Anggap saja ini sebuah kolaborasi. Hhahaa…😀

 

PETERPAN

Taman Langit

 

Bila kini ku berada
dalam taman mimpi
dalam taman langitku
Kini cobalah berpaling
langit takkan berwarna
aku takkan merasa

Semua takkan berubah
semua takkan berubah
Ini taman mimpiku
ini taman langitku

Coba, cobalah berpaling
ini taman mimpi
ini taman langitku
Tak perlu kau bayangkan
tak perlu kau renungkan

Semua takkan berubah
semua takkan berubah
Ini taman mimpiku
ini taman langitku

—Feat—

Poetry Ann

TAMAN LANGIT

Malam ini aku melihat taman langit itu kembali. Tapi tak ada dirimu di sana.

“Suatu saat nanti akan kutemukan sayapku untuk menjelajahi dan menguasai taman langit itu,” katamu, di akhir pertemuan kita malam itu. Matamu tak mau beranjak dari sana.

Aku terkesiap. Kualihkan pandanganku ke arahmu. Memperhatikanmu, berusaha menelisik apa yang tengah kau pikirkan tentang taman langit itu. Ada mimpi yang tak terjelaskan yang kudapati dari kedalaman matamu.

“Menguasai taman langit?”

Kau balik menatapku lalu tersenyum simpul.

“Untuk apa?” aku bertanya lagi.

“Tentu saja untuk kuberikan padamu.”

Aku menyipitkan mata, meminta penjelasan lebih.

“Kalau aku bisa menguasai taman langit itu, aku bisa menjadi raja di sana dan bisa melakukan apapun terhadapnya. Termasuk memberikannya padamu saat aku memintamu untuk mau menjadi milikku. Tentu kau tak akan menolakku. Bukankah hanya taman langit itu yang selama ini memenuhi pikiranmu?”

Aku terkekeh. “Kalau kau menguasai taman langit itu dan menjadi raja di sana, aku justru akan menolakmu.”

Kali ini kaulah yang terkesiap.

“Karena ketika kau menjadi seorang raja di sana,” aku mendongak, menjuruskan kembali pandanganku ke taman langit, “akan ada banyak wanita lain yang lebih menarik dariku mendekatimu dan menunggumu untuk memilihnya,” lanjutku serius.

“Dan aku tak suka itu. Aku tidak siap melihatmu dikelilingi mereka. Lagi pula, aku tak yakin kau masih mengingatku ketika kau berhasil menguasai taman langit seperti katamu.”

Kau bungkam. Tak satu kata pun keluar dari mulutmu setelah mendengar penjelasanku.

Kupikir saat itu kau akan berubah pikiran. Mengurungkan niatmu untuk pergi mencari sepasang sayap yang selama ini selalu kau ceritakan untuk menjelajahi dan menguasai taman langit itu. Ternyata aku salah. Kau tetap bersikeras melanjutkan niatmu. Meyakinkanku bahwa kau tak akan melupakanku. Tentu saja aku tak percaya. Karena setelah malam itu aku tak lagi menemukamu. Tidak di sini, tidak juga di sana. Di taman langit itu.