Oleh: Poetry Ann

 

 

*Kucing Kampung,

Entah sudah berapa banyak tempat aku singgahi, sudah berapa banyak orang yang kudatangi hanya untuk meminta belas kasihan dari mereka agar sudi memberikan barang sedikit saja makanan yang tengah mereka makan. Tapi, tak seorangpun dari mereka yang tergerak hatinya melihatku yang tengah mengiba mengharap belas kasihan.

Sudah seharian ini aku berkeliling mencari makan tak juga kudapatkan. Tikus-tikus yang biasanya banyak kutemui pun kini sudah jarang terlihat. Mungkin, sudah banyak yang mati karena diracun oleh para manusia. Meskipun ada, sangat sulit menangkap mereka dengan kakiku yang pincang ini. Aku kalah gesit oleh tikus-tikus itu.

“Hush, hush, hush….! Pergi sana! Mau nyolong ikan ya kamu?! Kucing kurang ajar!” Sapu ijuk di tangannya siap menghajarku.

“Meong…!” Aku berusaha membantah tuduhannya. Tapi, sepertinya orang ini tak mengerti apa yang kukatakan.

Masih dengan sapu ijuk ditangannya, “Eh, malah meang-meong!” Sapu ijuknya ia hantamkan ke arahku. Aku berusaha sekuat tenaga menghindarinya dengan kaki pincangku ini.

“Dasar kucing SIALAN! Awas lo ya, balik lagi ke sini gua matiin lo!” Ancamnya, sambil mengacung-acungkan sapu ijuknya.

Syukurlah, aku berhasil menghindari hantamannya. Tak sedikitpun bagian dari ujung sapu yang ia hantamkan mengenai tubuhku.

Apa salahku? Padahal aku sama sekali tak berniat mencuri ikannya. Mengapa orang-orang selalu menganggap kucing kampung sepertiku adalah pencuri? Mereka sering bilang kalau aku adalah kucing garong. Padahal, kami mencuri pun karena terpaksa. Sama halnya seperti mereka (manusia) yang banyak melakukan pencurian karena terpaksa dengan dalih sekedar untuk mengisi perut.

Terkadang, ada rasa iri yang menghinggapiku ketika melihat si kucing Anggora, Persia, Siam, Manx, Sphinx dan kucing ras lain yang dianggap lebih berharga dan sempurna diperlakukan lebih baik. Malah, perlakuan manusia pada kucing-kucing ras itu melebihi perlakuan mereka terhadap sesamanya. Manusia bahkan rela merogoh koceknya dalam-dalam hanya untuk perawatan dan kebutuhan makanan kualitas nomor wahid untuk kucing-kucing yang bisanya hanya bermanja-manja dan bermalas-malasan itu.

Apa jeleknya aku? Aku memang hanya kucing kampung, tapi aku berani bertaruh kalau aku bisa lebih baik dan lebih setia pada manusia jika saja aku diperlakukan sama seperti kucing-kucing ras itu.

 

 

*Kucing Ras,

“Snoopy..! ayo sini…! Waktunya kita mandi, okey!” Tangan halus nan mungil ini mengangkatku. Ia membawaku menuju kamar mandi, menurunkanku di bak mandi yang khusus dipesan dari luar negeri karena bak mandi khusus kucing Persia tidak diproduksi di sini. Shampo, kondisioner, dan handuk yang dikhususkan untukku pun sudah tersedia.

Perlahan kucuran air hangat dari shower yang ada di tangan majikan kecilku ini mengguyur tubuhku. Jemarinya dengan lembut dan penuh hati-hati memijatku, mengoleskan shampo dan kodisioner pada bilasan terakhir. Lalu, setelah yakin tubuhku bersih ia mengeringkan buluku dengan handuk. Kemudian membawaku ke kamarnya. Hair dryer dipilihnya untuk membantu agar buluku lebih cepat kering.

“Jeng, jeng, jeng, jeng….!” Serunya. Majikan kecilku ini memamerkan baju berwarna biru dengan renda di bagian lehernya. “Ini baju baru untukmu Snoopy, apa kau suka?” Tanyanya padaku. Tapi aku memilih tak menjawab. Karena percuma, sebanyak apapun aku bicara padanya hanya suara meong-meong yang keluar dari mulutku, suara yang sama sekali tak ia mengerti.

“Kau pasti menyukainya Snoopy, karena Ibuku bilang baju ini dibuat dengan kain berkualitas tinggi. Nyaman untuk dikenakan,” ocehnya. Tangannya sibuk memakaikan baju baru ini padaku. Sementara, aku hanya bisa pasrah saja ketika tubuhku dikenakan pakaian yang sebenarnya tak kukehendaki ini.

Nyaman? Apa benar baju ini nyaman digunakan? Apakah kalian para manusia sudah mencobanya terlebih dahulu hingga kalian berani bilang baju ini nyaman untukku? Hah, kurasa tidak.

Kali ini ia menyisiri bulu-buluku. Hingga benar-benar halus.

Sekarang, ia tengah mencari sesuatu di lemari yang isinya perabotanku. Ya Tuhan, apa lagi yang ia rencanakan untukku?

Kelihatannya ia sudah menemukan apa yang ia cari. Apa itu? Ah, entahlah. Tapi yang pasti benda itu akan menambah penderitaanku hari ini.

“Nah, Snoopy, kau akan tampak lebih cantik bila baju yang kau kenakan ini dipadukan dengan topi ini!” Katanya, sambil memakaikan topi sialan itu di kepalaku.

Apa kau pikir aku menikmati hidupku ini? Jika kau berpikir begitu kau salah besar.

Aku sama sekali tidak menikmati apa yang kalian lakukan padaku. Aku sama sekali tidak membutuhkan itu semua. Aku tidak membutuhkan kalian untuk memandikanku, karena seperti yang sudah kalian tahu, kucing itu takut air. Kalian (manusia) semua tahu itu, tapi mengapa kalian masih saja memandikanku, mendandaniku, mengenakanku pakaian, memberiku makanan pabrikan yang super mahal, membawaku ke salon hanya untuk membiarkan capster-capster itu memotong kukuku, menyuntikku dengan berbagai vitamin, mengikutsertakan aku di kontes-kontes kecantikan kucing dan mengekangku di rumah. Aku bahkan tidak di ijinkan untuk keluar melewati pagar rumah dengan alasan kalian takut kehilanganku.

Tidak bisakah aku kalian biarkan hidup bebas seperti para kucing kampung itu?! Mereka bisa bebas berkeliaran kemanapun mereka suka, bermain, melompat,  berlari mengejar mangsa, mencengkram dengan kuku-kukunya yang tak perlu di potong. Tanpa perlu hawatir tersesat, kotor dan tanpa perlu memikirkan penyakit apapun yang akan menjangkiti mereka. Mereka bisa bernapas lega dan bergerak bebas tanpa perlu dibuat ribet dengan baju-baju dan aksesoris yang kerap kali menempel di tubuhku.

* * *

“Snoopy, malam ini adalah malam final kontes kecantikan kucing-kucing Persia, kau harus menang Snoopy! Kau dengar itu?” Warningnya, sambil terus mengelus-elus bulu Snoopy, kucing Persia kesayangannya. “Makannya, malam ini aku akan mendandanimu lebih cantik lagi,” ocehnya lagi. Kini, tangannya sibuk menyisiri bulu Snoopy. Sayangnya, sore ini sepertinya sikap Snoopy tak bersahabat. Ia terus memberontak saat majikan kecilnya  itu mendandaninya.

Snoopy masih terus memikirkan ejekan Kucing Kampung yang telah membuatnya terluka parah sebulan yang lalu. Luka di tubuhnya sudah hilang, namun rasa sakit atas ejekan si Kucing Kampung itu tak juga bisa hilang. Ejekkan si Kucing Kampung sebulan yang lalu membuatnya terus berpikir apakah benar dirinya yang selalu menyandang gelar kucing tercantik di setiap kontes kecantikkan hanyalah seekor kucing yang manja, lemah dan tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk melindungi dirinya saja ia harus bergantung pada majikan kecilnya ini. Ia pun merasa kalau dirinya hanya dianggap boneka yang bisa bebas diapakan saja oleh majikan kecilnya ini. Apa benar yang ia rasakan ini, kalau majikan kecilnya hanya menganggap dirinya mainan semata?

* * *

 

“Nah, Snoopy, kita sudah sampai!” Mobil yang dinaiki Snoopy, majikan kecilnya beserta ibunya berhenti tepat di depan gedung mewah bertingkat. Di pintu masuk banyak pengunjungnya yang membawa kucing-kucing ras peliharaannya yang sudah didandani sedemikian rupa.

“Tidak. Untuk malam ini aku tak mau menuruti kemauan majikan kecilku ini untuk mengikuti kontes yang membosankan ini!” Gerutu Snoopy dalam hati, tubuhnya terus menggeliat-geliat di pangkuan majikan kecilnya. Di kepalanya sudah ada rencana untuk melarikan diri dari tempat ini dan dari majikan kecilnya yg kini sedang mendekapnya sambil terus mengelus-elus bulunya agar nampak indah. Ia ingin bebas seperti kucing-kucing liar, ia tak mau lagi harus dipaksa mengenakan pakaian-pakaian dan aksesoris yang menghambat gerakkanya ini. Ia ingin lari, lari, lari dan lari, hanya itu yang memenuhi kepalanya saat ini.

“Snoopy…! Snoopy… kau mau ke mana?! Snoopy… jangan lari…! Ini malam penting untuk kita! Snoopy kembali……! Nanti kau tersesat!” Ia teriak histeris, genangan air mata di kelopak matanya sudah tak bisa ia bending. Gadis kecil itu terus berlari mengejar Snoopy yang lepas dari dekapannya.

Snoopy berhasil lari. Saat majikan kecilnya tengah membuka pintu mobil dan hendak turun, kesempatan itu digunakan Snoopy untuk lari. Ia meronta, berusaha untuk lepas dari dekapan majikan kecilnya, dan kini ia berhasil melakukannya.

Setengah jam setelah pelariannya, Snoopy masih bingung dan tak tahu apa yang harusnya ia lakukan. Di setiap langkah perjalanannya selalu saja mengundang tatapan dari para manusia yang hilir mudik di sekitarnya. Di antara mereka ada yang tersenyum manis padanya ada juga yang tersenyum geli, bahkan ada yang mengelusnya, mendekatinya, memuji betapa lucunya ia. Tapi Snoopy tak suka dengan itu semua. Ia ingin dirinya bebas dari tatapan-tatapan itu, ia ingin bisa bebas pergi tanpa ada satupun yang memperhatikan tiap jengkal langkahnya.

Snoopy baru menyadari kalau pakaian yang dikenakannyalah yang mengundang tatapan-tatapan yang tak diharapkannya itu.

Kemudian, ia lari menuju gang sempit dan gelap yang terletak di antara dua gedung yang menjulang tinggi. Di situ ia berusaha melepaskan pakaiannya dengan cara menggigitinya dan mencakar-cakarnya dengan kakinya.

Setelah sekitar setengah jam lebih ia berusaha akhirnya pakaian itu lepas dari tubuhnya dalam keadaan tercabik-cabik.

“Ah, akhirnya…..!” Desah Snoopy. Ia sandarkan tubuhnya ke dinding gedung yang menjulang itu. Kelelahan amat terasa di sekujur tubuhnya.

“Aaa….ounggg! Rrrrgh…..! Waong….meaooong…..! Apa yang kalian mau dariku?” Tiba-tiba saja terdengar suara beberapa kucing tengah bertengkar. Snoopy terkejut, pelan-pelan ia mendekat ke arah sumber suara.

Snoopy bersembunyi di balik drum kaleng bekas yang sudah berkarat di semua sisinya yang letaknya berada di dekat sumber keributan.

Snoopy mengintip dari balik drum. Seekor kucing berbulu abu-abu putih yang dipenuhi luka dan kucuran darah  tengah dikelilingi oleh beberapa kucing lain yang tubuhnya lebih besar-besar dibanding kucing berbulu abu-abu putih tadi. Sepertinya, kucing itu tengah dikeroyok oleh kucing yang tubuhnya besar-besar itu.

Untuk beberapa saat mata Snoopy terus tertuju pada kucing berbulu abu-abu putih itu. Ia merasa kucing itu tak asing lagi di matanya.

Sekarang ia ingat, kucing itu adalah kucing yang membuatnya harus dilarikan ke Dokter hewan sebulan yang lalu. Kucing yang menyerang dan mengejeknya saat ia dibawa jalan-jalan ke taman kota oleh majikan kecilnya.

Saat itu, majikan kecilnya meninggalkannya sebentar karena ia ingin ke toilet. Snoopy dibiarkan menunggu di luar toilet dengan tali kekang yang diikatkan ke tiang lampu hias taman yang berada tak jauh dari toilet. Kesempatan itu ternyata digunakan si Kucing Kampung untuk mengejek Snoopy dan menantang Snoopy yang dianggapnya kucing malas dan lemah untuk berkelahi. Hingga akhirnya, emosi Snoopy terpancing dan terjadilah pergulatan antara si Kucing Kampung dengan Snoopy si kucing ras. Snoopy yang memang notabene dilahirkan bukan sebagai kucing petarung layaknya kucing kampung, ditambah lagi gerak tubuhnya yang harus terbatasi oleh tali kekang yang diikatkan oleh majikannya tentu saja kalah. Ditubuhnya banyak mendapatkan luka cakar yang parah dan darah mengucur hampir di sekujur tubuhnya. Beruntung majikan kecilnya cepat keluar dari toilet, ia menyelamatkan kucing kesayangannya itu dari serangan si Kucing Kampung dan segera membawanya ke Dokter hewan untuk diobati.

“Rasakan! Sekarang kau mendapatkan balasannya!” Umpat Snoopy dalam hati, ia masih kesal dan dendam pada si Kucing Kampung yang kini tengah dikeroyok oleh sesamanya tepat di depan matanya. Ia pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan membiarkan kucing-kucing besar itu mengeroyok si Kucing Kampung yang telah membuatnya terluka.

Sesampainya di ujung gang, Snoopy kembali mendengar raungan kucing-kucing itu. Entah mengapa, tiba-tiba saja hatinya merasa tak tega membayangkan Kucing Kampung itu dikeroyok oleh segerombolan kucing kampung lainnya.

Snoopy menghentikan langkahnya dan berbalik lari menuju drum tempatnya bersembunyi tadi. Ia melihat kucing  kampung berbulu abu-abu putih itu sudah benar-benar tak berdaya, nafasnya sudah tersengal-sengal. Snoopy jadi panik, apa yang harus ia lakukan? Pikirnya. Keluar dari persembunyian dan membantu kucing kampung itu melawan gerombolan kucing kampung yang besar-besar itu secara terang-terangan itu tak mungkin dilakukannya. Karena sudah dipastikan ia pun akan ikut mati dikeroyok.

Di tengah kepanikannya Snoopy terus memutar otak.

Mata Snoopy menjelajahi seluruh sisi drum kaleng yang menjadi tempatnya bersembunyi, ia berpikir sejenak. Dan akhirnya, aha! Ia mendapatkan ide.

Seluruh tenaga yang ia punya sudah dikerahkannya namun Snoopy tak juga berhasil membuat drum kaleng itu terguling. Drum itu terlalu berat dan terlalu besar untuk ukuran kucing betina sepertinya.

Snoopy tak menyerah, ia terus mencari cara supaya drum itu terguling. Ia lihat ada beberapa drum lain di sisi drum yang ia jadikan tempat persembunyiannya. Lalu ia berusaha melompat naik ke drum lain yang ada di sampingnya dengan penuh hati-hati agar sebisa mungkin tak mengeluarkan suara gaduh yang bisa memancing perhatian segerombolan kucing kampung yang besar-besar itu ke arahnya. Setelah berada di atas drum, Snoopy melompat sekuat tenaga menerjang drum yang ada di sisi drum yang ia naiki tadi. Ia berhasil, perlahan namun pasti drum tadi terguling dan menggelinding ke arah gerombolan kucing-kucing besar itu. Sontak, kucing-kucing besar itu kaget dan berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Semuanya lari tunggang langgang. Begitupun dengan si kucing kampung berbulu abu-abu putih.

Semua kucing lari, yang tersisa hanya si kucing kampung yang tertelungkup sambil memicingkan mata, ia hampir terhimpit drum kaleng yang digelindingkan Snoopy.

“Kau tak apa-apa?” Snoopy keluar dari persembunyiannya.

“Kau?” Dengan napas yang masih terengah-engah kucing kampong berbulu putih abu-abu tadi terperangah saat tahu yang menolongnya adalah Snoopy, kucing Persia yang ia serang sebulan lalu.

“Oh, kau masih mengingatku rupanya!” Ucap Snoopy  dengan nada suara yang sengaja ia buat angkuh.

“Apa yang dilakukan kucing manja sepertimu di sini?” Si kucing kampung masih saja bersikap sinis. Ia berusaha keras menegakkan tubuhnya.

“Ya, aku mungkin memang kucing manja, tapi aku bukan kucing bodoh sepertimu!” Balas Snoopy ketus. Ia lalu berbalik pergi.

“Tunggu dulu!”

“Apa lagi? Apa kau mau mengajakku berkelahi lagi dengan luka di tubuhmu?” Katanya sinis, kemudian Snoopy kembali melanjutkan langkahnya.

“Terima kasih!” Ucap si kucing kampung tulus, tubuhnya kuyu dengan luka cakar di tubuhnya.

Langkah Snoopy terhenti lagi, “Apa katamu tadi?” Snoopy tak yakin atas apa yang didengarnya barusan.

“Terima kasih, atas pertolonganmu!” Ulang si kucing kampong, masih dengan napasnya yang tersengal-sengal. Ia berhasil membuat tubuhnya berdiri tegak kembali meski harus merasakan kepedihan yang lebih dari luka-luka bekas cakaran di tubuhnya.

Snoopy senang mengetahui apa yang didengarnya barusan itu tak salah. Lagi-lagi Snoopy kembali melanjutkan langkahnya.

“Tunggu dulu!”

“Ah.., apa lagi!” Geram Snoopy, langkahnya kembali terhenti.

“Aku minta maaf soal ….”

“Aku mengerti. Aku sudah memaafkanmu!” Potong Snoopy. Ia berbalik, menatap si kucing kampung yang ada di belakangnya.

“Benarkah?” Si kucing Kampung malangkah mendekati Snoopy. “Mmm…, kau mau ke mana? Bukankah kucing sepertimu biasanya tak diijinkan berkeliaran jauh-jauh tanpa majikanmu? Lalu, mengapa kau bisa di sini sendiri? Mana majikan kecilmu? Apa kau…? Mm…., melarikan diri?” Dengan kaki pincangnya si kucing kampung mendekat ke tempat Snoopy berdiri.

“Mengapa pertanyaanmu banyak sekali? Bagaimana aku menjawabnya!”

“Oh, maaf aku ….”

“Hihihihi……!” Snoopy tak bisa menahan tawanya melihat wajah si kucing kampung yang merasa bersalah. “Sudahlah, aku hanya bercanda!”

Mata si Kucing Kampung berbinar. Ia bersyukur karena Snoopy tak dendam padanya.

“Kau benar. Aku melarikan diri dari majikanku,” ungkap Snoopy, ia tertunduk lesu.

“Kenapa? Apa dia menyakitimu?”

“Tidak. Aku hanya ingin sepertimu.” Seulas senyum tersungging dari bibir Snoopy. Ia tak mau memperlihatkan kesusahannya pada kucing lain, apalagi pada kucing yang ada di hadapannya, kucing yang mengejeknya kucing lemah dan manja sebulan lalu.

“Sepertiku?” Si kucing kampung mengkerutkan dahinya, menatap heran ke arah Snoopy. Otaknya yang kurang gizi tak mampu mencerna apa maksud dari ucapan Snoopy barusan.

Snoopy kembali menyandarkan tubuhya ke dinding gedung, “Ya. Aku iri melihat kucing kampung seperti kalian,” keluhnya. “Bisa bebas tanpa dikekang, tanpa harus merasakan dimandikan, didandani, dipaksa mengikuti kontes kecantikkan, dipotong kukunya dan segala tek-tek bengek yang membuatku tak nyaman,” papar Snoopy kemudian. Terdengar nada kesal dan sesal di suaranya.

“Hehehe…!” Si kucing kampung terkekeh mendengar ucapan Snoopy. Ia turut menyandarkan tubunhnya di dinding gedung, tepat di samping Snoopy.

“Kenapa kau tertawa? Apa menurutmu itu lucu?” Mata Snoopy memdelik, ia menyangka si kucing kampung melecehkannya.

“Ya, ini lucu, bahkan sangat lucu,” ujar si kucing kampong dengan nada setengah bercanda. “Kau iri pada kehidupanku, sementara aku iri pada kehidupanmu. Aku iri melihat perlakuan manusia pada kucing ras sepertimu, mereka begitu mengistimewakan kucing ras sepertimu. Mereka memberikan segala hal yang terbaik padamu, memberimu makanan mahal, menjamin kesehatanmu, menjaga dan menyayangimu. Tak seperti kucing kampung sepertiku, siapa yang sudi peduli pada kucing kampung yang dekil dan kumuh sepertiku. Mengemis meminta belas kasihanpun mereka tak peduli malah mencapku sebagai kucing garong yang akan mencuri ikannya. Mereka memukul, menghajar, menendang, menjadikanku bahan untuk menakut-nakuti anak kecil, membuang, mencemooh dan menghinaku. Kehujanan, kepanasan, kedinginan dan kelaparan, bahaya dan perkelahian seperti tadi sudah menjadi makananku sehari-hari,” jelasnya panjang lebar. Ia kembali bangkit.

Snoopy terenyuh mendengar cerita si kucing kampung barusan. Ia tertunduk, “Aku mengerti sekarang, apa yang kita lihat indah ternyata tak seindah yang kita rasakan.” Snoopy menyadari, kalau lari dari kenyataan yang ia alami adalah salah.

“Ya, kau benar. Apa yang kita lihat indah belum tentu indah, apa yang kita rasa buruk belum tentu seburuk yang kita pikirkan.”

Snoopy bankit dan melangkah lesu meninggalkan si kucing kampung.

“Kau mau ke mana?” Lagi-lagi si kucing kampung mencoba menghentikan langkah Snoopy.

“Tentu saja pulang ke majikan kecilku, ia pasti sedang menangis sekarang, harus menghadapi kenyataan kalau kucing Persia kesayangannya hilang,” Snoopy menengok ke arah si kucing kampung sekilas, ia tersenyum miris kemudian ia lanjutkan kembali langkahnya.

Si kucing kampong berjalan terpincang-pincang, beruasaha mensejajarkan langkahnya dengan Snoopy, “Apa boleh aku mengantarmu pulang? Mmm, anggap saja sebagai permintaan maafku padamu dan ucapan terima kasihku karena kau telah menyelamatkanku hari ini.”

“Apa kau sedang merayuku sekarang?” Goda Snoopy, ia lempar senyum manisnya dan kerlingan mata lentiknya pada si kucing kampung.

“Hah! Apa?! Ti, tidak, bukan begitu, a.., aku tidak bermaksud …,” si kucing kampung mendadak gelagapan. Ia merasakan getaran aneh dihatinya yang tak pernah ia rasakan sebelumnya saat mendapatkan kerlingan mata lentik Snoopy.

Snoopy kembali terkekeh melihat si kucing kampung salah tingkah dan mengetahui wajahnya bersemu merah. “Kalau begitu, ayo! Tunggu apa lagi!” Ajak Snoopy kemudian.

Mata si kucing kampung kembali berbinar mendengar jawaban Snoopy. Bahkan lebih berbinar dari sebelumnya

“Oh ya, siapa namamu?” Si kucing kampung mencoba memberanikan dirinya untuk bisa lebih dekat dan lebih akrab dengan Snoopy. Merekapun berjalan berbarengan sambil terus bertanya satu sama lain.

Obrolan kedua kucing berbeda jenis ini perlahan hilang, tak terdengar lagi, terseret bersama langkah mereka.