Oleh: Poetry Ann

 

“Seorang penyair yang berhasil adalah ia yang mampu menciptakan keajaiban dalam puisinya.”

-Francesco Patrizi (Filsuf dan Penyair di era Renaissance)-

Kata keajaiban dalam kalimat Francesco yang saya sitir untuk membuka tulisan ini saya artikan bukan sebagai keajaiban seperti yang sering kita lihat dalam film-film fantasi seperti Harry Potter atau Lord of the Ring, yang mampu mengubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain dengan sebuah mantra. Keajaiban yang saya tangkap di sini adalah keajaiban yang lebih bisa diterima logika. Keajaiban dalam bentuk lain yang bukan sekedar utopia. Yaitu keajaiban ketika sebuah puisi yang kita ciptakan memiliki kemampuan untuk bisa menyentuh ke kedalaman hati pembacanya.

Tanpa mengenyampingkan penyair hebat lainnya, saya mencoba menuliskan keajaiban yang saya temukan pada puisi-puisi keempat penyair dari empat generasi yang dianggap telah mendeviasikan puisi-puisinya dari puisi-puisi para penyair lain di zamannya.

Afrizal Malna yang memiliki kecenderungan yang jelas terlihat berbeda dari para penyair lain, meski tidak sepenuhnya. Karena bagaimanapun, karya seseorang akan selalu ada kemungkinan terpengaruh oleh karya-karya para pendahulunya, lewat bacaan-bacaan yang pernah dilahapnya. Dan hal itu diakuinya dalam esainya yang dimuat di koran harian Kompas, Minggu, 17 Maret 2013 lalu. Bahwa puisi yang dikutip oleh Geger Riyanto dalam esainya yang juga dimuat pada koran harian yang sama seminggu sebelumnya, bahkan masih merupakan bagian dari mainstream puisi Indonesia setelah Chairil Anwar, yang begitu sulit ia tinggalkan.

Dalam puisi-puisinya, Afrizal Malna banyak mempersonifikasikan berbagai peristiwa dan produk kehidupan urban yang sebenarnya sama sekali tidak memiliki unsur puitik jika saja diksi-diksi tersebut dipisahkan dari tubuh puisi yang diciptakannya.

Simak saja pada beberapa larik puisinya yang berjudul “Aku Setelah Aku” berikut ini: Aku berdiri sebagai sebuah reruntuhan, atau, mungkin sebagai//reruntuhan yang duduk di depan monitor kesunyian. Gelombang-//gelombang memori masih bergerak, seperti mesin scanner yang//mondar-mandir di atas keningku.

Dalam larik tersebut ada beberapa diksi seperti, reruntuhan, monitor, gelombang-gelombang dan mesin scanner, yang jika dipisahkan dari keseluruhan puisinya, dianggap tidak memiliki kekuatan puitik. Hingga bagi kebanyakan penyair, diksi-diksi seperti itu jarang digunakan. Tapi Afrizal Malna menggunakannya, dan berhasil mempersonifikasikannya hingga membuat diksi-diksi semacam itu menyatu menjadi sebuah puisi, yang meski sering dianggap sulit dipahami namun tetap bisa ditemukan keselarasan unsur puitik dan musikalitasnya sendiri. Yang membuat keseluruhan isi puisi tetap sedap dinikmati meski sebagai pembacanya saya belum bisa memahami sepenuhnya makna dari puisi-puisi yang diciptakan Afrizal Malna tersebut.

Afrizal Malna melakukan penyimpangan yang membuatnya memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari para penyair lain segenerasinya. Jika kebanyakan penyair segenerasinya lebih sering mempersonifikasikan suasana dan keadaan alam seperti; ladang-ladang, gunung gemunung, bintang gemintang, lautan, ombak, rerumputan, bebunga, reranting, dedaunan, perahu layar dan sebagainya. Afrizal malna justru memilih mempersonifikasikan benda-benda produk zaman modern seperti; mesin scenner, toko barang bekas, mesin tik, kipas angin, mesin foto copy, balok-balok es, botol infus, mentega, tali sepatu, tas koper, rekening bank, pisau bedah dan sebagainya. Afrizal Malna juga tak segan menggunakan diksi-diksi yang umumnya digunakan dalam ilmu geologi, ilmu kedokteran ataupun ilmu-ilmu lain diluar dunia perpuisian seperti; gravitasi, radius, representasi, antar benua, dekonstruksi, arsitektur, mengaborsi dan lainnya.

Acep Iwan Saidi, dalam esainya yang dimuat di Khasanah, Pikiran Rakyat (Minggu, 16 Mei 2010) mengatakan: Dalam perkembangan kesusastraan Indonesia Afrizal Malna dapat ditandai sebagai satu noktah tersendiri sebagaimana juga Amir Hamzah, Chairil Anwar dan Soetardji Calzoum Bachri pada zamannya masing-masing. Noktah itu adalah sebuah deviasi, sebuah titik yang membuat bingkai jadi retak lalu ia keluar: menyimpang sendiri.

Seperti juga Sutardji Calzoum Bachri yang melakukan deviasi di zamannya, yaitu generasi angkatan ’66. Di mana dalam kredonya ia mengatakan tentang konsepsinya mengenai kata yang hendak ia bebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikan pada fungsi kata sebagaimana dalam sebuah mantra. Meski beberapa kritikus sastra ada yang mengatakan bahwa pengembalian kata pada fungsinya sebagaimana dalam sebuah mantra, juga pernah dilakukan sebelumnya oleh Chairil Anwar, melalui puisinya yang berjudul “Cerita Buat Dien Tamaela”.

Karena itu tak heran jika pada puisi-puisinya kita akan menemukan permainan kata yang menyerupai sebuah mantra. Yang tak jarang sulit untuk menemukan intonasi yang tepat agar puisi-puisinya terdengar asik dan menarik saat hendak dideklamasikan jika orang tersebut belum benar-benar mamahami apa makna dari puisinya. Seperti pada beberapa larik dalam puisinya yang berjudul “O” berikut ini: dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau//resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian//raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian//mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai//siasiaku siasiakau siasia siabalau siarisau siakalian siasia//waswasku waswaskau waswaskalian//waswaswaswaswaswaswaswaswaswas//.

Pada generasi angkatan ’45, deviasi dalam puisi juga dilakukan oleh Chairil Anwar yang dianggap sebagai pembaharu sekaligus pendobrak, yang juga sering disebut sebagai pelopor angkatan ’45. Dengan menghasilkan karya-karya yang mempergunakan kata-kata padat dalam tiap larik puisinya. Yang terkadang melompat, keluar dari jalur bahasa-bahasa baku tapi tetap sarat makna. Bahkan tak jarang ia memeras dan menghilangkan imbuhan dan kata sambung yang seharusnya -jika dalam bentuk sebuah prosa- dicantumkan. Seperti pada larik pertama dalam puisinya yang berjudul “Hukum” berikut ini: Saban sore ia lalu depan rumahku. Yang sebenarnya bisa dituliskan begini: Saban sore ia lalu di depan rumahku. Atau pada larik pertama dalam puisi berjudul “Kawanku dan Aku” versi kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus berikut ini: Kami jalan sama. Yang sebenarnya bisa saja ditulis begini: Kami berjalan bersama atau kami jalan bersama-sama.

Selain itu, banyak juga di antara puisi-puisinya yang sampai saat ini masih dibahas. Baik oleh kritikus sastra maupun para penyair setelahnya karena menganggap karya-karya Chairil sulit untuk diuraikan. Namun dibalik itu puisi-puisi Chairil dengan sendirinya mampu memunculkan mainstream yang terus melekat pada para penyair setelahnya yang mencermati, meneliti dan mengupas karya-karyanya. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Afrizal Malna dalam esainya. Bahkan tak sedikit para penyair setelahnya yang masih terpengaruh gayanya. Hingga memciptakan bentuk-bentuk baru yang memperkaya khasanah kesusastraan Indonesia.

Terlihat sekali kata-kata yang dituangkannya pada karya-karyanya benar-benar kata-kata yang sudah melalui proses kontemplasi. Yang juga tentu ia dapatkan setelah membaca situasi dan kondisi kehidupan sekitar pada zamannya maupun dari karya-karya para pendahulu yang pernah dibacanya. Baik dari para pendahulunya yang ada di dalam maupun luar negeri.

Pada tahun empat puluhan, setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930-1942) yang lebih dikenal dengan sebutan angkatan Pujangga Baru, deviasi pada puisi dilakukan oleh penyair yang ditahbiskan sebagai “raja” penyair Pujangga Baru oleh H.B. Jassin pada tahun 1986, yaitu Teungku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera. Yang lebih dikenal dengan nama Amir Hamzah.

Puisi-puisi karya Amir Hamzah dianggap telah memperbaharui dan memberi kesan serta nuansa modern terhadap puisi-puisi melayu yang berima dan bersifat pantun, yang marak di zamannya saat itu. Karya-karyanya dianggap sebagai bentuk puisi hasil pengkolaborasian yang dipengaruhi oleh beberapa gaya karya sastra luar dengan karya sastra melayu. Di antaranya dari karya sastra Belanda, Timur Tengah, India, Persia dan beberapa karya sastra lainnya yang ia pelajari.

Dengan tangannya ia mampu menghasilkan puisi-puisi hasil perpaduan dari budaya melayu dengan beberapa budaya luar melayu yang menciptakan gaya dan bunyi yang unik. Yang tidak hanya menitikberatkan pada keselarasan rima yang bersifat pantun. Tapi juga menitikberatkan pada penggunaan-penggunaan gaya baru hingga puisi-puisinya terkesan lebih modern meski tetap menggunakan rima khas melayu.

Simak saja puisinya yang berjudul Padamu Jua berikut ini:

Padamu Jua

 

Habis kikis

Segala cintaku hilang terbang

Pulang kembali aku padamu

Seperti dahulu

 

Kaulah kendil kemerlap

Pelita jendela di malam gelap

Melambai pulang perlahan

Sabar setia selalu

 

Satu kekasihku

Aku manusia

Rindu rasa

Rindu rupa

 

Di mana engkau

Rupa tiada

Suara sayup

Hanya kata merangkai hati

 

Engkau cemburu

Engkau ganas

Mangsa aku dalam cakarmu

Bertukar tangkap dengan lepas

 

Nanar aku, gila sasar

Sayang berulang padamu jua

Engkau pelik menarik ingin

Serupa dara dibalik tirai

 

Kasihmu sunyi

Menunggu seorang diri

Lalu waktu – bukan giliranku

Mata hari – bukan kawanku

 

Dari puisinya yang berjudul Padamu Jua tersebut, dapatlah kita lihat sendiri bahwa meski pada beberapa larik dan baitnya tetap menggunakan rima luar (persamaan bunyi di akhir larik). Seperti pada bait pertama di larik ketiga dan keempat, pada bait kedua di larik pertama dan kedua, pada bait ketiga di larik kedua, ketiga dan keempat, pada bait kelima, dan pada bait terakhir. Tapi dari keseluruhan isi puisi Amir Hamzah tersebut, sifat pantun yang biasanya melekat pada puisi atau sajak-sajak lama sudah mulai tak begitu kentara.

Chairil Anwar bahkan pernah mengatakan bahwa karya-karya Amir Hamzah adalah merupakan “destruktif untuk bahasa lama, tapi sinar cemerlang untuk gerakan bahasa baru”.

Meski begitu, baik deviasi yang dilakukan oleh Afrizal Malna dengan karya-karyanya yang terkesan mengejawantahkan peristiwa dan produk-produk kehidupan urban, Sutardji Calzoum Bachri dengan karya-karya yang diakuinya sebagai pembebasan kata dari kungkungan pengertian dan mengembalikannya pada mantra, Chairil Anwar dengan perasan kata-katanya yang terkadang menyalahi aturan tata bahasa dan Amir Hamzah dengan karya-karya melayunya yang ia kolaborasikan dengan berbagai karya sastra di luar melayu. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang ada pada keempatnya, tetap mampu memberikan rasa dan nuansa yang bukan merusak tapi malah meneruskan dan memperluas lingkup khasanah kesusastraan di negeri ini. Negeri Indonesia yang menunggu deviasi-deviasi lanjutan dari para penyair generasi berikutnya.