Oleh: Poetry Ann

Ada seorang kawan yang berkata lewat inbox-nya. Kalau saja dirinya menulis, pasti yang akan dia tuliskan isinya tak akan jauh-jauh dari emosi dan ketidakadilan. Lalu ketika saya bilang, “Itu bagus. Daripada disalurkan dengan aksi demo?”

Dia menjawab, “Nach ho’oh, eta, ngomong oge lebay kumaha nulis? Banyak yang komplen pastinya!”

Kemudian saya membalasnya dengan jawaban seperti ini, “Hahaha, menulis itu melatih kita untuk fokus dan sabar. Menulis itu mengajarkan kita bagaimana caranya me-manage emosi kita. Jadi, kalau ngomong kita terkesan lebay dan meledak-ledak, mungkin dengan menulis kita justru malah bisa melatih bagaimana caranya supaya pendapat kita yang tentang ketidakadilan itu bisa dinikmati, bermanfaat, sekaligus juga bisa diterima oleh pembacanya.”

Saya menjawab seperti itu tentu bukan tanpa alasan. Saya menjawabnya berdasarkan pengalaman saya sendiri. Berdasarkan manfaat yang sudah saya rasakan selama menjalani kegiatan menulis. Bagaimana secara perlahan-lahan saya semakin bisa mengontrol emosi saya setelah rajin menuliskan apa pun yang tengah saya rasakan dan alami. Baik itu di buku harian, blog, facebook, ataupun dengan cara mengirimkannya ke media-media cetak seperti koran dan majalah.

Selama menulis, saya pun perlahan-lahan mengerti bagaimana membuat diri saya supaya bisa tetap fokus pada satu titik atau pada hal yang saat itu tengah ingin saya sampaikan. Sehingga tulisan saya tidak campur aduk dan meluber ke mana-mana hingga terkesan seperti igauan atau ceracau tak jelas.

Sebenarnya menulis itu nggak ribet kok. Menulis itu tidak perlu menunggu sesuatu yang ‘wah’ terjadi dulu di hadapan kita. Menulis itu tidak perlu menunggu ide-ide fantastis yang tiba-tiba muncul di kepala kita. Menulis itu tidak perlu guru privat. Menulis itu cukup dengan menulis saja! Ya, menulis saja! Bagaimana kita bisa dikatakan menulis kalau tidak ada satu kata pun yang kita tuliskan? Iya kan?

Meski banyak ide besar yang muncul di kepalamu, tetap saja tidak akan mewujud menjadi sebuah tulisan jika kamu sendiri tidak mau menangkap ide tersebut lalu menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Menulis itu tidak butuh ide besar. Kita hanya butuh ide kecil yang bisa kita pungut dan kita racik sendiri dengan apa pun yang kita miliki. Mulai dari pengetahuan, pengalaman, dan hal-hal lain yang kita kuasai, hingga menjadi sesuatu yang bermanfaat. Minimal untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat kita. Syukur-syukur kalau tulisan kita bisa diterima oleh orang banyak. Ya, ucapkan alhamdulillah.

Masih belum percaya kalau menulis itu tidak membutuhkan ide yang besar dan hal-hal yang ‘wah’? Hm, padahal contohnya ada di depan matamu sendiri.🙂

Tulisan saya yang tengah kamu baca kali ini bukan lahir dari sesuatu yang ‘wah’ dan besar. Tulisan ini lahir hanya karena sebuah kalimat yang dilontarkan oleh seorang kawan di inbox. Sebuah kalimat yang tentu saja tidak akan bermanfaat apa-apa jika saya tidak tergelitik dan tidak tertarik untuk mengembangkannya menjadi sebuah tulisan.

Kita tidak perlu terlalu ngotot untuk menulis cerpen seperti para cerpenis kalau memang kita belum bisa. Kita tidak perlu memaksakan diri untuk menulis puisi seperti para penyair kalau memang kita belum tertarik. Kita tidak perlu ngoyo menulis novel seperti para novelis jika memang kita belum mampu. Kita tidak perlu menulis tulisan motivasi kalau memang diri kita sendiri saja belum termotivasi. Tapi berusaha untuk bisa, itu tak ada salahnya. Bahkan tentu bisa menjadi nilai plus untuk kita. Tapi semuanya butuh proses, kawan!

Kita tidak bisa memaksakan diri kita untuk langsung bisa menuangkan ide kita menjadi sebuah cerpen, puisi, novel atau tulisan motivasi. Tapi kita bisa mulai mempelajari dan melatihnya perlahan-lahan.

Mulailah menulis dengan menuangkan apa yang kamu rasakan dan alami dalam bentuk curhatan dulu. Tulis dengan gayamu sendiri. Tidak perlu terlalu memusingkan apakah orang lain akan menganggap gaya tulisanmu itu lebay dan sebagainya.

Mulailah menulis dengan satu kalimat. Lalu dua kalimat. Tiga kalimat. Empat kalimat. Lalu satu paragraf. Dua paragraf. Tiga paragraf. Lalu satu halaman. Dua halaman, dan seterusnya. Nikmati proses itu secara perlahan-lahan.

Lalu mulailah perlahan-lahan memperbaiki tulisanmu. Dari mulai ejaannya, tata bahasanya, susunan kalimatnya, sampai pemakaian tanda bacanya. Ini penting untuk kita yang ingin memulai menulis!

Minimal, mulailah menulis dengan tanpa menyingkat kata. Misalnya, kalau biasanya kamu menulis dengan cara begini: Puisi adlh dri qt sndri. Tpi utk mlm ini izinkan sy mengtakn, klo puisi adlh kmu.🙂

Maka, akan lebih baik kalau kita mulai menuliskannya dengan cara begini: Puisi adalah diri kita sendiri. Tapi untuk malam ini, izinkan saya mengatakan kalau puisi adalah kamu.🙂

Bagaimana? Lebih nyaman dan enak dibaca kan?

Kalau belum terbiasa, mulailah perlahan-lahan. Lama-lama kita akan terbiasa. Sudah saya bilang kan sebelumnya, semua butuh proses, kawan!

Ketika menulis kita tidak perlu dulu memikirkan apakah hasil tulisan kita akan bagus atau jelek. Penilaian bagus atau jelek, menarik atau tidak menarik, itu sebenarnya relatif. Tidak ada satu pun peraturan atau syarat mutlak yang bisa dijadikan patokan apakah tulisan kita itu dikategorikan tulisan jelek atau tulisan bagus, apakah tulisan kita itu dikategorikan tulisan menarik atau tidak menarik. Semuanya kembali pada selera dan penilaian masing-masing pembaca yang menikmati tulisan kita. Yang ada hanyalah berani atau tidak kita menuliskannya!

Happy writing!🙂