Oleh: Poetry Ann

 

Ayah Imelda membawaku menuju ruang bawah tanah rumahnya. Melewati lorong yang dindingnya dihiasi lilin-lilin menyala, melayang tanpa candle yang ditempatkan terpisah setiap jarak satu meter.

Langkah kami berhenti tepat di sebuah dinding tembaga yang mengkilat.

Ayah Imelda menggumamkan sesuatu yang entah apa, karena aku dan mungkin juga Arzety dan Imelda pun tak dapat mendengarnya dengan jelas. Tapi apa pun yang digumamkan ayah Imelda barusan aku yakin itu sebuah mantera pembuka kunci. Karena tepat setelah itu dinding tembaga yang ada di hadapan kami bergerak-gerak memunculkan sebuah celah kecil yang semakin lama semakin membesar hingga menyerupai sebuah pintu besar yang cukup untuk kami lewati.

Ayah Imelda membawa kami masuk ke dalamnya melalui celah tadi. Kemudian celah yang menyerupai pintu tadi kembali tertutup. Kembali datar seperti semula.

Tempat ini seperti kamar tanpa jendela dan pintu. Persis menyerupai sebuah peti besi berukuran besar namun udaranya tetap terasa sejuk. Dinding dalamnya terbuat dari batu pualam dengan relief  bergambar kucing yang permukaannya halus sekali. Oh, tapi setelah kuperhatikan kembali baik-baik, sepertinya relief tadi bukan relief kucing. Mungkin lebih tepat kalau dibilang relief bergambar para kaum miames.

Ya, wujud kaum miames memang hampir serupa kucing. Memiliki warna dan sorot mata setajam mata kucing, memiliki beberapa helai kumis di kedua belah pipi, telinga yang pipih dan sedikit memanjang, dan juga bentuk hidung serupa kucing yang selalu terlihat lembab. Hanya saja tubuhnya tak berbeda jauh dengan manusia. Dan mereka memiliki kelebihan yang tak dimiliki oleh manusia. Kelebihan yang dianggap sebagian manusia keberuntungan, sementara sebagian manusia lainnya mengganggapnya sebuah kutukan. Kaum miames sendiri percaya bahwa nenek moyangnya dulu sebangsa kucing. Dewi Bast, yang tak lain adalan nenek moyangku, adalah dewi kucing yang mereka anggap sebagai dewi pelindung kaum mereka.

Oh, yeah! Setelah aku menjelaskan tentang kaum miames dan Dewi Bast tadi, pasti kalian bertanya-tanya: kalau begitu aku pun termasuk salah satu dari kaum miames? Dan jawabannya ya! Hanya saja, aku bukan murni kaum miames karena aku terlahir dari kedua orang tua yang berbeda. Ayahku adalah kaum miames sementara ibuku adalah manusia. Dan karena itu pulalah, meski aku memiliki bentuk tubuh sempurna seperti halnya manusia biasa, aku dipercaya oleh keturunan keluargaku, bahwa aku memiliki kekuatan yang lebih besar dari kekuatan yang dimiliki kaum miames. Tapi itu terjadi hanya jika aku mampu mempelajari dan menguasai seluruh kekuatan sihir yang dimiliki kaum miames. Sayangnya, aku baru sempat mempelajari beberapa kekuatan sihir saja dari ayahku.

Tak ada apa-apa di ruangan bawah tanah tersebut kecuali sebuah kotak besi berukuran sekitar 30 × 30 cm yang melayang dengan ketinggian selutut orang dewasa. Tak ada satu benda pun yang menopang di bawahnya. Dan sama halnya seperti ruangan ini, kotak besi itu pun tak bercela. Tak ada garis atau lekuk yang mengindikasikan sebuah tutup dan lubang kunci layaknya kotak besi biasa.

Ayah Imelda membawa kami mendekati kotak besi itu dan kembali menggumamkan sebuah mantera. Seketika itu juga permukaan bagian atas kotak besi tadi memunculkan celah panjang yang membelah tepat di tengah-tangahnya yang kemudian melebar hingga kami dapat melihat bagian dalamnya dengan jelas dari bagian atas yang kini terbuka. Kami dibuat tercengang oleh benda yang tersimpan di dalamnya.

“Apa itu sebuah borgol?” celetuk Arzety, sembari memasang tampang heran dan tak yakin.

Sama halnya seperti Arzety, Imelda pun sepertinya beranggapan sama. Meski ia tak buka suara tapi hal itu terlihat jelas dari cara ia memandang benda yang berada di dalam kotak besi itu. Begitu pun denganku. Aku tak habis pikir apakah ini senjata yang ayahku maksud sebelum ia meninggal? Sebuah borgol sebening kristal dengan celah kecil di bagian tangkai penghubungnya.

“Bentuknya memang menyerupai borgol di zaman kita, tapi ini bukan borgol. Senjata ini dinamakan sacca. Senjata yang akan menjadi pasangan bola kristal bastetmu untuk melawan Sang Raja Tungga jika sewaktu-waktu ia berhasil terbebas dari belenggu yang selama ini menahannya di bawah Benteng Bastania,” terang ayah Imelda sembari tersenyum menatap mimik wajah keheranan kami yang mungkin tampak lucu baginya.

Di ruangan ini ayah Imelda menceritakan bagaimana satu abad silam Sang Raja Tungga yang terkenal sebagai raja yang paling keji di negerinya, sekaligus juga satu-satunya manusia yang berhasil mempelajari ilmu sihir berkekuatan besar yang membuatnya hanya bisa terbunuh jika usianya sudah mencapai seribu tahun. Kekuatan yang dimilikinya mampu membuatnya bisa mengalahkan berbagai pelaku sihir terhebat dari kaum miames di Negeri Bastania. Yang mengakibatkan dirinya semakin merasa berkuasa hingga membantai siapa saja yang berusaha melawan dan menghentikan kekejiannya. Tak peduli mereka dari bangsa miames atau pun dari bangsanya sendiri, yaitu manusia. Yang kemudian akhirnya mampu Dewi Bast kalahkan dengan senjata buatannya sendiri, yaitu sacca dan bola kristal bastet.

Dewi Bast menahan dan membelenggu Sang Raja Tungga dengan sacca dan bola bastet sebagai kuncinya di dasar Benteng Bastania. Hingga tiba saatnya nanti ia bisa dibunuh setelah waktu seribu tahun itu tiba. Dan belenggu tersebut hanya dapat dibebaskan dengan ritual yang membutuhkan seribu nyawa manusia.

Setelah mendengar cerita ayah Imelda, aku semakin yakin dengan dugaanku kalau yang melakukan pembunuhan beruntun selama beberapa bulan terakhir di Negeri Bastania adalah para pangikut Sang Raja Tungga. Dan tentunya mereka sudah merencanakan ini semua sejak lama.

“Kita harus segera keluar dari tempat ini!” perintah ayah Imelda tiba-tiba. Dengan langkah tergesa dan wajah yang berubah sedikit menegang ia menyeret langkahnya keluar dari ruangan tersebut.

“Kenapa, Yah?” Imelda yang menyadari perubahan air muka ayahnya langsung mengejarnya dengan pertanyaan. Sementara aku dan Arzety memilih untuk mengikuti saja apa yang diperintahkan ayah Imelda.

“Mereka butuh pertolongan,” timpal ayah Imelda tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Langkahnya semakin dipercepat.

“Mereka siapa maksud Anda?” buru Arzety.

“Mereka, kaum miames yang kuperintahkan untuk menggagalkan kembali ritual pembuka kunci Sang Raja Tungga. Mereka gagal dan butuh pertolongan. Kalau tidak, mereka semua akan binasa di tangan para pengikut Sang Raja Tungga itu.” Sama seperti sebelumnya, ayah Imelda menjelaskan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, ke arah kami, dengan langkah yang juga tak berhenti. Aku, Arzety dan Imelda nyaris kewalahan menyeimbangkan kecepatan langkah kami dengan langkahnya.

“Itu mustahil. Bagaimana bisa Anda mengetahui keadaan mereka sementara Anda dari tadi di sini?” aku menyela dengan suara sedikit tinggi.

Langkah ayah Imelda seketika terhenti. Ia membalikkan badannya. Mata kuning keemasannya menghunjamku. “Rupanya kau keturunan campuran yang masih bodoh,” geramnya. Ia tidak membentaku, geramannya lebih tepat seperti kedongkolan yang tertahan.

Aku, Arzety dan Imelda ikut berhenti dan sedikit ketakutan.

“Oh, Tuhan, bagaimana bisa Dewi Bast mempercayakan bocah keturunan campuran ini untuk mencegah kembalinya Sang Raja Tungga!” geramnya lagi dengan suara lebih tinggi dari sebelumnya sambil kembali melanjutkan langkah.

“Saga, kau bodoh,” desis Arzety di telingaku, sebelum akhirnya ia dan Imelda pun kembali melanjutkan langkah.

“Apa yang salah dengan pertanyaanku?” Aku mensejajarkan langkahku dengan keduanya.

Arzety mendesah kesal lalu memelototiku sebelum akhirnya menjelaskan. “Ingat saga, mereka itu kau miames. Mereka memiliki kekuatan supernatural atau apalah itu namanya, yang mereka sebut-sebut kekuatan sihir itu. Tentu saja mereka bisa berhubungan jarak jauh dengan sesamanya yang juga memiliki kekuatan sama.”

“Oh, okey, aku terima penjelasanmu. Tapi bisakah kau tak lagi menatapku dengan tatapan mengerikan seperti itu? Kurasa tatapan tajam dari ayah Imelda sudah cukup membuatku ketakutan dan merasa menjadi manusia paling bodoh sedunia.” Aku nyengir. Sementara Imelda langsung terkekeh mendengarnya.

“Kau tahu bagaimana rasanya memiliki sahabat bodoh selama bertahun-tahun Imelda? Ugh, itu sungguh menjengkelkan!” sindir Arzety, ia buat wajahnya sememelas mungkin. Imelda kembali terkekeh.

“Hey, jangan berkata seolah-olah aku ini lelaki paling bodoh. Kau ingat siapa yang pernah menolongmu untuk berpura-pura menjadi pacarmu ketika si Darko terus mengejarmu? Aku. Siapa yang sudah dengan rela menemanimu pergi ke pesta dansa di sekolah ketika tak ada lelaki lain yang mau kau ajak ke sana selain Darko? Aku. Siapa yang…”

“Okey, stop! Ya aku ingat itu. Dan aku juga ingat bagaimana dengan suksesnya kau membuat malu diriku karena ternyata lelaki yang kuminta jadi pacarku itu sama sekali tak bisa mengalahkan Darko di pertandingan bola basket. Aku juga ingat siapa yang dengan suksesnya menginjak ujung gaunku hingga membuatku terjerembab,” potong Arzety.

“Hey, sudahlah, kalian tak perlu berkelahi!” Imelda mencoba menengahi.

“Simpan kekuatan kalian untuk melawan para pengikut Sang Raja Tungga yang sudah mulai mengacau di luar sana!” Gelegar suara ayah Imelda barusan membuat aku, Arzety dan Imelda sontak terdiam.

“Kita naik!” lanjut ayah Imelda setelah pintu gudang rahasia yang menghubungkan antara rumah dan ruang bawah tanahnya terbuka.

Kami mengekor di belakang ayah Imelda setelah beberapa saat sebelumnya saling melempar pandang.

Sesampainya di gudang rahasia, ayah Imelda langsung mearih salah satu tombak yang berjejer rapi di permukaan dinding.

“Imelda, bantu Ayah! Ayah percaya padamu.” Ayah Imelda meraih satu tombak lagi dan menyerahkannya pada Imelda.

Imelda menerimanya dan mengangguk.

Kemudian ia meraih satu lagi, “Apa kau bisa berkelahi?” tanyanya padaku.

Aku mengangguk. “Ayahku sempat mengajariku beberapa jurus dan mantera sihir kaum miames. Meski tidak jago, tapi aku yak…”

“Baiklah, pegang ini!” ayah Imelda menyerahkan tombak tadi padaku sebelum aku menyelesaikan kalimatku.

Lalu ia meraih satu lagi. “Kau?” Ia memeperhatikan Arzety untuk sesaat. “Owh, tidak. Sepertinya lebih baik kau tinggal saja…”

“Aku karateka sabuk hitam. Apa itu cukup?” sela Arzety yang tak mau diremehkan dengan menyuruhnya untuk tak ikut serta dalam pertempuran ini. Yeah, itu dia yang aku suka dari sahabatku yang satu ini. Ia tak pernah sekali pun mau ketinggalan dalam pertempuran. Pertempuran apapun itu, termasuk pertempuran kami dalam sebuah game.

“Baiklah kalau begitu. Pegang ini!” Ayah Imelda menyerahkan tombak yang diraihnya tadi pada Arzety.

Sesaat setelahnya, ayah Imelda merapalkan sesuatu yang membuat salah satu permukaan sisi dinding gudangnya berubah seperti air yang kejernihannya nyaris menyamai cermin, bisa untuk berkaca.

Tanpa memberi komando apapun ayah Imelda menerobos masuk ke dalam permukaan dinding gudang yang telah dirubahnya serupa air tadi. Kemudian dalam sekejap saja sosoknya menghilang seperti ditelan permukaan dinding.

Aku, Imelda dan Arzety pun turut menorobosnya.

* * *

Gemeretak gigi ayah Imelda begitu jelas terdengar ketika mendapati sosok bertubuh tinggi, berjubah merah dengan rambut ikal gondrong dan cambang di wajahnya berdiri dengan pongahnya di atas Benteng Bastania. “Kita terlambat,” katanya. Nada getir dari suaranya tak bisa disembunyikan. “Dia sudah berhasil lepas dari belenggunya.”

“Apa dia yang disebut-sebut sebagai Sang Raja Tungga itu?” tanyaku penasaran. Tatapanku tertancap pada sosok lelaki bertubuh tegap dan berotot, yang sama sekali tak menampakkan bahwa dirinya sudah hidup selama hampir satu abad. Terkurung di dasar Benteng Bastania rupanya tak membuat kebengisan luntur dari wajahnya.

Ayah Imelda menjawabnya dengan anggukkan.

“Mengerikan. Pantas saja,” gumamku. Ada perasaan gentar yang menyusupi diriku ketika menatap langsung sosok Sang Raja Tungga, tapi tentu saja aku tak boleh membiarkannya.

Tak jauh di hadapan kami, mayat-mayat sebagian kaum miames yang ikut bertempur melawan para pengikut Sang Raja Tungga bergelimpangan. Sementara sebagian lainnya masih terlihat berjuang sekuat tenaga untuk melawan.

“Sen, sebaiknya kita mundur. Kekuatan mereka sangat besar. Kita tak akan mampu melawan mereka saat ini,” sahut salah satu kaum miames yang bergegas menghampiri ayah Imelda ketika ia mengetahui kedatangannya. Di beberapa bagian tubuhnya sudah dipenuhi luka besetan dengan darah yang terus mengucur.

Ayah Imelda tak menggubris usulan kaum miames yang menghampirinya tadi. Ia bergeming. Sedetik kemudian dipejamkannya matanya. Detik berikutnya, tombak yang ada di tangannya menyemburatkan nyala keemasan.

Kau miames yang tadi menghampirinya mendadak tegang. “Tidak Sen, jangan kau gunakan kekuatan itu untuk saat ini. Tak ada gunanya!” ia berteriak sekencangnya. Wajahnya semakin menegang. Tapi lagi-lagi ayah Imelda tak menggubrisnya.

“Ayah hentikan!” Imelda sepertinya tahu kekuatan apa yang akan digunakan ayahnya tersebut hingga raut wajahnya pun ikut melukiskan kekhawatiran yang tak kalah dari kaum miames tadi.

Ayah Imelda terus saja memejam. Semburat keemasan pada tombak di tangannya semakin menyala.

Kaum miames yang menghampirinya tadi tak lagi mencegahnya. Ia hanya berdiri dengan tubuh bergetar hebat. Kepalanya menggeleng-geleng pasrah. “Sen,” sahutnya dengan suara melemah. Semetara aku dan Arzety hanya bisa saling beradu pandang dengan tanda tanya besar yang bercokol di kepala kami masing-masing. Kekuatan apa sebenarnya yang aka digunakan ayah Imelda hingga kaum miames di sampingnya dan Imelda tampak begitu ketakutan dan cemas?

 

—BERSAMBUNG—