperlihatkan saya bahwa begitu banyak keajaiban yang tersembunyi dalam setiap senti kehidupan yang saya jalani, dan hanya bisa ditemukan jika saya mampu memahaminya sebagaimana saya memahami diri sendiri.

Saya selalu percaya bahwa menulis tak selalu harus dimulai dengan niat ingin menyisipkan atau menyampaikan sebuah amanat atau pesan. Jika ingin menulis ya menulislah. Saya tak perlu harus selalu merasa dibebani dengan pertanyaan-pertanyaan apakah tulisan saya mengandung sebuah amanat atau pesan, yang seringkali malah membuat diri saya gelisah sendiri kemudian justru memilih mengurungkan niat menulis yang baru saja akan saya mulai, atau menghentikan kegiatan menulis yang tengah saya lakukan, atau lebih parah lagi justru membuat saya memutuskan untuk menghapus tulisan yang sudah susah payah saya selesaikan, hanya karena alasan tak ada amanat atau pesan.

Sepanjang apa yang saya tulis bukanlah sesuatu yang mengandung fitnah dan tak merugikan orang lain, saya rasa, apa pun yang saya tulis sah-sah saja. Karena saya yakin setiap tulisan memiliki nyawanya sendiri. Memiliki kekuatannya sendiri, yang dengan sendirinya akan memperlihatkan dan menyampaikan amanat atau pesan yang dibangunnya kepada pembaca. Meskipun penulisnya sama sekali tak meniatkannya, bahkan mungkin malah tak menyadarinya.

Sebuah tulisan memiliki caranya sendiri untuk membuat pembaca dengan sendirinya menemukan amanat dan pesan yang tersembunyi dalam tubuhnya.

Saya sebagai penulisnya, tak perlu memaksakan diri untuk menjadikan apa yang saya tuliskan mengandung sebuah amanat atau pesan yang mesti ditangkap oleh pembaca. Saya cukup menuliskan apa yang benar-benar ingin saya tulis, lalu membiarkan pembaca menikmatinya. Itu saja.