Oleh: Poetry Ann

Semoga tulisan ini bermanfaat buat yang baca. Yang nggak mau baca, ya nggak usah dibaca. 

Tahun 2012 lalu saya mendapatkan buku yang diberikan secara gratis ketika menghadiri acara bedah buku di Rumah Dunia. Bedah buku apa tepatnya saya sudah lupa. Buku yang dibagikan secara gratis itu berjudul “Read Aloud Magic” karya Susan Frankenberg.

Beberapa bulan lamanya buku itu hanya menjadi pajangan di lemari, karena waktu itu, jujur saja saya merasa sama sekali tidak tertarik dengan buku bersampul hijau-putih dengan foto sebuah keluarga, yaitu seorang ibu dan ayah yang tengah membacakan sebuah buku kepada anaknya itu. Apalagi tercantum juga kalimat “Bakrie Telcom mempersembahkan” di situ, yang membuat saya semakin tak tertarik.

Sampai akhirnya, dua minggu yang lalu, ketika saya tengah mencari-cari sebuah buku yang ingin saya baca, saya kembali menemukan buku tersebut. Dan entah kenapa saya jadi merasa penasaran ‘apa sih isi buku ini’?

Selang beberapa menit, setelah saya merobek plastik pelindungnya kemudian mebolak-balik bukunya beberapa kali, lalu membacanya sekilas-sekilas pada beberapa bab, sampai akhirnya saya menemukan sebuah kalimat yang membuat saya mulai tertarik untuk membacanya dari awal. Kalimat yang saya temukan itu berbunyi:

“Segala hal yang ingin kuketahui dapat ditemukan di dalam buku. Sahabat sejatiku adalah dia yang memberiku sebuah buku yang belum pernah kubaca.”
-Abraham Lincoln-

Saat itu juga saya mulai membacanya dan saya mulai menyukainya. Dan semakin menyukainya ketika saya tahu kalau buku tersebut benar-benar sangat bermanfaat bagi siapapun. Baik bagi saya, orang tua, pengajar, lebih-lebih lagi bagi anak.

Buku ini berisi tentang pentingnya mengenalkan kegiatan membaca pada anak-anak. Dan pengenalan kegiatan membaca tersebut dimulai dari orang tua dan orang-orang dewasa yang berada di sekitar lingkungan anak dengan teknik ‘read aloud’ tadi.

Read aloud adalah salah satu teknik menanamkan minat dan kebiasaan membaca pada anak dengan cara yang menyenamgkan. Dengan cara mulai membacakan buku yang tentunya cocok untuk usia anak Anda seperti layaknya mendongeng, yang dilakukan minimal selama 10 menit saja perharinya. Cara ini bisa diterapkan di mana saja dan pada usia anak berapapun, bahkan pada bayi yang baru lahir dan anak remaja sekalipun.

Banyak sekali manfaat yang didapatkan dari kegiatan ‘read aloud’ ini, selain kita bisa memulai mengenalkan kebiasaan membaca pada anak, kegiatan ‘read aloud’ ini juga secara tidak langsung bisa membangun kedekatan dan keharmonisan hubungan antara orang tua dengan anak, kakek-nenek dengan cucu, pengajar dengan murid atau seorang kakak dengan adiknya.

Karena itu, tadi pagi, ketika adik saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar tengah membahas tentang apa yang telah dibacanya dari sebuah buku, secara perlahan saya mulai mencoba melakukan kegiatan ‘read aload’ ini bersamanya. Tentu saja dengan cara yang tidak terkesan seperti tengah memaksanya untuk melakukan kegiatan ini.

Awalnya saya cuma mengajaknya untuk saling membacakan sebuah tulisan yang ada pada sebuah buku secara bergantian selama lima menit. Lima menit pertama sayalah yang membacakan untuknya dan dia yang mendengarkan. Lima menit berikutnya, gantian dia yang membacakannya dan saya yang mendengarkan.

Pada saat gilirannya membaca, belum sampai lima menit dia sudah berhenti membaca. Dia bilang “Teteh aja yang bacain buat Nini, biar Nini yang dengerin. Nininya capek.”

Saya tertawa dan menyanggupi permintannya itu. Saya pikir inilah waktunya saya mempraktekan ‘read aloud’ padanya. Maka saya pun meraih sebual novel anak berseri yang berjudul “Animorphs” dan mulai membacakannya untuk dia, tapi dengan satu syarat. Saya bilang padanya, akan saya bacakan cerita ini setiap hari sampai selesai, tapi setelah saya selesai membacakan buku itu untuknya, saya memintanya untuk menceritakan ulang cerita dalam buku yang sudah saya bacakan tersebut. Dia pun menyanggupinya.

Dengan cara itu setidaknya saya bisa tahu apakah dia benar-benar menyimak apa yang saya bacakan atau tidak.

Saya pun mulai membacakannya sambil sesekali sengaja berhenti setiap kali saya menemukan kata dari bahasa asing atau kata yang mungkin saja baru dia kenal, menanyakan apakah dia mengetahui arti kata tersebut atau tidak. Ketika dia menjawab tahu, maka saya memintanya untuk menjelaskan arti kata tersebut, tapi ketika dia menjawab tidak tahu, maka sayalah yang berusaha memberitahukan arti kata tersebut kepadanya sampai akhirnya dia mengerti.

Saya juga sesekali sengaja menyalahkan bacaan saya, seperti ketika saya membaca kata ‘berdiri’ saya baca ‘berdili’. Hanya untuk mengetes saja apakah dia benar-benar mendengarkan apa yang saya baca atau tidak. Ternyata dia benar-benar mendengarkannya. Terbukti, ketika beberapa kali saya salah baca, dengan segera dia memotong saya dan memprotes kalau apa yang saya baca tadi salah, lalu dia yang membetulkannya. Sambil tertawa saya pun kembali membaca ulang kalimat yang sengaja saya buat salah tadi dan membetulkannya.

Saya melakukan ini bersamanya dengan suasana santai, bahkan sambil bercanda dan sesekali tertawa ngakak ketika saya membacakan sebuah dialog yang terkesan lucu dari tokoh dalam novel tersebut atau ketika saya memintanya untuk pura-pura ikutan jatuh ketika ada adegan jatuh atau apa pun yang berhubungan dengan itu, yang dialami si tokoh dalam novel. Atau sambil bermain tebak-tebakan, dengan cara menghentikan kegiatan saya membacakan untuknya pada sebuah adegan lalu memintanya untuk menebak apa kira-kira yang akan terjadi pada si tokoh setelah itu.

Cara seperti ini ternyata memang cukup menyenagkan. Karena selain bisa menanamkan minat baca pada adik saya, saya juga bisa bercanda dan tertawa bersama dengannya seperti layaknya antar sesama teman yang tengah saling bercerita atau curhat.ūüėÄ

Kalau nggak percaya cobalah!

Meski saya tidak tahu sampai kapan kegiatan ‘read aloud’ ini akan berlangsung, tapi setidaknya saya sudah mencoba memulainya untuk adik saya.