Oleh: Poetry Ann

 Anggun mensyukuri lagu “Tua-tua Keladi” yang telah ikut mengantarnya ke jenjang popularitas di Indonesia saat usianya masih 14 tahun. Ia ingat, pertama kali menyanyikan lagu tersebut, bapaknya sempat marah karena lirik lagunya dianggap kurang sesuai dengan usia remaja Anggun. “Waktu itu bapakku paling benci dengan lagu itu. Anakku baru umur segitu disuruh nyanyi lagu kayak gitu,” kata Anggun menirukan sang ayah.

Menjadi penyanyi, kata Anggun, kadang harus juga memikirkan aspek komersial jika ingin dikenal. Setelah mendapat tempat di hati masyarakat, ia boleh membuaat lagu seperti idealismenya.

Ia melihat, kadang ada penyanyi pemula yang belum mendapat nama, tapi tidak ingin bersusah-susah. Mereka malah ada yang pasang standar yang bisa-bisa malah justru menghambat karier.

Anggun memberi contoh penyanyi pemula yang sudah menolak untuk menyanyikan lagu tertentu karena merasa tidak cocok dengan image-nya. “Hah? Image-mu itu belum ada. Kamu, kan, belum dikenal orang. Jalanin saja dulu dan anggaplah sebagai pe-er. Di sekolah dulu kita, kan, bikin banyak pe-er dan kita tidak suka. Namun, setelah itu bisa jadi orang,” memberi saran kepada penyanyi yang baru akan menapak di pentas musik.

Tulisan tentang Anggun di atas, saya tulis ulang dari koran Kompas edisi Minggu, 19 Mei 2013. Alasan mengapa saya menuliskannya kembali di sini, karena ada beberapa perkataannya yang cukup relevan dengan dunia tulis menulis.

Jika kalimat Anggun pada paragraf kedua dan ketiga saya tuliskan ulang dan mengubah beberapa katanya agar pesannya cocok untuk penulis, maka akan menjadi seperti ini:

Menjadi penulis, kata Anggun, kadang harus juga memikirkan aspek komersial jika ingin dikenal. Setelah mendapat tempat di hati pembaca, ia boleh memilih-milih media mana saja yang cocok dengan idealismenya.

Ia melihat, kadang ada penulis pemula yang belum mendapat nama, tapi tidak ingin bersusah-susah. Mereka malah ada yang pasang standar yang bisa-bisa malah justru menghambat karier.

Eits, jangan protes dulu kalau kamu merasa kedua paragraf di atas tidak sama dengan pendapatmu. Setiap orang bebas berpendapat, asal tidak membunuh pendapat orang lain.

Mengapa kedua paragraf di atas saya bilang cukup relevan untuk kita, para penulis pemula? Karena, ada beberapa penulis pemula —yang mau diakui atau tidak— belum punya nama, tulisannya belum “apa-apa”, tapi sudah merasa enggan dan malu mengirimkan tulisan-tulisannya ke media-media yang dianggapnya masih “kecil” dan masih belum “apa-apa”. Bahkan terkadang malah menertawakan, mencibir dan menyepelekan temannya, yang juga sama-sama penulis pemula, ketika tulisannya dimuat di media yang dianggapnya “kecil” dan belum ada “apa-apa” itu.

Padahal, dengan dimuatnya tulisan kita di media, media manapun itu, tetap saja sedikitnya kita jadi memiliki keuntungan. Setidaknya kita bisa memiliki kebanggaan diri karena tulisan kita sudah ada yang pernah dimuat di media, yang minimal sudah melalui proses seleksi di meja redaktur. Bisa dibaca dan bermanfaat untuk orang lain. Meskipun terkadang, kita merasa kecewa dan kurang dihargai karena tidak mendapatkan sepeser pun honor dari media yang memuat tulisan kita, karena memang media tersebut tidak menjanjikan honor.

Tapi semuanya kembali ke masing-masing penulis. Jika memang tujuan kita adalah mendapatkan honor, maka carilah media-media yang memberikan honor kalau tulisan kita dimuat nanti. Tapi kalau tujuannya hanya ingin membagi dan menyebarluaskan tulisan-tulisan kita, ya sepertinya, media yang tak berhonor pun tak ada salahnya kita coba.

Kalau kata salah seorang kawan saya bilang mah, “Lumayan, bisa buat manjang-manjangin curriculum vitae (CV) di biodata dalam tulisan kita nanti.”

Kalimat yang dilontarkannya itu memang lucu, tapi memang benar adanya. Tulisan kita yang dimuat di media, bisa kita sematkan pada biodata profil saat kita kembali mencoba mengirimkan tulisan-tulisan kita ke media lain, ke ajang lomba menulis, atau pada proyek-proyek antologi yang kita ikuti. Setidaknya, orang lain akan tahu kalau tulisan kita tidak hanya mengendap di file-file pribadi.

Selain itu, dengan seringnya tulisan kita termuat di berbagai media, meskipun media itu kecil, atau bahkan media itu adalah note facebook atau blog kita sendiri, minimal akan ada orang lain yang membaca tulisan-tulisan kita lalu mengenal nama kita dan siapa tahu malah justru bisa menjadi pembuka jalan supaya tulisan-tulisan kita dilirik oleh media-media yang lebih besar. Walaupun hal itu tetap saja tidak bisa memberikan jaminan. Karena hal utama agar para pembaca dan redaktur media mau membaca tulisan-tulisan kita adalah dengan memberikan tulisan-tulisan terbaik kita.

Jadi initinya, untuk bisa menjadi penulis hebat yang bisa diperhitungkan, berusahalah untuk terus memperbaiki tulisan-tulisan kita. Terima dengan baik masukan dan kritikan-kritikan dari orang lain selama kritikan tersebut tidak bermaksud menjatuhkan.

Tetap semangat, terus belajar, terus menulis, dan teruslah berbagi lewat tulisan-tulisan terbaik kita! Percayalah, tak ada satu hal pun yang kita lakukan di dunia ini akan terbuang sia-sia. Disadari ataupun tidak, akan selalu ada manfaat yang bisa kita dapat dan kita bagikan untuk orang lain.

Salam! ^^

*Tulisan ini ditulis pada Rabu, tanggal 3 Juli 2013