Oleh: Liong Newton feat Poetry Ann

Keranjang sampah yang sengaja diletakkan di bawah meja belajarnya sudah berjejal gumpalan sampah kertas. Baru sebait puisi yang dibuatnya, dia perhatikan, dia cermati, beberapa detik kemudian diremas-remasnya kertas yang berisi bait puisi tadi lalu dilemparkannya ke keranjang sampah dengan kasar.

Telah belasan kali bahkan puluhan kali Melvi melakukan hal yang sama hingga gumpalan sampah kertas yang diremas-remasnya tadi berceceran di sekitar keranjang sampahnya karena sudah tak mampu lagi menampung gumpalan sampah kertas Melvi.

“AKKHH!!! SIAL! Kenapa sih harus puisi kemerdekaan!” geram Melvi. Akhirnya Melvi bangkit duduk untuk meregangkan sendi-sendi tulang punggung, tangan dan jemarinya setelah selama empat jam ia terus tengkurap, bekerja keras menulis puisi di atas tempat tidurnya.

Melvi melongok jam dinding di kamarnya yang terpasang tepat di atas bagian kepala ranjangnya. Jarum pendeknya menunjuk tepat ke angka sebelas. Melvi baru menyadari kalau empat jam sudah ia berusaha keras menulis puisi untuk persiapan lomba tanggal 15 Agustus nanti. Namun belum juga ia berhasil menuliskan puisinya. Bukan karena ia tak mahir menuliskan puisi, malah sebaliknya. Melvi justru sengaja ditunjuk oleh teman-teman sekelasnya untuk mewakili kelas mereka dalam lomba puisi karena ia dikenal sebagai murid yang lihai dalam menulis puisi. Bahkan puisi-puisinya selalu dimuat di majalah dinding sekolah dan selalu mengundang banyak pujian dari teman-teman dan guru-gurunya, terutama dari para siswinya. Hampir separuh dari jumlah siswi di sekolahnya telah dibuat klepek-klepek oleh puisi ciptaannya. Melvi pun jadi idola di sekolahnya gara-gara puisi-puisi yang ditulisnya.

“Udah ganteng, cute, pinter bikin puisi lagi. Puisi-puisinya itu lho… romantis.. .banget. Bikin gue tambah ngebet aja.” Itu pendapat Tantri, kakak kelas Melvi.

Tapi masalahnya adalah, puisi yang harus dibuat Melvi kali ini berbeda dengan puisi-puisi yang biasa ia buat. Jika biasanya Melvi membuat puisi-puisi romantis yang bertema cinta, cinta, dan cinta, kali ini ia harus membuat puisi dengan tema kemerdekaan. Biasanya Melvi dengan mudah menulis puisi-puisi romantisnya, namun kali ini ia dibikin pusing bukan kepalang karena harus bisa membuat puisi bertema kemerdekaan untuk lomba esok lusa.

***

“Gimana Mel? Puisi lo udah kelar?” todong Muis, ketua kelas Melvi saat Melvi baru saja melangkah masuk ke kelasnya.

“Akh! Kelar pala lo pitak!” Melvi melangkah menuju bangkunya, sementara itu Muis terus saja mengekor di belakangnya dengan tanda tanya besar di kepalanya.

“Maksud lo? Puisinya belum kelar-kelar juga? Aduh…, gimana sih lo, Mel! Lombanya kan besok,” desak Muis.

Melvi duduk di bangkunya. Kemudian Muis menyusul duduk di bangku yang bersebrangan dengan Melvi. “Bukannya biasanya lo lihai banget kalau soal bikin puisi?” kejar Muis.

“Iya! Tapi ini beda, Is.”

“Apanya yang beda?”

“Puisi yang biasa gue bikin itu puisi-puisi romantis, puisi tentang cinta, bukan puisi tentang kemerdekaan.”

“Di mana letak perbedaannya? Toh sama-sama puisi,” Muis ngotot.

“Akh! Enak aja lo ngomong. Gue yang bikinnya pusing!” Melvi kesal.

Tampangnya hari ini tak seceria biasanya. Bebannya sebagai wakil lomba dari kelasnya mengharuskannya membuat puisi yang bertema kemerdekaan membuatnya seperti makan buah simalakama. Kalau ia memutuskan mundur dari lomba puisi itu, artinya ia akan mengecewakan kawan-kawannya yang telah menaruh harapan besar padanya untuk menang dalam lomba puisi nanti. Selain itu, ia pun akan kehilangan reputasinya sebagai penulis puisi yang banyak diidolakan murid-murid cewek di sekolahnya. Dan pada akhirnya orang-orang di sekolahnya hanya akan mengenalnya sebagai penulis puisi picisan. Tapi kalau ia lanjutkan, sampai saat ini ia belum juga berhasil membuat puisi tentang kemerdekaan itu. Idenya buntu. Sementara itu hatinya kesal dengan Muis yang bisanya hanya mendesaknya tanpa mau berusaha membantunya. “Ketua kelas macam apa dia!” batin Melvi, sengit.

“Terserah lo, gue nggak mau tahu, pokoknya besok lo harus udah siap buat lomba puisi itu. Jangan sampe lo malu-maluin kelas kita. Lo tau kan? Selama ini kelas kita tuh selalu juara dalam lomba, jadi lo jangan sampe ngerusak reputasi kelas kita, oke!” pinta Muis, yang lebih tepat disebut  ancaman di telinga Melvi.

Muis beranjak dari hadapan Melvi. Sementara Melvi membisu. Ia tak mengacuhkan ucapan Muis barusan. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Hatinya dongkol pada ketua kelasnya yang sok kuasa itu.

***

“Mas Melvi kok tumben belum pulang? Biasanya kalo bel pulang bunyi, Mas Melvi langsung ngacir bareng temen-temennya. E…, sekarang kok, malah ngelamun di sini, Mas?” sapa Pak Tarno, penjaga sekolah yang bertugas membersihkan toilet sekolah setiap pagi sebelum murid-murid dan guru-guru datang dan setelah mereka semua pulang. Tangannya menenteng ember dan sikat kamar mandi yang biasa digunakannya untuk membersihkan toilet-toilet yang ada di sekolah. “Mas Melvi lagi mikirin ceweknya ya…?” Goda pak Tarno pada Melvi kemudian.

“Nggak kok, Pak. Saya cuma lagi cari inspirasi.”

“Inspirasi? Siapa inspirasi? Cewek baru Mas Melvi lagi? Kok, saya baru tau ada murid yang namanya inspirasi. Murid baru ya, Mas? Pindahan dari mana?” tanya Pak Tarno bertubi-tubi dengan gaya lugunya yang khas.

“Khak..khak…khak….!”  Keluguan Pak Tarno membuat Melvi tak bisa menahan tawanya.

“Heh, bocah gendeng! Wong ditanya bukannya dijawab malah ketawa.”

“Habis, Pak Tarno ada-ada aja.”

Melvi mulai menghentikan tawanya.”Inspirasi itu bukan nama murid baru, Pak.”

“Lha, terus nama apa?”

“Inspirasi itu nama lain dari ide,” jelas Melvi.

“Oalah…..! Wong cari ide kok ya, di depan toilet to’ Mas. Kirain inspirasi itu apa.”

“Pak Tarno, emang biasanya saya tuh kalo nyari inspirasi sambil nongkrong di toilet. Berhubung sakarang perut saya lagi nggak mules jadi saya putuskan nyari inspirasinya cukup sambil nyender di dinding depan toilet aja. Gitu pak…!” timpal Melvi sekenanya.

“O…, gitu…,” Pak Tarno manggut-manggut. Ia percaya saja dengan ucapan Melvi tadi. “Emangnya inspirasi apa yang lagi Mas Melvi cari?” selidik pak Tarno penasaran.

“Mmm…,” Melvi berpikir sejanak. Memikirkan bagaimana cara menjelaskannya pada Pak Tarno agar dia tak salah arti lagi.

“Gini, Pak,” Melvi mengambil ancang-ancang untuk memulai ceritanya. Sementara Pak Tarno terlihat serius memperhatikan.

“Saya mau ikut lomba puisi yang temanya tentang kemerdekaan tanggal 15 Agustus besok. Nah, sampe sekarang saya belum juga bisa bikin puisi yang temanya kemerdekaan itu, soalnya saya biasa bikin puisi-puisi romantis, puisi-puisi cinta. Saya belum pernah bikin puisi tentang kemerdekaan.” Melvi memastikan Pak Tarno mendengarkan penjelasannya sebelum ia meneruskan.

“Nggak mungkin kan, saya bacain puisi cinta yang romantis pas lomba hari kemerdekaan besok? Nggak nyambung sama temanya, Pak.”

Pak Tarno manggut-manggut saja mendengarkan cerita Melvi tadi. Melvi jadi bingung, Pak Tarno manggut-manggut karena mengerti atau mungkin asal manggut-manggut saja. Sampai akhirnya Pak Tarno buka suara.

“Kalo gitu Mas Melvi bikin aja puisi cinta buat negeri kita tercinta ini, Mas!” Pak Tarno nyengir.

“Maksud Pak Tarno gimana?” Kali ini otak Melvi yang dibikin lemot oleh usul Pak Tarno yang terkesan ngasal barusan.

“Gini Mas, Mas Melvi bikin aja puisi cinta kayak biasa Mas Melvi bikin, tapi kali ini ditujukannya buat negeri kita. Bayangkan aja seolah-olah Mas Melvi lagi jatuh cinta sama negeri ini seperti Mas Melvi jatuh cinta sama cewek, gitu Mas. Gimana?” Pak Tarno menyeringai bangga atas ide yang dikemukakannya barusan hingga giginya yang tonggos nongol semua.

Melvi termenung. Ia mencoba menyerap ide Pak Tarno, mencernanya dan, “Brilliant. Benar-benar brilliant!” Melvi kegirangan.

“Thank’s ya Pak Tarno. Pak Tarno bener-bener cerdas. Thank’s…, thank’s ya…, Pak Tarno…!” Saking girangnya Melvi sampai tak sadar kalau ia memeluk Pak Tarno terlalu keras hingga leher Pak Tarno tercekik oleh lengan Melvi yang melingkar di lehernya.

“Ii, ii…, i…, iya Mas. Mas, Mas le, le…, uhuk…! uhuk…! Le, le.., leher saya,” sahut Pak Tarno dengan susah payah.

“O’ya, sorry pak, sorry, sorry, saya nggak sengaja. Saya terlalu giarang. Maaf ya, Pak! Maaf!” mohon Melvi setelah sadar kalau perbuatannya tadi menyakiti Pak Tarno.

“Ng…, ng, nggak pa-pa kok, Mas. Nggak pa-pa.” Pak Tarno mencoba mengatur napasnya yang masih sesak karena himpitan lengan Melvi tadi.

“Ya udah deh pak kalo gitu saya pulang dulu. Makasih ya Pak buat idenya…!” Seru Melvi sambil lari ngacir meninggalkan Pak Tarno yang masih merasa sesak.

***

            Aku cinta bau tanah basah kelahiranku
            Kau elok bagai bunga yang memerah
            Darahku darahmu satu dalam kain kebangsaan
            Terimakasih bambubambu runcing pelebur duka
            Aku cinta tanah airku
            Saksi aku dilahirkan karena kasih.

 

Riuh tepuk tangan terdengar memenuhi lapangan sekolah saat Melvi menyelesaikan pembacaan bait terakhir puisinya yang ia beri judul ‘Puisi Cinta Untuk Negeriku’.

Pada lomba baca puisi yang diadakan pada tanggal 15 Agustus kemarin, Melvi berhasil keluar sebagai juara satu mewakili kelasnya, dan akhirnya Melvi didaulat untuk membacakan puisi ciptaannya itu pada hari ini. Tepat pada hari perayaan hari ulang tahun negerinya.

Setelah selesai membacakan puisinya, ternyata Melvi tidak lekas turun dari podium.

“Terima kasih atas tepuk tangannya. Tapi, sebenarnya ada orang yang lebih berhak atas tepuk tangan dan pujian teman-teman semua.”

Para siswa dan siswi, tak ketinggalan juga para guru yang hadir memenuhi lapangan siang itu mulai sibuk kasak-kusuk mendengar pernyataan Melvi barusan.

“Seseorang yang telah memberikan ide pada saya sehingga saya bisa menciptakan puisi ini,” lanjut Melvi tak mempedulikan kasak-kusuk yang terjadi.

“Seseorang yang selama ini kita anggap remeh, tapi justru dari dialah saya mendapatkan ide briliant untuk membuat puisi ini. Beliau telah menjadi pahlawan buat saya. Bukan hanya buat saya , tapi juga buat teman-teman semua. Selama ini kita tidak menyadari kalau sebenarnya beliau telah menjadi pahlawan buat kita semua. Bahkan mungkin beliau sendiri pun tidak menyadari kalau dirinya yang telah melakukan pekerjaannya dengan baik membuatnya jadi pahlawan. Meskipun mungkin kita menganggap rendah pekerjaannya.” Melvi diam sejenak.

Suasana di lapangan menjadi hening. Semuanya secara hidmat mendengarkan perkataan Melvi.

“Orang yang tanpa kita sadari selama ini telah menjadi pahlawan buat kita semua, khususnya buat saya, karena ide puisi ini lahir dari dirinya. Beliau adalah Pak Tarno, penjaga sekolah kita. Tepuk tangan untuk Pak Tarno!” seru Melvi. Ia mengomandoi teman-temannya untuk bertepuk tangan.

Sedetik kemudian, teman-temannya beserta juga guru-gurunya mengalihkan pandangannya ke arah Pak Tarno. Sementara orang yang dibicarakan sejak tadi berdiri di deretan paling belakang bengong menyaksikan tepuk tangan dan beratus pasang mata yang tertuju padanya. Melvi sengaja meminta Pak Tarno menyaksikan dirinya membacakan puisi yang ditulisnya, yang idenya datang darinya.

Meski canggung karena ini pertama kalinya Pak Tarno mendapatkan penghargaan yang sebegitu besarnya, akhirnya Pak Tarno pun membalas tepuk tangan dan penghargaan itu dengan senyum polosnya. Dia tak tahu harus bersikap bagaimana.

“Terima kasih, terima kasih…,” ucapnya sambil membungkuk-bungkuk menirukan orang Jepang memberi salam, seperti yang pernah dilihatnya di tivi-tivi.