Oleh: Poetry Ann

Puisi bukan hanya milik para penyair. Itulah yang saya pikirkan ketika menghadiri acara bedah buku kumpulan puisi “Tidur Dalam Mimpi” karya Efdi Bahrudin alias Udin Angkot, di acara Nyenyore yang diadakan oleh Rumah Dunia sebagai acara rutin setiap bulan Ramadan, pada Minggu, 21 Juli 2013.

Efdi Bahrudin atau yang lebih akrab disapa Udin Angkot membuktikannya pada kita. Udin angkot, dari namanya kita tentu sudah bisa menebak mengapa dirinya dipanggil dengan nama tersebut. Ya, Udin Angkot adalah orang biasa yang berprofesi sebagai sopir angkot. Tapi ia bukan sopir angkot seperti kebanyakan. Ia adalah sopir angkot yang sadar betul akan pentingnya membaca. Ia mengakui, dari kegemarannya membaca di sela-sela aktifitasnya menarik angkot itulah ia jadi banyak tahu, banyak mendapat pengetahuan, membuatnya lebih peka terhadap lingkungan di sekitarnya,  dan membuatnya termotivasi untuk bisa meraih sukses seperti orang-orang sukses yang kisah hidupnya pernah ia baca .

“Saya banyak membaca tentang pengalaman orang lain yang ternyata bisa mencapai kesuksesannya karena membaca. Jadi saya juga termotivasi buat terus membaca karena saya pun ingin sukses seperti mereka,” ujarnya ketika ditanya motivasi apa yang membuatnya bisa terus berkarya menciptakan puisi.

Kegemarannya membaca pulalah yang pada akhirnya menuntunnya untuk juga menuliskan segala kegelisahan atas apa yang pernah dibacanya, didengarnya, dilihatnya dan  dirasakannya lewat kata-kata yang dirangkainya. Rangkaian kata-kata yang bahkan ia sendiri tak pernah terlalu memikirkan apakah tulisannya itu disebut puisi atau bukan.

Toto ST Radik, selaku pembedah buku kumpulan puisi karya Udin Angkot mengatakan bahwa, Udin Angkot adalah orang yang memiliki kegemaran “berbahaya”, yaitu membaca. Kegemaran “berbahaya” yang dimaksud Toto ST Radik di sini, bisa diartikan sebagai kegemaran “berbahaya” dalam konotasi yang negatif dan positif.

Kegemaran membaca bisa dikatakan “berbahaya” dalam konotasi negatif  ketika apa yang kita baca justru menimbulkan dorongan pada pembacanya untuk melakukan sesuatu yang tidak baik. Tapi bisa dikatakan “berbahaya” dalam konotasi positif ketika kegemaran membaca bisa memotivasi seseorang untuk bisa menjadikan dirinya atau bahkan orang lain jadi lebih baik.

Kegemaran membaca bukanlah kegemaran yang bisa kita anggap remeh dan sepele. Banyak orang yang tergerak menciptakan perubahan berawal dari kegemarannya membaca. Baik menciptakan perubahan untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain di sekitarnya. Udin Angkot adalah salah satunya. Dari puisi-puisi yang ditulisnya, ia membuka pikiran kita bahwa puisi bukan hanya milik para penyair, bukan hanya milik para sastrawan, tapi milik semua kalangan.