Oleh: Poetry Ann

 

Keluhan seorang kawan:
Di dunia ini, sepertinya, mungkinkah sepatutnya begitu: pada yang sudah besar, dielu-elu bahkan ditunggu. Pada yang kecil, diminta untuk sekedar melongok pun tak mau?

 

Sifat dasar manusia memang selalu ingin dihargai. Tapi, disadari ataupun tidak, kita sendiri malah seringkali bersikap tak menghargai orang lain.

Menghargai ataupun tidak menghargai, sebenarnya hak mutlak masing-masing individu. Hanya saja memang, di kehidupan sosial, rasa ingin dihargai itu seringkali masih menjadi pemicu kesalahpahaman antara orang yang satu dengan orang yang lain.

Salah satu contohnya mungkin yang tengah dialami oleh salah seorang kawan saya itu. Ia merasa kecewa, merasa tak dihargai karena tulisan-tulisan yang ia tag pada beberapa kawannya, jarang, bahkan nyaris tak mendapatkan komen dari kawan-kawan yang ia tag tadi. Dirinya merasa disepelekan. Akhirnya timbullah pemikiran seperti keluhannya yang saya kutipkan sebagai pembuka tulisan ini.

Ia berpikiran, mungkin karena dirinya bukan siapa-siapa dan belum menjadi apa-apa, makanya kawan-kawan yang di-tag-nya tersebut terkesan tak acuh pada tulisan-tulisan yang di-tag-nya.

Sebenarnya pemikiran seperti itu tak perlu muncul jika saja kita percaya, akan selalu ada silent reader yang membaca tulisan-tulisan kita.

Salah seorang kawan saya yang lain pernah juga ada yang berkata bahwa dirinya tidak suka menulis di blog, ketika bertanya pada saya mengapa saya suka sekali menulis di blog. Menurut dia, menulis di blog itu “nggak asyik”.

Ketika saya balik bertanya mengapa menulis di blog dianggapnya “nggak asyik”, dia menjawab, karena di blognya tak pernah mendapatkan komentar.😀

Di lain waktu, kawan saya yang lain, pernah mendelete postingan di note facebook-nya yang bahkan belum berumur satu hari hanya karena tak ada yang komen.

Saya salah satu orang yang ia tag. Saya baru tahu kalau note yang dibuatnya itu ia delete setelah saya berniat membacanya dan mencoba mencari-cari tag-annya itu, tapi tak ketemu. Akhirnya bertanyalah saya pada dia. “Waktu itu perasaan kamu nge-tag saya. Tapi dicari-cari kok, nggak ada ya di timeline saya?”

Dia jawab, “Paginya saya tag kalian, sorenya udah saya delete!”

“Loh, kenapa?”

“Abis nggak ada yang komen!”

“Diiih…, belom juga satu hari tuh note ditagin ke kita. Mungkin emang pada belum sempet baca.”

“Ah, bilang aja tulisan gue mah emang nggak penting!”

Gludak!

Itulah beberapa bukti kalau setiap manusia selalu ingin dihargai, yang terkadang memicu kesalahpahaman. Padahal, setiap orang pasti memiliki alasan sendiri mengapa dirinya memilih tidak meninggalkan komen pada tag-an orang lain. Mungkin saja dia belum sempat. Mungkin juga memang belum tertarik untuk membacanya sehingga memutuskan untuk menunda membacanya. Atau mungkin, dia sudah membaca tapi dia lebih memilih untuk menjadi silent reader. Mungkin, bagi dia, menjadi silent reader saja sudah cukup. Tapi yang dipikirkan oleh si penulis yang men-tag tulisannya terkadang malah berpikiran lain.

Baik yang di-tag maupun yang men-tag, menurut saya sama-sama tak bisa disalahkan. Karena keduanya, saya yakin memiliki alasan masing-masing. Mungkin yang men-tag berharap mendapatkan masukan lewat komentar orang-orang yang di-tagnya. Sedangkan orang yang di-tag, mungkin merasa tidak punya cukup waktu atau bahkan pengetahuan untuk mengomentari tulisan yang diterimanya itu, sehingga dengan membacanya saja ia merasa sudah cukup.

Saya sendiri, jujur, pernah juga merasakan seperti apa yang beberapa kawan saya itu rasakan. Bahkan baru beberapa hari kemarin saya mengalami itu. Saya sempat merasakan hal yang sama ketika saya membaca postingan salah satu tutor saya di Rumah Dunia yang mengabarkan kalau ketiga tulisannya dimuat di ketiga media nasional sekaligus dalam waktu yang hampir bersamaan.

Saat itu saya berpikiran, ah, kalau penulis yang sudah memiliki nama besar, sepertinya kok mudah sekali menembus media.

Tapi perasaan itu segera hilang ketika saya mengingat kembali perjuangan beliau sebelum akhirnya memiliki nama besar seperti sekarang ini. Semuanya ia mulai dari nol. Ia terus berusaha tanpa mengenal kata menyerah hingga akhirnya bisa menjadikannya penulis yang banyak dikenal orang. Menjadi penulis yang karyanya ditunggu-tunggu oleh pembacanya.

Sebuah pesan dari tutor saya di Majelis Puisi Rumah Dunia yang tiba-tiba saja berkelebat di kepala saya, semakin membuat saya sadar, bahwa nama besar pun dimulai dari perjuangan nama kecil yang tak pernah lelah dan putus asa mengejar impiannya. Sebuah pesan yang saya dapat ketika saya nyeletuk di sela-sela ceritanya tentang banyaknya pemesan kumcer yang baru di-launching-nya.

Waktu itu saya nyeletuk, “Kalau kita yang bikin kumcer atau kumpulan puisi, siapa yang bakal mau beli ya?”

Beliau menimpali. “Barsabarlah. Pasti ada. Saya aja butuh waktu tiga puluh tahun lebih sampai akhirnya karya-karya saya dikenal orang. Semuanya butuh proses. Tidak bisa instan.”

Sekarang, saya tertawa sendiri ketika mendapati keluhan kawan saya yang saya jadikan pembuka tulisan ini. Bukan karena menganggap bahwa apa yang dipikirkannya itu dangkal, tapi karena saya merasa tersentil oleh keluhannya itu. Karena baru beberapa hari kemarin apa yang saya pikirkan tak berbeda jauh dengan isi keluhannya.😀