Oleh: Poetry Ann

Cerpen_radar[1]

 

Zaman sekarang, manusia lebih kejam dari setan. Mau bukti?

Saat ini banyak hutan sudah mulai botak. Sampai-sampai binatang saja sudah tidak mau tinggal di hutan lagi. Makanya manusia zaman sekarang tidak ada yang bisa memburu binatang lagi. Kalau dulu ada orang yang hobinya berburu babi hutan, rusa dan sebagainya. Sekarang nggak ada lagi yang bisa berburu binatang-binatang tersebut. Apanya yang mau diburu coba kalau binatang-binatangnya saja pada kabur entah ke mana. Karena tidak ada lagi yang diburu, jadilah manusia zaman sekarang beralih berburu setan.

Nah, manusia di sini heboh berburu setan. Tahukah anda, kalau di dunia setan juga tengah heboh gara-gara banyak dari kaumnya yang diburu, ditangkap dan dijebloskan ke botol-botol kosong bekas yang baunya bisa melebihi bau kentut manusia habis makan telor dan ubi.

“Hu…hu…! Tega banget sih, manusia nangkep anak saya. Padahal sekarang kan saya sudah tidak pernah lagi nyulik anak-anak dari bangsa mereka,” tangis si Wewe gombel. Setan yang hobinya nyulik anak manusia ini sudah insaf. Dia tidak pernah lagi menculik anak manusia semenjak dikaruniai seorang anak.

“Emang dasar kurang ajar tuh manusia!!!” geram si Genderuwo.

“Terus, gimana nih, Pah?! Hik…kikik..! Masa kita diam saja!” desak si Wewe gombel. Air matanya sudah menganak sungai.

“Tenang dong, Mah! Jangan gegabah! Dinginkan dulu hati Mama. Jangan sampai kita tiru sifat manusia zaman sekarang yang grasak-grusuk itu. Walaupun kita setan, kita tunjukkan pada manusia-manusia itu kalau kita bisa lebih bersikap dingin dan tenang dalam menghadapi masalah dibandingkan mereka.”

“Tapi anak kita, Pah. Bisa-bisa dia dibunuh duluan sama si manusia-manusia brengsek itu! Hu…..hu…!” Si Wewe gombel terus merengek tanpa berhenti menangis.

“Mah, kamu kok, jadi ikut-ikutan mereka sih?!”

“Hah! Ikut-ikutan bagaimana, Pah?” si Wewe gombel melongo. Tangisannya mendadak terhenti. Dia tidak paham dengan apa yang di katakkan suaminya barusan.

“Itu tadi, Mama pake ngeluarin kata-kata kasar. Percis kayak manusia-manusia itu.”

“Kata-kata kasar? Yang mana?”

“Tadi. Mama bilang brengsek! Kita kan sudah sepakat tidak akan mengikuti kata-kata manusia yang berkonotasi jelek, apalagi kasar!”

“Nah itu tadi, Papa sendiri ngomong.”

“???!!”

 

 

Sementara itu, di dunia manusia,

“Setan apa Mbah?”

“Tuyul.”

“Wah, ini ternyata yang selama ini nyolongin duit gue ya?” ucap si Karto sambil menunjuk-nunjuk ke arah botol yang nampak kosong, yang ada di tangan sang pemburu hantu yang konon sudah terkenal di kampungnya.

Sementara, si tuyul yang ada di dalam botol meringkuk ketakutan. Tangannya tak pernah lepas dari hidungnya yang berusaha menahan napas.

***

“Gawat! Gawat!” seru si pocong tiba-tiba. Napasnya tersengal-sengal karena tergesa-gesa melompat agar secepatnya sampai di tempat si Wewe Gombel dan si Genderuwo.

“Ada apa lagi, Cong? Kamu nggak tahu apa, kepalaku sudah mumet mendengar tangisan isteriku tak juga selesai. Eh, kamu malah datang teriak-teriak. Emangnya ada apaan?”

“Nah, itu dia Wo. Saya ke sini mau ngasih tau soal anak kamu yang hilang itu.”

“Kamu tahu sekarang dia di mana?” Genderuwo mendekat penasaran.

“Semalam waktu saya keliling-keliling kampung, saya pergoki si Karto dan si Mbah dukun pemburu hantu menangkap anakmu si Tuyul. Dia di sekap di dalam botol kosong sama si Mbah pemburu hantu itu.”

“SETANN!!! Dasar manusia!” caci si Genderuwo spontan.

“Lha, jangan begitu Wo. Itu sama saja kamu mencaci maki bangsa sendiri.”

“O’iya. MANUSIAA!!! Dasar manusia!” Si Genderuwo meralat sumpah serapahnya.

“Si Tuyul dituduh yang nyolong duit si Karto selama ini!” lanjut Pocong, menyempurnakan laporannya.

“APA?!”

“Iya, si Karto bilang begitu.”

“Kurang ajar! Bangsa mereka saja yang nyolong duit rakyatnya sampai ratusan milyar masih bisa berkeliaran. Jangankan yang tidak di penjara, yang sudah masuk penjara saja masih bisa bebas berkeliaran bahkan sampai bisa pelesiran ke Bali dan luar negeri. Anak saya yang cuma nyolong duit recehan mereka jeblosin ke botol kosong buluk yang super bau itu! Mau ngajak perang mereka?!” si Genderuwo murka.

“Sabar Wo! Ingat! Kepala boleh panas tapi hati harus tetap dingin. Kita pikirkan cara terbaik untuk menyelamtkan si Tuyul!” usul si Pocong.

Mendengar perkataan si Pocong tadi, si Genderuwo kembali dingin dan mencoba untuk bisa berpikir lebih jernih. Ia sandarkan tubuh besarnya yang lemas karena emosi di batang pohon asem besar tempat ia dan isterinya tinggal selama ini.

Pohon asem besar yang letaknya di pinggir jalan menuju danau angker ini memang sudah berabad-abad lamanya dihuni si Genderuwo, bahkan sebelum tempat ini ramai dengan hunian manusia seperti sekarang.

***

“Ssssst…, Wo! Sudah tau badanmu itu besar kenapa pake ngumpet-ngumpet di balik pohon segala? Tetap saja kelihatan. Lagian ngapain kita ngumpet-ngumpet? Wong kita setan. Manusia juga nggak ada yang bakalan ngeliat kita Wo!”

“Buat jaga-jaga, Cong. Manusia zaman sekarang kan sudah canggih. Mereka sudah punya alat pendeteksi keberadaan setan.”

“Hala…h, ada-ada saja kamu Wo. Wong saya saja keluyuran tiap malam nggak ada manusia yang pernah ngeliat.”

Malam ini adalah malam aksi mereka untuk menyelamatkan si Tuyul dimulai. Mereka mengendap-endap di belakang rumah Mbah Dukun si pemburu hantu.

“Wih, ternyata rumah si Mbah Dukun ini lebih angker dari rumahku ya, Cong?” bisik si Genderuwo begitu mereka menembus ke dalam rumah si Mbah Dukun.

“He’eh.” si Pocong mengangguk mengiyakan. Matanya menelusuri setiap jengkal rumah si Mbah Dukun pemburu hantu itu.

Tidak perlu waktu lama bagi mereka berdua untuk menemukan botol yang mereka cari karena rumah sang dukun itu tidak terlalu besar.

“Ini dia. Wo…, ini dia, anakmu ada di sini..!” teriak si Pocong dengan suara yang lebih tepat dibilang berbisik ketimbang dibilang teriak.

Si Genderuwo bergegas menghampiri si Pocong lalu meraih botol yang ada di tangannya. “Yul, tuyul, kamu nggak apa-apa, Nak? Kamu baik-baik saja kan?” Mulut si Genderuwo didekatkan ke dinding botol.

“Papa?” Si Tuyul yang sudah hampir pingsan karena terlalu lama mencium bau dalam botol kembali tersadar setelah mendengar suara si Genderuwo.

“Tenang Nak, Papa akan menyelamatkanmu.”

“Ssst…, ssttt…, Wo! Sini Wo!” Belum sempat si Genderuwo berbicara banyak dengan anaknya, si Tuyul, si Pocong kembali memanggilnya. Rupanya ada yang mau ia tunjukkan pada si Genderuwo.

Sambil membawa botol yang berisi si Tuyul, si Genderuwo mendekat, “Kenapa, Cong?”

“Liat tuh, Wo!” tunjuk si Pocong ke dalam kamar yang tengah ia intip melalui lubang kunci pintu kamar tersebut.

Tak buang waktu, si Genderuwo pun langsung pasang mata untuk mengintip melalui lubang kunci kamar tadi. Mulanya ia agak kesulitan untuk melihat dengan jelas apa yang tengah terjadi di dalam kamar tersebut. Namun, lambat laun matanya mulai terbiasa dengan lubang kunci yang lebarnya sangat terbatas itu.

Apa yang dilihatnya dalam kamar tadi membuat si Genderuwo terperangah. Si Mbah Dukun yang terkenal sebagai pemburu hantu di kampungnya itu kini sedang duduk bersila menghadapi lilin yang tengah menyala di depannya. Ia berusaha menjaga lilin itu supaya tidak mati. Tiap kali ada hembusan angin yang datang dari celah jendela kamarnya, tangannya dengan gesit menutupi lilin agar tidak mati terkena hembusan angin tadi. Bersamaan dengan itu, perlahan-lahan muncul berlembar-lembar uang di hadapannya.

Mulanya si Genderuwo masih bingung dengan apa yang disaksikannya. Namun, setelah kemudian tiba-tiba muncul seekor babi tepat di hadapan si Mbah Dukun pemburu hantu tadi, si Genderuwo jadi paham apa yang tengah di saksikannya kini.

“Ha…ha…aha…! Kalau begini terus, sebentar lagi aku bisa jadi orang terkaya di negeri ini. Hahaha…!” Tawa si Mbah dukun menggelegar di dalam kamarnya. Tangannya terus sibuk mengaduk-aduk lemabaran uang yang ada di hadapannya.

“SIALAN!!! MANUSIA!!! DASAR MANUSIA! Jadi selama ini dia mengkambinghitamkan anakku si Tuyul?!”

 

 

*Cerpen ini sudah dimuat di koran harian Radar Banten, minggu, 13 Februari 2011.